Yanto Suwendi, Nepenthes Deja Vu

Filed in Tanaman hias by on 04/06/2010 0 Comments

Zhu long chao yang dikenal Yanto pada 1980-an itu hibrida coccinea. Itu silangan N. rafflesiana x  N.  ampullaria dengan N. mirabilis. Tanaman yang dibawa oleh Wendi Haris – ayah Yanto – itu mengeluarkan kantong merah tua. Bentuknya memanjang dan berpinggang. Sedangkan yang ia lihat di pameran berupa N. ventricosa berkantong merah muda, N.  ampullaria berkantong membulat, dan N.  eustachya berkantong hijau muda.

‘Saya juga baru tahu nepenthes banyak jenisnya,’ kata Yanto. Pertemuan kembali dengan kantong semar pada pertengahan Agustus 2004 itu bak nostalgia dengan teman lama. Kepala sekolah sebuah sekolah swasta di Jakarta itu juga sedikit bangga karena nepenthes yang tengah tren itu dikenalnya sejak 24 tahun silam. ‘Yang paling mengharukan, saya jadi teringat pada perjalanan ayah ke luar negeri puluhan tahun silam,’ tambah kelahiran Bandung 1951 itu.

Paling lengkap

Sejak pertemuan 6 tahun silam itu Yanto tertantang memelihara nepenthes. Ia sudah punya hibrida coccinea dan gentle. Jenis lain jadi incaran. Dan perburuan pun dimulai. Mengunjungi pemeran tanaman hias menjadi acara wajib. Berselancar di dunia maya selama berjam-jam dilakoni supaya bisa mendapat nepenthes dari nurseri bertaraf international. Sebut saja Borneo Exotic (Sri Lanka), Wistuba (Jerman), dan Exotic Plant (Australia).

Setiap ada kerabat plesiran ke Hongkong, Thailand, maupun Jerman ia titipi untuk membawa nepenthes. Hingga kini, terkumpullah 85 spesies dan 100 hibrida di rumah peristirahatannya nan asri di Cipanas, Cianjur, Jawa Barat. Trubus melihat spesies langka seperti N. clipeata, N. klosii, dan N. rigidifolia ada di sana. Pun hibrida idaman para pencinta nepenthes seperti turunan N. ventricosa dan N. lowii dari Exotic Plant. Pantas M Apriza Suska, pemain senior di Bogor, Jawa Barat, menyebut koleksi Yanto terlengkap di tanahair.

Semua nepenthes – asal dataran tinggi, menengah, dan rendah – tumbuh sehat dan rajin berkantong di dalam rumah tanam yang nyaman. Rumah tanam berukuran 12 m x 4 m dilengkapi sistem pengabutan yang disetel otomatis. Dari ujung nozel titik-titik air menyembur 24 kali sehari. Dengan begitu rumah tanam selalu lembap dengan suhu 25oC pada siang hari – kondisi nyaman buat hidup ketakung. Yanto pun tak perlu khawatir entuyut koleksinya merana meski disambangi seminggu sekali.

‘Saya juga beruntung iklim Cipanas cocok untuk nepenthes,’ kata pria yang hobi mengamati gugusan bintang dari teleskop itu. Tak heran rumah tanamnya kerap menjadi ruang Intensive Care Unit (ICU) untuk nepenthes milik rekan-rekannya. Di sana ketakung yang merana tinggal sementara untuk dipulihkan.

Silangan sendiri

Pria dari keluarga pengusaha tekstil itu juga kerap ‘menjenguk’ entuyut ke alam seperti di Sumatera dan Kalimantan. ‘Saya sedih melihat habitat nepenthes yang terancam hilang karena pembakaran hutan dan pembukaan lahan. Makanya usaha konservasi melalui budidaya perlu dilakukan,’ kata anggota Komunitas Tanaman Karnivora Indonesia itu.  Tak hanya bicara, Yanto juga membuktikan. Nepenthes koleksi mayoritas dari hasil budidaya.

Pak guru yang menularkan hobi nepenthes pada murid-muridnya itu juga rajin menyemai biji yang muncul dari periuk monyet koleksi.  Dengan begitu didapatlah anakan-anakan baru. Bahkan sejak 4 tahun terakhir, bersama Jarwoto – karyawannya – Yanto menyilangkan nepenthes.

‘Dari 7 kali menyilangkan, ada 3 yang mulai jadi,’ kata Jarwoto. Contohnya silangan N. ventricosa dan N. adrianii.  Bentuk kantongnya mirip N. ventricosa dan warna semerah N. adrianii.  Kehadiran mereka kian membuat Yanto selalu ingin datang meski harus menempuh jarak 100  km dari Jakarta menuju Cipanas. (Nesia Artdiyasa)

 

 

 

 

 

Powered by WishList Member - Membership Software