Underdog Kini Menggebrak

Filed in Satwa by on 01/03/2010 0 Comments

Kemenangan papillon milik Leonardus Hidajat di Kemanggisan, Jakarta Barat, itu bak suatu keajaiban. Maklum, sejak 2000 papillon belum pernah menjuari grup 9. Grup yang berisi toys dog alias anjing kecil itu selalu didominasi shih tzu, chihuahua, dan pekingese. Toys dog lain seperti pug dan poodle pun tidak kuasa menggeser posisi ketiganya.

Sosok Cloud—panggilan Premium Sun—memang luar biasa. Penampilannya berbeda dari papillon lain yang pernah turun kontes. Cloud tampil elegan dengan kombinasi hitam dan putih yang tebal dan mengkilap. Bulu ekor pun mengembang seperti tupai. Selain itu, “Cloud memiliki siku kaki yang membuatnya gagah saat berdiri,” kata Darren. Giginya lengkap dan teratur. Wajar bila ia tampil sebagai juara BOG di grup 9 mengalahkan bulu tebal shih tzu dan pekingese atau chihuahua yang mungil.

Darah Jepang

Modal itu juga membawa Cloud menjuari reserve best in show (RBIS). Cloud kalah dari golden retriever yang umurnya jauh lebih tua. “Umur golden lebih matang sehingga bulunya pun maksimal. Namun tak menutup kemungkinan setelah bertambah dewasa Cloud juara. Itu dengan syarat bulunya bertambah maksimal,” kata Darren.

Kontes memang menjadi salah satu barometer pamor suatu trah. Golden retriever, misalnya, banyak digemari hobiis karena kerap menjuari kontes bergengsi berskala nasional dan internasional. Seusai kontes, pamor papillon langsung melesat. “Sudah 10 penelopon yang menanyakan papillon dalam sepekan,” kata Leo yang sejak 2007 khusus membiakkan trah terkenal di Inggris itu. Hasilnya, 5 anakan papillon yang baru lahir langsung laku terjual.

Angka itu belum cukup memenuhi permintaan yang jumlahnya lebih dari 10 ekor. Sebelum kontes hanya segelintir hobiis yang melirik anjing berbobot 2—3,5 kg itu. Bulu papillon yang beredar di pasaran tipis sehingga kurang menarik perhatian. Apalagi bulu di telinga kurang panjang. Padahal bulu panjang dapat menutupi telinganya yang besar seperti sayap kupu-kupu.

Nah, untuk mendapatkan papillon berkualias tentu ada harga yang harus dibayar. Leo harus merogoh kocek sampai puluhan juta. Toh itu tak menghalangi Leo. Bagi pemilik kennel sylphid itu kualitas tetap nomor satu. Awal 2010 Leo mendatangkan 2 ekor papillon dari Jepang. Mengapa Jepang? Tubuh papillon dari Jepang lebih kompak dengan tulang ekor yang tidak menempel di tubuh. Itu membuatnya tampak lebih anggun. Itu kebalikan dari biakan Eropa yang tubuhnya besar, panjang, dan berotot dengan double coat, bulu ganda. “Namun keduanya menarik asal kualitasnya terjaga sesuai standar papillon,” tutur Leo.

Berkualitas

Di luar papillon ada french bulldog yang juga tidak diperhitungkan sebagai jawara. Di kontes yang sama Glamur de Elka Gyvybes Glamur menduduki RBOG 9 setelah Cloud. Seperti Cloud, penampilan Glamur berbeda daripada french bulldog lain yang pernah terjun ke kontes. “Kebanyakan kakinya tinggi, kepala kurang membulat, dan dada tidak lebar,” kata Hans.

Glamur menang dari shih tzu, chihuahua, dan pekingese karena memiliki tubuh kompak dan berotot. Hal itu membuatnya tampak gagah meski berukuran mungil, tinggi sekitar 25—30 cm. Sosok itu juga yang meningkatkan pamor french bulldog. “Permintaan anakan sangat tinggi. Setiap minggu ada saja yang menghubungi saya meminta anakan,” ucap Hans yang membiakkan sejak 2007.

Sejatinya bulldog perancis itu hadir di tanahair sejak 1991. Namun tidak berkembang karena dianggap ‘galak’. Maklum, “Wajahnya mirip english bulldog yang sudah dicap galak,” ujar Hans. Padahal ia jinak dan bersahabat. Sebab lain, harga frenchie mahal karena membiakkan frenchie sulit lantaran susah hamil. “Yang terpenting harga itu setimpal dengan kualitas,” tambah Hans yang menjual anakan umur 8 minggu sekitar Rp7-juta—Rp15-juta/ekor.

Lain lagi pembroke welsh corgi yang sudah masuk ke tanahair sejak 1990. Sayang, pamornya redup karena belum ada prestasi luar biasa yang diraih trah asal Inggris itu. Keberadaan corgi pun terkendala oleh masalah kesehatan. Menurut Shelly Ramli, hobiis di Jakarta Barat, ada saja pet shop yang menjual corgi yang kurang sempurna. “Contohnya hanya memiliki satu scrotum atau mengalami hip displasia (pergeseran pinggul, red),” ucap pemilik kennel Zephyr. Bulu pun kurang terawat sehingga penampilannya kurang menarik. Kendala lain, harga corgi tak kalah tinggi dari papillon dan french bulldog, sekitar Rp10-juta/ekor umur 3 bulan.

Namun sejak 2008 saat corgi yang diwakili Alfie mampu menduduki juara BOG di grup 1 mengalahkan anjing gembala jerman (AGJ), corgi mulai dicari hobiis. Pertengahan 2009, corgi ramai didatangkan dari Asia Timur seperti Taiwan. Berdasarkan perhitungan Shelly sekitar 50 corgi datang dari negeri Formosa itu.

“Yang meminta trah medium itu mayoritas kelurga muda yang memiliki halaman sempit tapi ingin memelihara anjing agak besar,” kata Shelly. Itu cocok dengan corgi yang ukurannya medium dengan tinggi tubuh 25,5—30,5 cm. Sifat corgi pun riang dan gemar bermain. Saat ini baik papillon, french bulldog, dan pembroke welsh corgi pamornya melesat. Anda pilih yang mana? (Lastioro Anmi Tambunan)

Keterangan foto

  1. French bulldog jinak dan senang bermain
  2. Glamur raih RBOG grup 9
  3. Boda milik Hans di Jakarta Selatan
  4. Alfie raih BOG grup 2 mengalahkan AGJ sejak 2008
  5. Papillon kualitas premium dari Jepang
  6. Cloud istimewa dengan bulu tebal dan anatomi sesuai papillon

Foto-foto: Lastioro Anmi Tambunan

 

Powered by WishList Member - Membership Software