Warisan Kaisar Kuning Kini

Filed in Fokus by on 31/05/2011

Kitab pengobatan itu berisi diskusi antara sang kaisar dengan menteri atau tabibnya yang bernama Qibo seputar masalah kesehatan. Itulah kitab pengobatan tertua dan menjadi landasan dalam pengobatan tradisional China atau Traditional Chinese Medicine (TCM). Hingga kini kitab itu masih terus diterbitkan dan diterjemahkan dalam beragam bahasa.

”Selain Huang Di Nei Jing, karya medis klasik lain yang terbilang lengkap yaitu Wu Shi Er Bing Fang atau Resep 52 Penyakit,” ujar Fery Mulyana dari Klinik Citra Insani, Sukabumi, Jawa Barat. Kitab yang ditemukan di makam Ma Wang Dui, Provinsi Hunan, itu membahas tentang beragam resep untuk mengatasi 52 macam penyakit antara lain: malaria, hernia, gangguan buang air kecil, digigit ular, hingga pendarahan di dalam tubuh. Dalam buku itu total jenderal tercantum      247 jenis sediaan obat alam, baik berasal dari tumbuhan, hewan, maupun mineral.

Teruji

Menurut Prof Dr HC Mochamad Yusuf pemanfaatan pengobatan yang tercantum dalam kitab-kitab kuno hingga zaman sekarang menunjukkan keandalan herbal dan teknik pengobatan China selama ribuan tahun. Supaya diterima dunia kedokteran modern, dilakukan riset untuk mengetahui kandungan dan khasiatnya lewat uji laboratorium hingga klinis. Malah riset-riset itu juga kemudian melahirkan herbal-herbal baru di luar yang tercantum dalam kitab kuno.

Pantas bila Albert Y Leung dalam buku Advances in New Crops, menyebut sejak 1965 China berhasil menunjukkan kemajuan pesat dalam membawa pengobatan tradisionalnya ke dalam lingkungan modern. Tak heran publikasi penelitian sekaligus laporan uji klinis penggunaan resep tradisional China untuk beberapa penyakit ringan hingga kanker terus mengalir.

Sebagian besar penelitian dalam kurun 150 tahun terakhir dirangkum dalam buku Zhong Yao Yan Jiu Wen Xian Zhai Yao (Research on Chinese Materia Medica: Literature Abstracts, 1820-1961, 1962-1974, 1975-1979). Sementara laporan uji klinis dari 250 resep pengobatan China dirangkum dalam Zhong Yao Yao Li Yu Ying Yong (Pharmacology and Applications of Chinese Drugs). Penelitian terbaru difokuskan pada terapi penyakit kanker, kardiovaskuler, serta penyakit akibat virus dan menurunnya kekebalan tubuh.

Alhasil pengobatan tradisional China pun dapat bersanding dengan pengobatan modern. ”Di China semua rumahsakit sudah memadukan sistem pengobatan medis modern dengan pengobatan tradisional China,” ujar sinshe Yusuf. Di Indonesia, rumahsakit serupa yang membebaskan pasien memilih pengobatan medis atau tradisional masih terbatas. Salah satunya yaitu RS Dr Soetomo, Surabaya, Jawa Timur, yang menyediakan layanan poliklinik obat tradisional.

Padahal, animo masyarakat Indonesia terhadap pengobatan tradisional juga cukup besar. Terbukti di setiap daerah bermunculan klinik pengobatan tradisional. Tak terkecuali naturopatis atau pengobat tradisional China. Di Jawa Barat, misalnya anggota Ikatan Naturopatis Indonesia (IKNI) – salah satu asosiasi pengobat tradisional China di Indonesia – mencapai ribuan jumlahnya. Bahkan, IKNI juga memiliki sekolah selevel akademi yang telah mencetak ratusan sinshe dan ahli akupuntur di Indonesia.

Di dalam asosisasi, para naturopatis saling berbagi metode pengobatan hingga temuan-temuan baru. Tak jarang mereka mengundang pembicara dari asosiasi TCM di China untuk berbagi ilmu. Para anggota juga bisa mengikuti seminar pengobatan tradisional China di Negeri Tirai Bambu itu. Tujuannya agar sistem pengobatan para naturopatis itu terstandarisasi.

Akupuntur

Organisasi pengobat tradisional China yang lebih spesifik misalnya Persatuan Akupunturis Seluruh Indonesia (PAKSI) juga makin diminati. “Sebanyak 75% anggota PAKSI bahkan berprofesi sebagai dokter,” ujar Akuh Suryana, ahli akupuntur dari klinik Ubud Healing Center di Bali. Menurut Akuh, beberapa rumahsakit di Bali seperti RS Sanglah dan RS Gianyar juga telah memiliki layanan poliklinik akupuntur.

Namun, akupuntur itu biasanya dikombinasikan dengan pemberian ramuan herbal tradisional China. “Lama terapi tergantung kasusnya,” tutur Akuh. Pada kasus penyakit kronis, terapi bisa berlangsung hingga 30 kali. Di Ubud Healing Center, peminat TCM lebih didominasi oleh wisatawan mancanegara. Sebab, saat ini masyarakat dari negara-negara barat tengah gencar mengikuti gaya hidup kembali ke alam. Sehingga, untuk pengobatan pun banyak yang memilih pengobatan tradisional. Termasuk akupuntur yang diwariskan tabib-tabib Tiongkok dari masa ribuan tahun silam. (Tri Susanti)

 

Powered by WishList Member - Membership Software