Usir “Moler” dari Kebun

Filed in Fokus by on 01/02/2010 0 Comments

 

Para pekebun bawang merah bakal ketar-ketir bila “inul” menyambangi tanaman mereka. Sebab, tanaman mendadak jadi layu dan menguning. Ciri khas serangannya: daun mengkerut dan melintir. Umbi membusuk sehingga lama-kelamaan tanaman mati. Karena sosok daun yang melintir, pekebun lantas menjuluki serangan penyakit itu dengan nama inul. “Daunnya melintir mirip goyangan inul,” kata Walan, pekebun bawang merah di Brebes, Jawa Tengah. Bila terinfeksi, pekebun terancam gagal panen.

Fusarium

Menurut Dr Suryo Wiyono, peneliti di Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor, penyakit inul atau moler disebabkan oleh cendawan Fusarium oxysporum f.sp. cepae. Serangan fusarium mengganas di musim hujan saat kondisi lembap. “Moler menyerang saat tanaman berumur 30 – 45 hari. Dampaknya berbahaya karena bisa rugi 100%,” kata Sugiharto, pekebun bawang merah di Desa Mungkung, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.

Serangan layu fusarium menghantam bawang merah Sugiharto setiap kali musim hujan datang. Ia biasanya langsung membuang tanaman yang terserang moler supaya tidak menular ke tanaman lain. “Moler menular dengan cepat. Dalam sehari tanaman satu guludan bisa terserang,” kata pria 33 tahun itu.

Lima tahun terakhir serangan moler kian mengganas di sentra perkebunan bawang merah seperti Brebes, Nganjuk, Probolinggo, dan Samosir. Padahal, pada 1997 moler bukan penyakit utama pada bawang merah. Data Direktorat Perlindungan Tanaman Hortikultura mencatat pada 2003 luas serangan fusarium hanya 48,2 hektar. Pada 2007 meluas hingga 404,9 hektar.

“Perubahan status moler menjadi penyakit utama diduga berkaitan dengan perubahan iklim yang tidak menentu beberapa tahun terakhir,” kata Suryo. Karen A Garrett, peneliti di Department of Plant Pathology, Kansas State University, Amerika Serikat menyebutkan perubahan iklim mempengaruhi perkembangan cendawan patogen secara fisiologis dan molekuler. Pengaruh itu bisa berdampak pada meningkatnya keganasan patogen.

Selain itu Suryo menambahkan lahan yang ditanami bawang merah sepanjang musim tanpa pergiliran tanaman juga rawan terinfeksi moler. “Kandungan organik tanah rendah dan penggunaan bibit yang tidak selektif – umbi berasal dari daerah yang pernah terkena fusarium – juga memicu meningkatnya serangan fusarium,” kata doktor patologi tanaman alumnus Faculty of Agriculture, Georg-August University, Jerman itu.

Untuk menanggulangi serangan fusarium, pekebun dapat menyemprotkan fungisida atau menggunakan agen hayati sebagai musuh alami. Menurut Arya Yudas, manajer produk PT Syngenta Indonesia, bila memakai fungisida, gunakan yang berbahan aktif azoksistrobin dan difenokonazol. Kedua senyawa aktif itu bekerja secara sistemik dalam jaringan tanaman dan terbukti ampuh menghambat perkembangan moler.

Agen hayati

Sedangkan untuk musuh alami, Suryo menyarankan menggunakan agen hayati seperti Pseudomonas fluoroscens dan Trichoderma. Ia juga menganjurkan untuk meningkatkan kandungan organik dan kesuburan tanah. Sebab, lingkungan tumbuh yang subur membuat tanaman lebih tahan terhadap serangan penyakit. Keampuhan agen hayati mengendalikan moler dibuktikan oleh riset Loekas Soesanto PhD, ahli penyakit tanaman di Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah.

Loekas menguji keampuhan Trichoderma harzianum, Trichoderma koningii, dan Pseudomonas fluorescens P60 dalam menghambat perkembangan moler pada kebun bawang merah di Desa Kedokansayang, Kecamatan Tarub, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Ketiga agen hayati itu dikenal ampuh mengendalikan serangan Fusarium oxysporum pada tanaman gladiol. Ia merendam dan menyemprotkan masing-masing larutan agen hayati berdosis 10 ml pada lahan percobaan.

Hasilnya menunjukkan penyemprotan 10 ml larutan Pseudomonas fluorescens merupakan cara terefektif menekan pertumbuhan moler, 41,96%. Selain itu pemakaian pseudomonas juga mampu meningkatkan pertumbuhan dan produktivitas bawang merah hingga 65,57%.

Kemampuan itu lantaran pseudomonas mengandung plant growth promoting rhizobacteria (PGPR ) yang berguna merangsang pertumbuhan tanaman dan menghambat perkembangan cendawan dan bakteri patogen. Pseudomonas menghasilkan asam indol asetat, hormon yang diperlukan tanaman untuk merangsang perpanjangan akar.

Menurut Euis Suryaningsih MS, peneliti di Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang, Jawa Barat, selain Pseudomonas fluorescens, pekebun juga dapat memanfaatkan bantuan Bacillus subtilis untuk mengatasi serangan Fusarium oxysporum. Caranya, sebelum benih ditanam, terlebih dahulu dilumuri serbuk Bacillus subtilis, 1 – 2 g per kg benih. Perlakuan itu membuat bawang merah terbebas dari serangan fusarium.

Untuk perawatan berikutnya, cukup semprotkan fungisida alami itu dengan dosis 0,1% sekali sepekan. Euis menyebutkan Bacillus subtilis bekerja secara sistemik. Ia menghambat pertumbuhan patogen dengan masuk melalui sistem metabolisme tanaman. Akibatnya, patogen tidak bisa memperbanyak diri sehingga penyakit yang ditimbulkan pun bisa dihambat.

Kini pekebun tidak perlu pusing lagi menghadapi gempuran inul di musim hujan. Usir saja dengan cendawan baik seperti Pseudomonas fluorescens atau Bacillus subtilis. (Ari Chaidir)

 

 

  1. Di musim hujan kebun bawang merah terancam gempuran inul atau moler
  2. Serangan Fusarium oxysporum pada bawang merah
  3. Produksi bawang merah anjlok di musim hujan lantaran rawan terinfeksi penyakit
  4. Dr Suryo Wiyono, moler dapat diatasi dengan bantuan agen hayati dan memperbaiki kesuburan tanah
 

Powered by WishList Member - Membership Software