Usaha Kreatif 4: Dicari Kulit Manggis untuk Ekspor

Filed in Topik by on 01/06/2009 0 Comments

Ekspor kulit manggis? Ya, negeri jiran bukan butuh daging buah Garcinia mangostana yang rasanya manis, asam, dan menyegarkan. ‘Mereka hanya butuh kulit manggis yang pahit,’ ujar Dennie. Satu kilo ekstrak kulit manggis-diperoleh dari 10 kg kulit kering-harganya U$62,5 setara Rp650.000. Satu kilo kulit kering berasal dari 4 kg kulit segar. Kulit mengisi 60% buah utuh.

Menurut Dr Berna Elya Apt MSi, dari Departemen Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, kulit ratu buah kaya senyawa xanthone. Jumlahnya seperti diungkap Ir Kasma Iswari MSi, peneliti di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Barat, 27 kali daripada yang ada pada daging buah manggis.

Xanthone yang ditemukan pertama kali oleh Schmid W Liebigs, ilmuwan Jerman, pada 1855 itu dikenal sebagai antioksidan tingkat tinggi. ‘Kandungan antioksidan kulit manggis 66,7 kali wortel dan 8,3 kali jeruk,’ tutur Dr Ir Raffi Paramawati, ahli teknologi pangan dari Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian, Serpong, Tangerang, Banten. Konsumsi xanthone 30 hari berturut-turut diklaim membuat wajah terlihat lebih muda. Ia pun disebut sebagai antikanker.

Raffi menyebut kulit manggis mengandung antioksidan 17.000-20.000 orac per 100 ounce. Bandingkan dengan sayur dan buah berkadar antioksidan tinggi seperti wortel dan jeruk yang masing-masing hanya 300 orac dan 2.400 orac. Orac – oxygen radical absorbance capasity – ialah kemampuan antioksidan menetralkan radikal bebas penyebab penyakit degenaratif seperti jantung, stroke, dan kanker.

Limbah di sentra

Masih pada Mei, permintaan ekstrak kulit manggis dari Malaysia juga datang saat Borobudur berpameran di ekspo Hospital & Medical di Jakarta Convention Center (JCC). Importir lain meminta 1.000 botol ekstrak kulit manggis dalam kemasan isi 60 kapsul dan 100 kapsul. Di Malaysia ekstrak kulit manggis dipakai sebagai bahan baku farmasi, jus, kosmetik, dan pewarna.

Untuk memenuhi permintaan negeri jiran, Borobudur mendatangkan 8 ton kulit manggis kering. Pengepul di Jakarta mengumpulkan kulit itu dari sentra di Sumatera Barat dan Jawa Barat. Dari 8 ton kulit manggis kering didapat 800 kg ekstrak. Menurut Dennie, jumlah itu baru 25% dari total yang dibutuhkan Borobudur.

Pengalaman Asep W Permana, peneliti di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, Bogor, Jawa Barat, 100 kg kulit manggis segar menghasilkan 25-30 kg kulit kering. Artinya, 8 ton rempah itu berasal dari 32 ton kulit manggis segar.

Menurut Asep potensi ekspor ekstrak kulit manggis sejatinya besar. Dari produksi nasional manggis setiap tahun hanya 20% yang layak diekspor. Sisanya menumpuk di pengepul menunggu pedagang lokal datang membeli. Jika 3 hari saja manggis sisa sortir alias BS itu ngendon di gudang, kulit mengeras sehingga buah terbuang. ‘Itu peluang untuk dijadikan usaha,’ kata Asep. Asep menuturkan semua bagian tanaman manggis potensial sebagai bahan baku obat karena secara tradisional digunakan turun-temurun sebagai herbal.

Tergantung musim

Toh, meski kulit manggis berlimpah di sentra, tidak berarti pasokan untuk ekspor lancar. Musababnya, sentra terkonsentrasi di daerah tertentu. Musim buah pun hanya setahun sekali. Di Sumatera Utara, sentra terbesar adalah Tapanuli Selatan. Di Sumatera Barat (Limapuluhkoto dan Padangpariaman), Jawa Barat (Bogor, Purwakarta, dan Tasikmalaya), Jawa Tengah (Purworejo), dan Jawa Timur (Blitar). Sementara di bagian timur sentra manggis adalah Lombok, Nusa Tenggara Barat. Menurut Sobir PhD, kepala Pusat Kajian Buah Tropika, Bogor, panen buah manggis cenderung bergeser dari barat menuju timur.

Sebut saja di Tapanuli Selatan musim manggis jatuh pada Juni-September. Agak ke barat ke Limapuluhkoto jatuh pada November-April. Tasikmalaya, Desember-Maret. Berikutnya Blitar, Januari-Mei. ‘Jadi sebetulnya panen manggis di tanahair hampir sepanjang tahun, hanya daerahnya bergeser,’ kata Sobir.

Sayang, di semua sentra itu tak ada pengumpul khusus kulit manggis kering. Pada 2007 Kasma menolak permintaan 10 ton per bulan kulit manggis dari Jakarta. Musababnya pengepul di Sumatera Barat itu enggan mengupas kulit manggis dan membuang daging buah untuk memenuhi permintaan. Gara-gara sulit mendapat pasokan kulit manggis pula, Borobodur menolak permintaan berton-ton kulit manggis dari Korea pada tahun yang sama.

