Yulita Sirken, S.T.P. : Meraup Laba Mocaf

Filed in Majalah, Muda by on 12/08/2019

Aneka penganan berbahan mocaf kreasi Yulita Sirken bermerek Adli Food.

Merintis pengembangan dan pemasaran mocaf di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua.

Yulita Sirken, S.T.P. memelopori pengembangan mocaf di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua, sejak 2016.

Berhenti bekerja sebagai akuntan di perusahaan asing yang bergerak di industri kelapa sawit, penghasilan Yulita Sirken, S.T.P. justru meroket 100%. Pendapatan Lita—sapaan akrab Yulita Sirken—meningkat bukan karena memperoleh pekerjaan yang lebih baik di perusahaan baru. “Saya memproduksi tepung singkong termodifikasi atau modified cassava flour (mocaf) dan menjual aneka penganan berbahan mocaf,” kata Lita.



Semula produsen di Desa Salorindah, Distrik Kurik, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua, itu hanya menghasilkan 10 kg mocaf per bulan. Namun, dua tahun berselang kini Lita memproduksi 300—400 kg mocaf saban bulan. Rekening tabungan Lita bertambah Rp8 juta—Rp13 juta per bulan dari hasil penjualan mocaf dan ratusan bungkus aneka penganan berbahan mocaf setiap bulan.

Prospektif

Lita membikin aneka olahan berbahan mocaf sejak awal 2017. Tujuannya agar mocaf lebih memasyarakat karena termasuk barang baru di Kabupaten Merauke saat itu. Penggunaan mocaf dalam penganan bervariasi. Penganan berbahan dasar 100% mocaf yakni keripik tahu dan keripik maestro (perpaduan singkong dan ikan gabus). Kandungan 70—80% mocaf terdapat dalam sagon dan rempeyek.

Keunggulan mocaf dibandingkan dengan terigu yaitu tidak mengandung gluten serta berserat dan berkalsium tinggi.

Konsumen mocaf kreasi Lita antara lain pengusaha produsen kue dan ibu rumah tangga di Merauke. Menurut Lita mocaf sama seperti tepung lainnya. Bedanya penganan berbahan mocaf lebih renyah daripada produk sejenis yang terbuat dari terigu. Oleh karena itu, lazimnya produsen penganan menambahkan bahan perenyah untuk camilan berbahan terigu.

Peneliti mocaf di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, Bogor, Jawa Barat, Dr. Misgiyarta, S.P.,M.Si., mengatakan keunggulan mocaf dibandingkan dengan terigu antara lain tidak mengandung gluten serta berserat dan berkalsium tinggi. Lita mengandalkan singkong lokal berumur maksimal 9 bulan sebagai bahan baku mocaf. Syarat singkong lainnya yakni berwarna putih, tidak beracun, dan tidak berkayu.



Tahap awal membuat mocaf meliputi pengupasan, pencucian, dan perajangan singkong. Selanjutnya pekerja merendam irisan umbi anggota famili Euphorbiaceae itu dalam air berisi Starter Bimo CF selama 12 jam. Starter Bimo CF berfungsi memfermentasi singkong sehingga sifat alaminya (struktur pati, warna tepung, dan cita rasa) termodifikasi. Fermentasi salah satu tahap penting memproduksi mocaf.

Setelah perendaman, pekerja membilas dan meniriskan irisan singkong menggunakan alat pres. Tujuannya agar air cepat keluar. Lalu ia meletakkan irisan imanoka—sebutan singkong di Jepang—dalam para-para dan menjemurnya 2—3 hari. “Singkong siap digiling jika mudah patah saat diraba,” kata perempuan berumur 29 tahun itu. Kemudian Lita mengayak tepung itu menggunakan mesh 80 dan mengemas mocaf dalam kemasan 250 g—500 g.

Penghargaan

Lita tertarik memproduksi mocaf lantaran Merauke dicanangkan sebagai lumbung pangan nasional. Selain padi, singkong komoditas lain yang bisa dikembangkan dan sesuai lahan di Merauke. Pengolahan umbi kerabat jarak itu pun mesti mendapatkan sentuhan teknologi. Alasan lain memproduksi mocaf yaitu kebutuhan tepung di Merauke sangat tinggi. Sayangnya saat itu belum tersedia tepung lokal berbahan komoditas daerah setempat.

Syarat singkong segar sebagai bahan baku mocaf yakni tidak beracun, tidak berkayu, berwarna putih, dan berumur 8—9 bulan.

Ia juga meyakini mocaf lebih menyehatkan daripada terigu karena tidak mengandung gluten sehingga aman untuk penderita autisme dan diabetes melitus. Perkenalan Lita dengan mocaf berkat informasi dari sang suami, Suyatmadi. Pada pengujung 2016 Suyatmadi yang saat itu bekerja sebagai wartawan meliput pelatihan mocaf di Dinas Pertanian Kabupaten Merauke.

Mengikuti beragam pameran salah satu cara Yulita Sirken memasarkan mocaf dan olahannya.

Saat itu Misgiyarta menjadi narasumber kegiatan itu. “Kami tertarik memproduksi mocaf karena lazimnya tidak ada kelanjutan dari pelatihan seperti itu. Kebetulan narasumber acara berkenan membantu kami,” kata alumnus Fakultas Pertanian, Universitas Musamus Merauke, Papua, itu. Kesuksesan Lita mengembangkan mocaf di tanah Papua tidak semudah membalik telapak tangan.

Banyak aral yang mesti dihadapi dan diselesaikan. Ia tidak memproduksi mocaf ketika musim hujan. Alasannya pengeringan singkong masih mengandalkan sinar matahari. Selain itu ia juga berhenti membikin mocaf jika harga singkong terlampau tinggi sehingga ongkos produksi membengkak. Lazimnya harga singkong lebih mahal setiap pergantian musim hujan ke kemarau, yakni Rp 6.000 per kg.

Tantangan berat lainnya yakni mengubah perilaku masyarakat yang semula memakai tepung terigu beralih ke mocaf. Lita meyakini peluang bisnis mocaf di Merauke relatif bagus. Itu terbukti dari permintaan pasar dan respons konsumen relatif baik. “Semua tergantung kita yang mesti lebih giat memproduksi, mengolah, dan mempromosikan. Lebih bagus jika didukung dengan kebijakan pemerintah yang berpihak pada pengembangan pangan lokal seperti mocaf,” kata Manajer Inkubator Bisnis Teknologi Universitas Musamus, Merauke, itu.

Kegigihan Lita mengembangkan mocaf di Merauke diapresiasi berbagai pihak. Yang paling anyar ia menjadi finalis 20 besar Citi Microentrepreneurship Awards 2018—2019. Sebelumnya Lita termasuk 50 wirausaha muda dalam Pelatihan Kewirausahaan Sosial Wirabangsa pada 2018. (Riefza Vebriansyah)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software