Waspada Musuh Madu

Filed in Sayuran by on 02/01/2013 0 Comments
Budi Waluyo SP MP : Petani hanya bisa melokalisiragar penyakit totol tidak menyebar padatanaman atau umbi lain

Budi Waluyo SP MP : Petani hanya bisa melokalisir agar penyakit totol tidak menyebar pada tanaman atau umbi lain

Surat peringatan keras melayang ke kantor CV Techtar Farm and Food. Sebanyak 4,5 ton dari total 5 ton ubi madu yang dikirim ke Hongkong rusak.

Wajar sang pembeli meradang. Umbi Ipomoea batatas itu mendarat di Hongkong dengan kulit dipenuhi bulatan-bulatan seperti tompel berwarna hitam sehingga merusak penampilan. Sialnya, tompel itu tembus ke dalam, menjadikan bagian yang dapat dimakan berkurang. Sudah begitu baunya pun menyengat sehingga umbi tidak akan laku dijual. Dengan harga beli Rp5.000 per kg, potensi kerugian sang klien mencapai Rp25-juta. Itu belum mereken biaya kirim Sumedang-Hongkong yang jaraknya ratusan ribu kilometer.Saat pengiriman, Taryana, pemilik CV Techtar Farm and Food tidak mengira ubi madunya bermasalah. Bapak empat anak itu bukan satu dua kali berurusan dengan klien mancanegara. Itu sebabnya ia memiliki prosedur tetap: mengirim umbi yang mulus, berukuran seragam dengan panjang 15-20  cm, diameter 5-7 cm, dan berat rata-rata 150-250 gram berumur maksimal 5 hari pascapanen.

Taryana pun menyimpan umbi kerabat kangkung itu di gudang dengan keranjang berkapasitas 1 kuintal dengan ukuran tinggi 50 cm dan diameter 100 cm. Berbeda dengan keranjang-keranjang untuk pengiriman ubi lokal, keranjang umbi ekspor berbalut koran. Kertas koran menyerap uap air hasil respirasi umbi. Dengan demikian kelembapan terlalu tinggi selama penyimpanan yang menjadi kondisi nyaman untuk tumbuh kembang cendawan penyebab busuk terhindari.

Cepat menular

Penyakit totol hadir karena serangan cendawan Ceratocystis fimbriata. Cendawan itu sangat mudah menular. “Bermula dari satu umbi yang terserang, dalam 3 hari sekuintal umbi dalam keranjang bisa rusak,” tutur anggota staf bagian produksi CV Techtar Farm and Food, Haris Maulana SP.

Gejala serangan berupa lingkaran kecil berwarna hitam yang terus membesar. Ciri itu kian kasat mata pada hari ke-3 serangan. Saat itu ukuran totol di kulit umbi kira-kira sebesar koin Rp100. Dalam kondisi seperti itu jika umbi dimasak, maka rasanya akan sedikit pahit dan sepat.

Taryana melakukan tindakan pencegah-an berupa pengasapan dan menabur kapur di gudang penyimpanan. Pengasapan dilakukan dengan cara mengembuskan asap hasil pembakaran ranting atau serasah basah selama 3 hari pada umbi yang ditata di rak 3 m x 2,5 m setinggi 3 m. Sementara pengapuran menggunakan 1 kg kapur dolomit untuk setiap 100 kg umbi yang baru panen. Kapur ditebar di lantai gudang.

Apa daya, penyakit totol tetap menjadi momok. Menurut pengamatan Haris dan Taryana kini sebanyak 5-10% dari 15 ton ubi madu yang dipanen dari lahan seluas 750 m2 terkena penyakit itu. Untuk menghindari komplain konsumen CV Techtar Farm and Food melakukan seleksi ketat. Ubijalar dengan lingkaran hitam di kulit, sekecil apapun ukurannya, langsung diapkir.

Menurut periset ubijalar dari Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang, Provinsi Jawa Timur, Budi Waluyo SP MP, sejatinya penyakit totol sudah menyerang sejak di lahan. Gejalanya tepi daun tanaman terserang terlihat mengering. Selain itu, muncul bulatan-bulatan hitam yang juga mengering di batang dekat tanah dan sekitar buku-buku batang. “Jika tanda itu muncul, segera saja cabut dan bakar tanaman untuk memutus penyebaran,” tutur calon doktor dari Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, Bandung, Provinsi Jawa Barat, itu.

Karena lanas

Penyakit totol menyebabkan penampilan umbijelek dan pahit

Penyakit totol menyebabkan penampilan umbi
jelek dan pahit

Haris mengamati penyakit totol tergolong baru di sentra ubijalar madu di Desa Cilembu, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat. Penyakit mulai muncul sejak 2009. “Sebelumnya tidak ada petani ataupun bandar yang mengeluhkan serangan,” kata Haris. Diduga masuknya ubijalar dari luar sentra membawa penyakit itu ke Cilembu. “Pada pertengahan 2009 sempat terjadi kelangkaan ubijalar madu di Desa Cilembu sehingga pedagang mendatangkan ubijalar dari berbagai daerah,” imbuh alumnus Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, itu.

