Yang Muda yang Bertani

Filed in Komunitas, Majalah by on 12/08/2019

Anggota Kelompok Wanita Tani Cumantel generasi milenial.

Para remaja bergabung dalam komunitas bertani.

Serumpun bawang merah tumbuh subur di ember yang berderet-deret rapi. Jumlahnya mencapai 240 buah. Tanaman anggota famili Liliaceae itu tumbuh di media serbuk sabut kelapa atau cocodust. Kelompok Wanita Tani (KWT) Cumantel yang membudidayakan sayuran umbi dengan teknologi hidroponik dutch bucket.  Sistem budidaya itu menekankan pada sirkulasi dan efesiensi penggunaan air.

Para remaja

Bibit bawang merah yang baru ditanam oleh KWT Cumantel.

Menurut Charlie Tjendapati yang mendesain perangkat hidroponik menanam bawang merah dengan sistem hidroponik lebih sulit. “Bawang merah lazim tumbuh di tempat kering. Sistem hidroponik jutru banyak air. Tetapi jika menggunakan dutch bucket dengan sistem tergenangi air tanaman akan busuk,” ujar Charlie. Oleh karena itu, Charlie mengombiansikan sistem dutch bucket dengan sistem sumbu atau wick system.



Perpaduan dua teknologi itu memungkinkan akar bawang merah tidak langsung tergenang dalam larutan nutrisi. “Tantangan besar bagi KWT Cumantel, karena belum pernah ada yang menanam bawang merah secara masif menggunakan hidroponik,” kata Charlie. Penanaman bawang merah dengan teknik hidroponik itu kali pertama bagi KWT Cumantel. “Perkiraan produktivitas bawang merah per rumpun 375—500 gram untuk 70 hari masa tanam,” kata Charlie. Bandingkan dengan produksi bawang merah di lahan mencapai 40—76,3 gram per rumpun menurut hasil penelitian Badan Litbang Pertanian pada tahun 2011 terhadap bawang merah bima, maja, dan sumenep.

Rumah kaca Kelompok Wanita Tani Cumantel merupakan hibah dari Bank Indonesia.

KWT Cumantel—dalam bahasa Sunda kata cantel bermakna kait atau simbol kebaikan—berdiri pada Maret 2018. Komunitas itu mengelola lahan seluas 60 m² di Desa Cantel, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Perintis komunitas itu adalah penyuluh desa. Saat ini anggota KWT Cumantel mencapai 30 orang, sebagian besar remaja. Harap mafhum anggota KWT Cumantel berumur 15—21 tahun. Mereka pelajar di SMP dan SMA serta mahasiswa.

Komunitas juga berencana menerapkan teknologi hidroponik untuk membudidayakan beragam sayuran. Teknologi hidroponik dapat hadir karena KWT Cumantel mendapatkan hibah dari dana tanggung jawab sosial perusahaan pertanian Bank Indonesia. Charlie berperan sebagai pelaksana pembangunan hidroponik yang ditugaskan oleh Bank Indonesia.

Komunitas itu bercita-cita memproduksi sayuran hidroponik yang sehat. Jika nanti terdapat serangan hama atau penyakit, anggota komunitas memanfaatkan pestisida nabati. Bank Indonesia mendorong KWT Cumantel membudidayakan tanaman-tanaman yang rawan inflasi seperti cabai, tomat, dan bawang merah. Harga ketiga komoditas itu di pasaran memang fluktuatif.

Antusias tinggi

KWT Cumantel mengelola satu perangkat hidroponik termasuk dua tong nutrisi yang masing-masing bervolume 200 liter mereka membutuhkan 4 paket AB mix untuk total masa tanam bawang merah selama 70 hari.



Beberapa anggota KWT Cumantel, seperti Andini Julianti Shofura, wakil ketua KWT Cumantel, berharap hidroponik membantu meningkatkan pendapatan anggota KWT Cumantel. Perempuan 19 tahun itu aktif di KWT Cumantel setelah pulang mengajar sebagai guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Teknologi dutch bucket dikombinasikan dengan sistem sumbu atau wick system.

“Biasanya kami mengajar di PAUD dari pukul 08.00—11.00, lalu kami melihat kondisi tanaman,” kata Andini yang akan mengenalkan pertanian nirtanah kepada murid-murid PAUD. Anggota lain KWT, Isyfi Nursilviani (21 tahun) semula tidak tertarik dengan pertanian. Namun, setelah mantan ketua KWT Cumantel, mendiang Dinni Zulfa Nurhasni mengajak, ia tertarik.

 

Isyfi menuturkan, “Pemuda harus mengubah pola pikir terhadap pertanian, bahwa pertanian itu mudah, menguntungkan, dan menjanjikan,” Pertanian itu juga mengikuti zaman, makin modern dan kian mudah seperti hidroponik. Mereka juga pernah menanam cabai hingga 1.000 polibag. Anggota KWT meletakkan kantong tanam itu di sepanjang jalan utama desa dan membagikan 10 polibag untuk setiap rumah tangga.

Bukan hanya untuk memenuhi konsumsi rumah tangga warga desa, hasil panen cabai dalam polibag KWT Cumantel juga dijual ke pasar tradisional dan warung-warung sekitarnya. Namun, karena sulit untuk menyiram ribuan tanaman dalam polibag selama musim kemarau, produksi cabai anjlok. “Kalau hidroponik kan tidak mengenal musim, tumbuhan bisa tumbuh kapan pun sehingga lebih menguntungkan,” kata Andini.

Semangat tinggi remaja KWT Cumantel membuat Charlie bekerja sama untuk membantu pemasaran sayuran. “Kebun kami juga sering kekurangan sayuran. Saya berharap KWT Cumantel bisa membantu memenuhi pasokan sayuran kami,” kata Charlie. Tentu saja kontinuitas kuantitas maupun kualitas harus dijaga sesuai standar.  (Tamara Yunike)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software