Untung Bisnis Bumbu Dapur

Filed in Majalah, Sayuran by on 15/10/2019

Herba kering dikemas dalam stoples plastik

 

Beragam herba seperti rosmari, oregano, dan time masih impor. Peluang membudidayakan untuk memasok pasar lokal.

Asep Kurnia ingin mulai agribisnis sejak 2002.

Beragribisnis bisa bermula dari mana saja. Asep Kurnia memulainya dari buah tangan. Ia memperoleh oleh-oleh berupa benih rosmari Rosmarinus officinalis, oregano Origanum vulgare, dan time Thymus vulgaris. “Teman saya baru pulang dari Taiwan dan membawakan benih rosmari, oregano, dan time. Benihnya sangat kecil mirip serbuk,” kata Asep mengenang kejadian pada 2012.

Petani di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, itu lantas menyemaikan benih tanaman herba itu. Pemuda 33 tahun itu penasaran pada sosok tanaman. Mafhum, Asep belum pernah melihat ketiganya. Benih tumbuh dan bertahan hingga dewasa. Sayang, hanya 15% tanaman tumbuh dan bertahan.

Panen rutin

Asep memperbanyaknya dengan setek dan tingkat keberhasilan hampir 100%. Laki-laki kelahiran Bandung, Jawa Barat, itu membudidayakan beragam bumbu ala Barat di lahan 3.000 m². Lokasinya di Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat berketinggian 750—1.200 meter di atas permukaan laut. Ia membagi area itu untuk membudidayakan ketiga jenis herba itu di atas guludan.

Ia rutin memanen daun-daun herba hampir setiap hari. Keruan saja panen bergiliran. Interval panen untuk tanaman yang sama hanya 7 hari. Sekali panen, ia memetik rata-rata 40% dari total daun per tanaman. Anak pertama dari tiga bersaudara itu lantas menjemur hasil panenan selama 3—4 hari pada kemarau dan sepekan pada musim hujan. Asep tidak menjemur di bawah terik matahari, tetapi sekadar mengangi-anginkan di bawah naungan atap plastik ultraviolet.

Menurut Asep pengeringan alami akan menjaga kualitas herba seperti aroma, warna, dan kandungan zat aktif. Oleh karena itu, meski daun kering warnanya tampak hijau, bukan hitam gelap. Asep mengemas sayuran bumbu itu dalam stoples plastik berbobot 25 gram. Pada September 2019 harga per kemasan mencapai Rp20.000—Rp29.000. Ia memberi label Herbcik—akronim dari herbal dan racik.

Daun poko Mentha sp juga tumbuh di kebun Asep Kurnia.

Sayuran bumbu itu untuk memasok pasar ritel modern, restoran, dan hotel di Kota Bandung. Asep memasarkan hingga 25 kg kering yang memberikan omzet hingga Rp40 juta per bulan. Menurut Asep pengeringan 12 kg daun segar menghasilkan 1 kg kering. Sejatinya permintaan lebih besar lagi. Namun, kemampuan produksi masih terbatas. Oleh karena itu, Asep berencana memperluas lahan.

Bermitra

Kian besar permintaan pasar, mendorong Asep bermitra dengan para petani. Semula ia kesulitan lantaran petani belum mengenal tanaman bumbu. Usaha Asep membuahkan hasil, empat petani anggota Kelompok Tani Cipta Mandiri kini menjadi mitra. Total anggota ada 12 petani. Mereka menanam herba secara tumpang sari dengan tanaman keras dan palawija di lahan seluas 5 hektare.

Rosmari Rosmarinus officinalis tumbuh subur di Indonesia.

Petani juga mulai menanam herba dengan kopi Coffea arabica. Asep dan para petani mitra membudidayakan tanaman itu secara organik. Hampir semua bumbu kering Herbcik tersertifikasi organik. Per Agustus 2019, sepuluh herba bersertifikat organik. Jenisnya kebanyakan anggota kerabat Lamiaceae. Selain itu komoditas lain seperti daun poko Mentha sp, telang Clitoria ternatea, dan rosela Hibiscus sabdariffa juga lolos sertifikat organik.

Selain mengelola budidaya organik, Asep juga membuka Warung Langit di kebun Herbcik pada 2016. Konsepnya agrowisata dari kebun ke meja makan, Asep ingin pengunjung menikmati olahan segar dan sehat yang dipetik langsung dari kebun. Pengunjung dapat memetik sendiri beragam herba itu, lalu menikmatinya di kebun. Menu favoritnya antara lain bala-bala bayam, seduhan rosela-daun poko, dan telang-lemon.

Pada akhir 2019 Warung Langit juga menawarkan wisata edukasi pertanian organik. Asep bekerja sama dengan Asosiasi Chef Indonesia (Indonesian Chef Association atau ICA) untuk memasok herba kering pada 2020. Asep percaya diri dapat memenuhi kebutuhan jejaring ICA di seluruh Indonesia. Keunggulan Herbcik selain produk lokal, juga bersertifikat organik.

“Membeli produk Herbcik juga berarti dukungan terhadap petani Indonesia,” kata laki-laki yang telah membantu orang tua bertani sejak sekolah dasar itu. Peluang pasar paling besar restoran lantaran permintaannya sudah pasti dan biasanya dalam jumlah cukup besar. Setiap hotel dan rumah makan yang menyajikan menu Barat tentu memerlukan herba.

Menurut Asep budidaya herba famili Lamiaceae itu sangat menjanjikan. Harap mafhum, kini pasokannya bergantung pada produk impor. Harganya pun lebih mahal daripada produksi lokal. Asep menuturkan, rosmari impor dalam kemasan 15 g di ritel modern harganya Rp25.000—Rp35.000. (Sinta Herian Pawestri)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software