Berkaca pada pengalaman itu, pada 2008 Borobudur turun langsung ke sentra-sentra untuk mendapatkan kulit manggis. Itu pun akhirnya kulit dibeli bersama buahnya. Pasokan pada 2009 didapat setelah Borobudur memasang iklan permintaan di sebuah majalah. Harganya? Masih negosiasi karena belum ada standar harga kulit manggis.

Harga bakal terbentuk bila segmentasi pasar sudah jelas. Maksudnya, kulit manggis jadi komoditas terpisah dari bagian lain, daging buah misalnya. ‘Misal di sentra ada pengolahan daging buah menjadi sirup, jus, atau pure,’ kata Raffi yang meneliti manggis di Sumatera Utara hingga Nusa Tenggara Barat sejak 2003. Biji, bahan baku dodol.

Pengolahan daging buah dan biji bisa dilakukan oleh industri kecil. Kulit yang jadi limbah dijual pada industri modern pengolah ekstrak kulit manggis. Maklum, cara ekstraksi membutuhkan teknologi tinggi yang mahal. Selama ini industri modern mengekstrak buah dan kulit manggis sekaligus karena belum ada industri kecil olahan daging buah.

Kulit dan buah

Itulah yang dilakukan oleh PT Inti Kiat Alam. Perusahaan di Sunter, Jakarta Utara, itu membeli manggis dari sentra di Sumatera dan Jawa sebagai bahan baku jus daging buah dan kulit manggis. Dari 10 kg buah segar-berikut kulitnya-dihasilkan 300 ml jus. Syarat buah layak proses harus segar, maksimal 2 hari setelah petik. Untuk itu, buah dikirim lewat udara.

Sebotol jus volume 300 ml dibandrol Rp200.000. Toh, sejak 4 bulan terakhir serapan konsumsi Xamthone Plus-namanya-mencapai 6.000 botol per bulan. Harap mafhum, konsumen yang kebanyakan wanita terpikat dengan khasiat awet muda yang ditawarkan. Apalagi menurut Fico Kaiser MBA, peracik Xamthone Plus, khasiat jus buah dan kulit manggis diimbangi riset ilmiah dan bukti empiris.

Kandungan antioksidan kulit manggis 66,7 kali wortel dan 8,3 kali jeruk. Dengan komposisi itu ia disebut-sebut obat ajaib di masa depan.

Berna menyebut xanthone memiliki gugus OH yang efektif mengikat oksigen bebas yang tidak stabil di dalam tubuh. Oksigen tak stabil itu disebut juga radikal bebas perusak sel tubuh. ‘Makanya xanthone menghambat proses degenerasi (kerusakan, red) sel,’ kata master bidang fitokimia dari Universitas Indonesia itu. Yang unik xanthone juga merangsang regenerasi (pemulihan, red) sel rusak dengan cepat sehingga membuat awet muda.

Penelitian Yukihiro Akao dari Institut Bioteknologi Gifu, Jepang, yang dipublikasikan pada Maret 2008 menyebut xanthone dalam kulit manggis efektif mengatasi sel kanker. Menurutnya, α-mangostin-senyawa dalam kelompok xanthone-membunuh sel kanker dengan mekanisme apoptosis. Secara sederhana apoptosis berarti bunuh diri sel. Senyawa α-mangostin memaksa sel memuntahkan cairan dalam mitokondria sehingga sel kanker mati.

Yukihiro juga melaporkan α-mangostin mengaktifkan sistem kekebalan tubuh dengan merangsang sel pembunuh alami (natural killer cell alias NK cell, red) dalam tubuh. NK cell itulah yang secara alami bertugas dalam tubuh manusia membunuh sel kanker dan virus yang masuk.

Menurut Berna, jus perpaduan daging dan kulit buah sangat baik. ‘Rasa daging buah manis dan segar, tapi kadar xanthone lebih sedikit daripada kulit. Sebaliknya kulit lebih kaya xanthone tapi rasanya pahit. Pencampuran keduanya menjadikan jus yang enak dan kaya xanthone,’ tutur Berna.

Minuman instan

Yang menarik ekstrak kulit manggis dalam bentuk kapsul bukan satu-satunya produk jadi. ‘Bila dijual dalam bentuk kapsul, kesan yang muncul seperti obat. Harus ada produk minuman ringan yang bermanfaat buat kesehatan,’ kata Asep. Kini master pangan dari Institut Pertanian Bogor itu tengah meneliti ekstrak kulit manggis sebagai bahan baku minuman instan berkarbonasi (effervescent) atau nonkarbonasi.

Kulit manggis sangat berpeluang untuk diolah menjadi keduanya. Kulit manggis dijadikan tepung lalu diekstraksi sebagai bahan baku effervescent. Bentuknya bisa tablet atau serbuk. ‘Dengan bentuk itu, ekstrak kulit manggis bakal diterima dengan lebih mudah di pasaran,’ kata Asep. Jika begitu adanya, 2-3 tahun ke depan kulit manggis tak lagi menjadi limbah. Bahkan jauh lebih berharga ketimbang buahnya. (Destika Cahyana/Peliput: Nesia Artdiyasa dan Rosy Nur Apriyanti)

 

Powered by WishList Member - Membership Software