Violetta Tahan Bercak Ungu

Filed in Majalah, Sayuran by on 12/03/2018
Violetta 1 agrihorti varietas baru yang agak tahan terhadap penyakit trotol atau bercak ungu.

Violetta 1 agrihorti varietas baru yang agak tahan terhadap penyakit trotol atau bercak ungu.

Produksi bawang merah baru menjulang hingga 15 ton per hektare dan lebih tahan penyakit bercak ungu.

Umumnya petani menghindari penanaman bawang merah pada musim hujan. Penyebabnya penyakit trotol atau bercak ungu akibat serangan cendawan Alternaria porri. Dampaknya kerugian petani mencapai 57%, bahkan kerap kali tak terbentuk umbi. Violetta 1 agrihorti varietas baru yang agak tahan terhadap penyakit trotol atau bercak ungu.

Selain itu, produktivitas varietas baru itu mencapai 17–24 ton segar per hektare atau 8—15 ton kering per hektare. Data Kementerian Pertanian, rata-rata produksi bawang merah nasional hanya 10,22 ton per hektare. Ukuran umbi violetta juga besar, bentuk umbi tinggi bulat, warna umbi ungu tua, umbi kering, daya simpan umbi pada suhu 25–30°C mencapai 2–3 bulan.

Dengan bawang merah varietas baru, hasil panen tinggi karena lebih tahan serangan penyakit.

Dengan bawang merah varietas baru, hasil panen tinggi karena lebih tahan serangan penyakit.

Dataran tinggi
Yang menggembirakan varietas anyar itu mampu beradaptasi di dataran tinggi. Petani dapat menanam Violetta 1 agrihorti di luar musim. Kondisi penanaman ideal adalah musim kemarau di ekosistem dataran tinggi. Varietas itu berbunga banyak. Itulah sebabnya para periset tengah mengkaji potensinya untuk memproduksi true shallot seed (TSS). Dengan demikian petani dapat membudidayakan bawang merah dengan biji, bukan umbi lapis.

Violetta 1 agrihorti mendapat surat keputusan sebagai varietas baru pada 2016. Beberapa varietas bawang merah memang sudah dibudidayakan di dataran tinggi seperti batu ijo, sumenep, dan bali karet. Namun, penanaman di luar musim perlu varietas yang tahan penyakit utama. Balai Penelitian Tanaman Sayuran, berupaya memecahkan permasalahan itu. Dibentuklah tim yang terdiri atas Iteu M. Hidayat, Sartono Putrasamedja, Ineu Sulastrini, Nurmalita Waluyo, Joko Pinilih, dan Catur Hermanto.

Penelitian itu melalui tahapan dan waktu yang panjang. Para periset menjaring materi genetik bawang merah untuk ketahanan terhadap penyakit bercak ungu Alternaria porri pada 2009—2010. Setahun kemudian, indukan bawang merah sebagai bahan persilangan sudah dapat ditentukan yaitu varietas tiron x varietas maja cipanas. Perakitan dengan persilangan konvensional antara varietas tiron sebagai tetua betina dan varietas maja cipanas sebagai tetua jantan.

Pada 2012 masa pembentukan populasi progeni F1 hasil silangan. Setelah itu para periset memperbanyak umbi nomor–nomor hasil silangan dan seleksi awal ketahanan terhadap A.porri di rumah kasa. Setelah mendapatkan bawang merah terseleksi, pada 2013 mereka memperbanyak silangan itu dan menanam di lahan uji coba. Seleksi masih berlanjut hingga setahun kemudian dengan perbanyakan di lapangan.

Barulah pada 2015—2016 periset memperbanyak silangan selama 2 periode tanam. Para peneliti menguji keunggulan 4 klon terseleksi itu di dataran tinggi, yakni Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Cisurupan (Garut), dan Cipanas (Cianjur)—semua di Provinsi Jawa Barat. Luas lahan uji coba masing-masing 800 m². Terakhir uji kebenaran varietas dilakukan di Lembang pada lahan seluas 400 m².

