Wabah Ulat, Cegah dengan Musuh Alami

Filed in Buah by on 02/05/2011

Jumlah tanaman yang terserang memang hanya 0,1 % dari keseluruhan populasi mangga yang mencapai 14-juta pohon. Namun, serangan itu sangat mengejutkan karena berlangsung begitu cepat. Hanya dalam waktu kurang dari 1 minggu, pohon mangga di 9 kecamatan di Probolinggo ludes. “Satu pohon mangga daunnya tandas hanya dalam 2 malam,” ujar Arif Kurniadi, Kasi Perlindungan, Dinas Pertanian Kabupaten Probolinggo.

Menurut Prof Dr Ir Aunu Rauf MSc ulat itu merupakan hama baru, dalam arti tidak pernah dilaporkan sebelumnya menimbulkan kerusakan berat pada mangga. Bahkan buku berjudul Een Beknopt Overzicht van de Plagen van de Mangga (Hama-Hama pada Tanaman Mangga di Hindia Belanda) terbitan 1941 sama sekali tidak menyebut ulat Arctornis submarginata sebagai hama mangga. Selama ini, ancaman pekebun mangga adalah ulat Bombotelia jocosatrix, Chlumetia tranversa, Noorda albizonalis, dan Orthaga euadrusalis.

Pemicu ledakan

Selama puluhan tahun, populasi A. submarginata luput dari perhatian karena serangannya selalu jauh di bawah tingkat yang merugikan. Itu berkat jasa musuh alami, yaitu burung pemakan ulat, kepik atau kumbang predator, dan parasitoid. “Namun, hujan yang berkepanjangan pada 2010 menyebabkan musuh alami, khususnya parasitoid, sulit menemukan inang sehingga banyak yang mati,” ujar Aunu Rauf. Akibatnya, menjelang kemarau saat terjadi peningkatan populasi ulat, musuh alami yang masih bertahan hidup tidak mampu mengatasinya. Ketidakseimbangan antara populasi ulat dan musuh alami itulah yang diduga menjadi penyebab utama ledakan populasi ulat di Probolinggo.

Ledakan populasi ulat juga diperkuat oleh adanya migrasi ngengat. Dari pengamatan di lapangan, ulat yang menyerang mangga memiliki ukuran dan umur sama. Itu menunjukkan asal-muasal ulat dari ngengat yang bermigrasi. Pemicu migrasi disebabkan persediaan makanan ngengat di tempat sebelumnya sudah berkurang.

Diduga ngengat bermigrasi ke pemukiman karena tertarik cahaya lampu. Ngengat, hewan nokturnal, lalu meletakkan telur pada pohon mangga yang banyak tumbuh di halaman warga dan akhirnya menetas menjadi ulat.

Preventif vs kuratif

Siklus hidup ngengat A. Submarginata terbilang singkat yaitu 4 – 5 minggu. Pada awal April 2011 serangan ulat dari keluarga Lymantriidae itu telah mereda karena sebagian besar ulat memasuki fase kepompong. Meski begitu pekebun mesti tetap waspada. Pada fase berikutnya ngengat akan mencari pohon mangga sehat lain untuk meletakkan telur.

”Karena itu untuk menghindari serangan baru, bila menemukan banyak kepompong menempel di permukaan daun, sebaiknya kumpulkan. Lalu simpan dalam botol air mineral dan tutup bagian lubang dengan kain kasa,” kata Aunu. Biarkan selama satu minggu. Jika kepompong itu tumbuh menjadi ngengat, segera matikan. Bila yang muncul parasitoid berupa tawon kecil lepaskan ke alam agar berkembang menjadi musuh alami untuk pengendalian hayati.

Perkebunan mangga yang jauh dari pemukiman dapat menggunakan trik perangkap cahaya untuk memancing ngengat datang. Letakkan nampan berisi air sabun di bawah cahaya lampu. Ngengat yang datang ke lampu itu akan jatuh ke air sabun dan mati.

Pada kunjungan terakhir ke Probolinggo, Aunu menemukan fakta menarik. Banyak kepompong Arctornis submarginata mati dan berwarna kehitaman. Dari kepompong keluar parasitoid yang didominasi oleh tawon jenis Brachymeria sp. Parasitoid dari golongan Hymenoptera itu meletakkan telur pada dalam tubuh ulat A. submarginata lalu keluar sebagai tawon kecil saat ulat menjadi kepompong.

Sebagian kepompong mati dengan warna putih. Itu akibat infeksi cendawan Beauveria bassiana. Cendawan itu kini sudah dikembangkan sebagai insektisida mikrob. Aplikasinya dengan menyemprot ke tanaman, sehingga spora cendawan menempel di daun. Begitu termakan atau menempel di tubuh ulat, spora akan berkembang menjadi miselium berupa benang-benang halus berwarna putih. Lama-kelamaan jumlah miselum semakin banyak hingga menyelimuti sekujur ulat dan kepompong.

Pada saat tingkat serangan tidak dapat ditoleransi lagi, ulat diatasi dengan menyemprotkan insektisida berbahan aktif bakteri Bacillus thuringiensis. Insektisida itu aman karena hanya menyerang ulat tanpa membunuh musuh alaminya. Untuk mencegah perluasan serangan, segera pangkas ranting yang terserang lalu kubur dalam tanah. (Tri Istianingsih)

Keterangan foto

  1. Pohon mangga yang diserang ulat, daun tandas dalam 2 malam
  2. Ulat Arctornis submarginata merusak 14.813 pohon mangga di Probolinggo, Jawa Timur
  3. Kepompong terinfeksi Bauveria bassiana (kiri) dan kepompong sehat (kanan)
  4. Brachymeria sp. bantu tekan populasi A. submarginata
  5. Ngengat A. submarginata, serangga nokturnal yang aktif saat malam hari

 

Sejarah Ledakan Ulat di Indonesia

  • Ulat Trabala vishnou, menyerang jambu biji. Pasar Minggu, 1980
  • Ulat Maenas maculifascia, menyerang kenanga. Bogor, 1985
  • Ulat Pericyma cruegeri, menyerang flamboyan. Bogor, 1994
  • Ulat Hyperaeschrella insulicola, menyerang rambutan. Subang, 3 tahun sekali
 

Powered by WishList Member - Membership Software