Pakar hama dan penyakit tanaman di Jakarta, Ir Yos Sutioso, berpandangan lain. “Cendawan Ceratocystis fimbriata itu sudah ada di tanah sejak semula,” kata Yos. Serangan yang baru terjadi sejak 3 tahun terakhir dipicu pola penanaman tanpa henti. Menurut Haris, semula petani di Cilembu hanya menanam ubijalar madu sekali dalam setahun, yaitu di musim sela penanaman padi.

Lantaran popularitas ubijalar ningrat itu meningkat, permintaan pun melonjak. Petani-termasuk Taryana dan para petani binaannya-segera menyambar peluang itu dengan terus-menerus menanam ubijalar. Itu yang memicu perkembangan cendawan penyebab totol.

Menurut Yos, penyakit totol menyerang umbi yang sudah dirusak terlebih dulu oleh serangga Cylas formicarius. Kumbang dari ordo Coleoptera penyebab lanas itu memanfaatkan umbi sebagai sumber pakan larvanya. Serangga lanas membuat lubang-lubang kecil untuk mengisap sari pati umbi dan meletakkan telur. Lubang-lubang kecil bekas serangan lanas itulah yang menjadi titik serang cendawan totol.

Berbeda dengan totol, lanas justru “lagu lama” di Cilembu. Petani sekaligus pengepul ubijalar di desa Cilembu, H Rukmana, punya pengalaman mengenaskan karena ulah lanas. Pada pengujung 2009 ia mengapkir 3-5 kuintal ubijalar setiap hari. Serangan lanas  membuat  penampilan umbi jelek dan kualitasnya turun. Menurut Budi Waluyo, umbi terserang lanas alias boleng mengandung eksudat alkohol. Eksudat itu menyebabkan rasa umbi boleng pahit, sepat, dan berbau menyengat. Rukmana memanfaatkan ubijalar rusak itu sebagai pakan domba. Apa lacur selang 3 hari, 2 dombanya meregang nyawa. “Eksudat beracun bagi ternak ruminansia,” kata Budi.

Sirkulasi udara

Menurut Budi tanaman dan umbi yang terserang totol dan boleng tidak bisa diselamatkan. “Petani hanya bisa melokalisir agar serangan tidak menyebar ke tanaman atau umbi lain,” kata dosen matakuliah Genetika Tumbuhan di Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya itu. Cendawan penyebab penyakit totol menyukai tempat yang lembap dengan suhu hangat, berkisar 29-300C. Pada suhu 230C atau kurang, cendawan totol tidak menyebar. Itu sebabnya tempat penyimpanan mesti cukup memiliki ventilasi sehingga terdapat pertukaran udara. Dengan begitu suhu ajek di kisaran 23-250C dan kelembapan terjaga di 50-70%.

“Pemberantasan totol mesti dimulai dari vektornya, yaitu serangga lanas,” kata Yos Sutioso. Ia pun menganjurkan pemberian fungisida berbahan aktif karbofuran sebanyak 33 kg per ha. Caranya, bongkar tanah lalu taburkan fungsida di sisi kanan dan kiri, lalu tutup kembali.

Budi menyarankan petani melakukan pergiliran tanaman untuk memutus siklus spora dalam tanah. Selain itu gunakan bibit hanya dari tanaman sehat. “Bibit setek paling banyak hanya untuk 3 kali masa tanam, selebihnya buat lagi bibit baru dari umbi yang sehat,” tutur Budi.

Serangan totol dan lanas mampu menggasak semua jenis ubijalar. Toh sebuah harapan datang dari hasil riset Budi Waluyo. Pada Agustus 2012 Budi menginfeksi 80 aksesi ubijalar dengan cendawan totol. Hasilnya, 1 aksesi lolos dan tidak terserang sama sekali. “Aksesi itu diduga memiliki gen ketahanan terhadap penyakit totol, yang nantinya bisa dikembangkan menjadi klon tahan lanas, totol, maupun keduanya,” tutur Budi. Sembari menunggu hadirnya klon unggul, perbaiki teknik budidaya dan penyimpanan agar totol dan lanas tetap jauh. (Muhamad Khais Prayoga)

 

Kumbang Cylas formicarius penyebab lanas membuat lubang pada permukaan umbi untukmenaruh telur

Kumbang Cylas formicarius penyebab lanas membuat lubang pada permukaan umbi untuk menaruh telur

Keterangan Foto :

  1. Penyakit totol menyebabkan penampilan umbi jelek dan pahit
  2. Kumbang Cylas formicarius penyebab lanas membuat lubang pada permukaan umbi untuk menaruh telur
  3. Budi Waluyo SP MP : Petani hanya bisa melokalisir agar penyakit totol tidak menyebar pada tanaman atau umbi lain
  4. Serangan penyakit totol bisa diidentifikasi saat masih di pertanaman
 

Powered by WishList Member - Membership Software