Usaha Kreatif 2: Tikus Putih Pilih Pasar Peneliti atau Hobiis?

Filed in Topik by on 01/06/2009 0 Comments

Pendapatan pria 28 tahun itu dari hasil penjualan 2.000 mice dan 4.000 – 5.000 rat. Mice alias mencit Mus musculus adalah tikus putih bersosok mungil berbobot 25 – 28 g; rat Rattus norvegicus bersosok besar, bobot 250 – 300 g. Tikus yang dijual berbagai umur mulai dari 1 minggu, 1 bulan, 2 bulan, dan dewasa di atas 3 bulan. ‘Harga tikus-tikus itu berdasarkan umur,’ kata Mono, sapaannya. Pada 2009 harga mencit umur 1 minggu Rp1.000/ekor; 1 bulan (Rp1.500); 2 bulan (Rp2.500); dan 3 bulan (Rp3.500 – Rp4.000). Sementara rat lebih mahal, berturut-turut Rp1.500, Rp3.000, Rp5.500, dan Rp8.000.

Mono memasarkan tikus putih kepada para hobiis reptil di Yogyakarta dan sekitarnya, serta Jakarta. Ia bisa mendapat harga lebih tinggi jika mampu menembus pasar lembaga-lembaga penelitian dan universitas yang notabene pengguna terbesar tikus putih. Sekadar contoh mahasiswa-mahasiswa Kedokteran Hewan di Universitas Gadjah Mada rela membeli minimal Rp12.500 untuk seekor mencit dewasa dan rat Rp20.000. Informasi yang Trubus dapat dari Prof. Sumali Wiryowidagdo dari Pusat Studi Obat Bahan Alam, Universitas Indonesia, anggaran untuk mendapat tikus putih besar Rp30.000/ekor.

Butuh banyak

Haraf mafhum, lembaga penelitian dan perguruan tinggi penyerap tikus putih terbesar. ‘Tikus putih adalah pilihan pertama sebagai hewan percobaan lantaran murah dan penanganannya mudah ketimbang kelinci atau kera,’ ujar Prof Dr Anas Subarnas MSc, dekan Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran. Wajar kalau kebutuhannya tinggi. Sebagai gambaran untuk uji kadar gula saja Prof Sumali Wiryowidagdo memerlukan 100 tikus dan 180 ekor untuk uji toksisitas subkronik. Padahal setiap bulan lembaganya melakukan percobaan 2 – 3 kali. ‘Tikus wistar kami peroleh dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan seharga Rp30.000 per ekor yang berumur 3 bulan,’ kata Sumali.

Di Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, kebutuhan tikus putih juga tinggi. ‘Saya tidak tahu pasti jumlahnya. Tapi untuk 4 mahasiswa bimbingan saya saja butuh 168 ekor per semester,’ ungkap Dr Mangestuti Agil, Apt MS, dosen Fakultas Farmasi. Itu senada dengan Prof Dr Anas Subarnas MSc, dan Prof Dr Mustofa, Mkes Apt, bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran UGM. ‘Setiap mahasiswa – kedokteran, farmasi, dan biologi – tidak bisa lepas dari tikus putih untuk penelitiannya,’ kata keduanya. Sekali percobaan paling tidak butuh 16 – 20 rat atau 20 – 24 mencit.

Kebutuhannya dari tahun ke tahun meningkat 10%. Laboratorium Percobaan Puslitbang Biomedis dan Farmasi Badan Litbang Depkes yang selalu mendapat pesanan dari UI, ITB, Trisakti, dan UHAMKA, menghitung pada 2008 volume penjualan rat mencapai 1.500 ekor dan mencit 2.000 ekor. Sementara pada 2009 diperkirakan mencapai 4.000 ekor dari kedua jenis tikus itu.

Sertifikasi

Namun, persyaratan tikus putih yang bisa dipasok ke lembaga penelitian lebih rumit ketimbang untuk pakan reptil. Drh Huda Salahudin Darusman, staf Pusat Studi Biofarmaka Institut Pertanian Bogor memaparkan, ‘Tikus putih untuk percobaan harus berasal dari peternak yang mengantongi sertifikat.’ Sayang, di Indonesia lembaga yang berwenang memberikan sertifikasi itu belum ada. Akhirnya jalan pintas ditempuh: minimal indukan bersertifikasi, yaitu jelas jenis dan asal-usulnya. Indukan-indukan seperti itu biasanya didatangkan dari Jepang, Australia, dan Amerika Serikat.