579_ 119-2Penelitian itu menghasilkan bawang merah violetta 1 agrihorti. Sesuai dengan sistem perbenihan, Balitsa menyerahkan benih inti varietas baru itu kepada Unit pengelola Benih Sumber (UPBS) pada Mei 2017. UPBS selanjutnya menghasilkan benih sumber dan menyebarkan ke penangkar untuk produksi kelas benih lanjut dan benih bersertifikat sehingga menjamin mutu benih bagi petani.

Defisit produksi
Sejatinya produksi bawang merah sudah mampu mencukupi kebutuhan nasional. Sebagai gambaran produksi nasional pada 2015 mencapai 1.229.184 ton. Itu mencukupi 176,28% dari kebutuhan konsumsi segar nasional. Konsumsinya rata-rata per kapita hanya 2,704 kg. Namun, masalah timbul karena adanya defisit produksi dibandingkan kebutuhan konsumsi pada bulan-bulan Februari—April.

Defisit produksi itu terjadi karena sebagian besar sentra produksi sedang bertanam padi. Selain itu, curah hujan tinggi berakibat pada rentannya serangan penyakit sehingga produktivitas anjlok secara signifikan. Pada umumnya petani membudidayakan bawang merah di dataran rendah menjelang musim kemarau atau pada akhir musim hujan.

Adanya perubahan iklim global, musim pancaroba atau peralihan dari musim hujan ke musim kemarau atau sebaliknya menjadi tidak jelas. Musim tanam bawang merah pun bergeser. Karena itu program pemerintah memperluas pertanaman produksi bawang merah ke ekosistem dataran tinggi. Tujuannya agar penanaman makin luas dan tidak bersaing dengan pertanaman di dataran rendah.

Akibat perubahan lingkungan, iklim menjadi tidak ideal bagi penanaman bawang merah. Kelembapan dan suhu relatif tinggi sepanjang tahun. Kondisi itu memicu serangan penyakit pada pertanaman bawang merah. Salah satu kendala produksi bawang merah di luar musim, terutama pada musim hujan adalah serangan penyakit trotol atau bercak ungu yang disebabkan oleh Alternaria porri.

Salah satu dari strategi pengendalian penyakit yang ramah lingkungan adalah dengan menanam varietas tahan terhadap penyakit seperti violetta 1. Di sisi lain budidaya bawang merah di dataran rendah harus bersaing dengan tanaman padi sehingga mempengaruhi penyediaan bawang merah yang diperlukan hampir sepanjang tahun. Sebagai alternatif pengembangan produksi bawang merah antara lain dengan memanfaatkan lahan di dataran tinggi.

Budidaya
Para petani di dataran tinggi dapat membudidayakan bawang merah baik sebagai bagian dari rotasi tanaman maupun tumpang sari. Budidaya bawang merah dimulai dari persiapan lahan, pengolahan lahan dengan membalikkan tanah dalam, sekaligus meremahkan tanah. Kemudian buat bedengan dengan lebar 100 cm, panjang disesuaikan dengan kondisi lahan, dan tinggi bedengan 30 cm.

Berikan pupuk kandang ayam sebanyak 10 ton dan pupuk buatan NPK 16:16:16 sebanyak 250 kg per hektare sepekan sebelum penanaman. Adapun pupuk susulan berupa NPK 16:16:16 sebanyak 160 g per plot berukuran 6 m². Larutkan pupuk dalam 40 liter air dan berikan 200 ml per tanaman sebagai pupuk susulan. Aplikasi pupuk susulan diberikan pada 3 pekan, 5 pekan, dan 7 pekan setelah tanam.

Pengendaliaan hama dan penyakit dilakukan secara kimiawi dengan menggunakan pestisida. Penyemprotan fungisida hanya dilakukan dengan pestisida yang tidak mengganggu A. porri. Pemeliharaan tanaman yang dilakukan antara lain penyiangan dan penyiraman dilakukan sesuai keperluan. Sedangkan pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) dilakukan sesuai kondisi pertanaman. Dengan pemeliharaan itu petani sukses menuai umbi violetta 1 agrihorti. (Fauzi Haidar, Humas Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang, Bandung)

Tags: ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software