Persoalan selesai? Ternyata masih banyak pekerjaan rumah yang perlu dirampungkan. Tikus-tikus percobaan diwajibkan memenuhi persyaratan kesehatan, bobot, dan tingkat keseragaman tinggi. Artinya semua itu menyangkut persoalan budidaya seperti kebersihan kandang, perawatan, dan pakan. Puslitbang Biomedis dan Farmasi Badan Litbang Departemen Kesehatan yang memasok tikus-tikus percobaan ke banyak lembaga penelitian dan perguruan tinggi menempatkan tikus dalam ruangan superbersih. Ruangan itu dilengkapi kandang-kandang berukuran 35 cm x 35 cm x 25 cm terbuat dari aluminium yang berjejer rapi.

Suhu ruangan dibuat stabil pada 25oC. Ruangan, termasuk kandang dibersihkan 2 kali seminggu. Sebagai alas kandang digunakan serutan kayu. Tikus-tikus yang terdiri dari strain wistar dan sprague-dawley itu diberi pakan buatan berasal dari campuran beras, kacang kedelai, kacang tanah, skim milk powder kualitas tinggi, minyak kelapa, garam dapur, tepung tulang, vitamin, dan mineral. ‘Pakan mengandung protein 19,4%, lemak 9,1%, dan energi sekitar 370 kalori,’ ujar Drs Cornelis Adimunca, koordinator Laboratorium Hewan Percobaan. Pakan tersedia sepanjang waktu. Kebutuhannya, 20 – 30 g per ekor.

‘Semua mesti serbasteril: ruangan, pakan dan pekerja yang merawat mencit tidak boleh menjadi media penularan penyakit,’ kata Dr Safarina Golfina Malik, peneliti bidang biologi molekuler di Lembaga Eijkman, Jakarta. Di Eijkman ruang budidaya mencit diberi filter udara keluar-masuk demi menjamin kesehatan satwa pengerat itu. Kunci lain adalah mempertahankan kemurnian strain. ‘Jika tercampur perlu 5 tahun untuk memurnikannya,’ kata Cornelis. Pantaslah Cornelis menerapkan aturan ketat: tikus yang lepas dari kandang tidak boleh dikembalikan lagi. ‘Harus dibunuh,’ ungkapnya.

Terbentang

Jika urusan budidaya selesai, urusan berikut adalah membuka akses ke lembaga-lembaga penelitian dan perguruan tinggi. ‘Kalau bisa tembus, saya dengan mudah melipatgandakan produksi mencit maupun rat,’ tutur Budiyanto Tasma, peternak di Cicurug, Parung, Bogor, Jawa Barat. Pemilik CVTerraria Indonesia itu kini memilik 1.000 indukan rat dan 2.000 indukan mencit.

Dengan jumlah indukan yang dimiliki, setiap bulan dipanen 1.000 anakan rat dan 3.000 anakan mencit. Semua dipakai sendiri untuk pakan ular dengan kebutuhan 1.200 ekor per minggu. Maklum Budiyanto adalah salah satu penangkar sekaligus eksportir reptil terbesar di Indonesia, terutama ular python. ‘Dari segi produksi tidak masalah, karena kami sudah bisa menghasilkan tikus kualitas percobaan. Kami pesan khusus pakannya dari perusahaan ternama,’ kata Budiyanto yang mengaku menghabiskan dana lebih dari Rp15-juta per bulan untuk pakan setara 3 ton.

Meski kendala menghadang, peluang pun terbentang. Dari hitung-hitungan secara ekonomis usaha beternak tikus putih cukup menguntungkan. Dengan 100 pasang indukan mencit setiap bulan akan didapat omzet Rp5.250.000. Pasar untuk pencinta reptil pun masih bisa digarap. Tengok penjualan di toko reptil milik Eddy di bilangan Kartini, Jakarta Pusat. Setiap minggu ia menjual 500 – 600 mencit, 200 pingkis (anak mencit umur 1 minggu), dan 300 – 400 rat. Itu belum termasuk kebutuhan untuk ular-ularnya sendiri sekitar 150 mencit, 50 rat, dan 20 pingkis setiap minggu.

Kebutuhan Budi Wonosasmita, pemilik Turtle World di Surabaya, mencapai 350 – 400 tikus putih berbagai umur. ‘Meski saya punya peternakan tikus, tapi tetap masih meminta pasokan dari peternak lain,’ tutur Budi. Sementara Eddy sepenuhnya mengandalkan pasokan dari para peternak di Jakarta, Tangerang, dan Bogor. Jika tertarik beternak, ‘Tidak perlu khawatir tikus menjadi hama. Sebab, kalaupun lepas ke alam ia tidak bisa berkembangbiak karena tidak bisa bertahan hidup,’ kata Huda Salahudin Darusman. (Karjono/Peliput: Lastioro Anmi Tambunan, Rosy Nur Apriyanti, & Nesia Artdiyasa)

 

Powered by WishList Member - Membership Software