Ulat Tentara Segera Menyerah

Filed in Inspirasi, Majalah by on 07/06/2021

Pengendalian preventif ampuh menghindari tanaman jagung dari serangan ulat grayak.

 

Hama ulat grayak menyerang tanaman jagung berbagai umur. Petani kerap gagal panen.

Spodoptera frugiperda menyerang tanaman jagung, berasal dari Amerika Serikat.

Larva muda memakan jaringan daun jagung dan membiarkan lapisan epidermis. Namun, pada instar kedua atau ketiga, larva mulai membuat lubang pada daun, dan memakan dari tepi daun ke dalam. Kepadatan larva berkurang menjadi satu hingga dua per tanaman. Larva yang lebih tua menyebabkan defoliasi yang luas, hanya menyisakan tulang rusuk dan batang tanaman.

 

Itulah kisah serangan ulat grayak Spodoptera frugiperda di lahan jagung milik Novi pada Februari 2020. Petani di Desa Nguluhan, Kecamatan Montong, Kabupaten Tuban, Provinsi Jawa Timur, itu gagal panen. Harap mafhum, daun-daun jagung di kebun seluas 1 hektare itu hancur akibat ulah ulat fall army worm (FAW). Larva menyerang tanaman berumur sebulan.

Semua umur

Menurut dosen di Departemen Proteksi Tanaman, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. Dra. Dewi Sartiami, M.Si., semua fase pertumbuhan tanaman jagung menjadi sasaran serangan. “Ngengat (serangga dewasa Spodoptera frugiperda, red) akan mengenali lokasi penanaman tanaman muda berumur kurang dari sebulan dan meletakan telur,” kata doktor Entomologi alumnus Universiti Kebangsaan Malaysia itu.

Dewi mengatakan, setelah telur menetas ulat mulai memakan daun. Serangan ulat pada fase instar 3—6 mengakibatkan kerusakan berat pada tanaman. Hingga akhirnya ulat menjadi pupa di dalam tanah. Akibat serangan ulat tentara—julukan Spodoptera frugiperda—tingkat kerugian Novi hingga Rp20 juta terdiri atas biaya pengolahan tanah, pupuk, benih, dan tenaga kerja. Pria kelahiran 8 Maret 1994 itu tak jera menanam Zea mays.

Petani jagung di Desa Nguluhan, Kecamatan Montong, Kabupaten Tuban, Provinsi Jawa Timur, Novi. Lasiyo.

Penanaman berikutnya pada Februari 2021, Novi optimis panen raya bersamaan dengan Idul Fitri 2021. Impian itu terwujud, Novi panen 9 ton jagung di lahan 1 hektare. Menurut Novi kunci sukses panen jagung itu penyemrpotan insekstisida berbahan aktif emamektin benzoat 5% untuk mencegah serangan ulat anggota keluarga Noctuidae itu. Pemuda 27 tahun itu melarutkan 8 gram insektisida di tangki berkapasitas 16 liter.

Setelah mengaduk rata, Novi menyemprotkannya di sekujur tanaman. Menurut Novi sekali penyemprotan di lahan 1 ha memerlukan 225 gram insektida. Penyemprotan perdana ketika tanaman berumur 15—20 hari. “Pestisida sebelumnya tidak mempan. Diaplikasikan hari ini besok udah muncul lagi,” kata lulusan SMK Taruna Jaya Prawira, Tuban, itu.

Menurut Brand Manager PT Syngenta Indonesia, Frendy Tarigan, insektisida Proclaim 5SG berbahan aktif emamektin benzoate 5% mampu mencegah serangan ulat grayak. Insektisida itu bersifat racun lambung. Frendy mengatakan, penyemprotan ketika tanaman berumur 15—20 hari untuk pencegahan. Pria 39 tahun itu mengatakan, konsentrasi penyemprotan hanya 0,75 gram per liter air.

Pilihan lain untuk mengendalikan hama ulat grayak berupa Minecto Xtra 200/200SC. Insektisida berbentuk pekatan suspensi itu berbahan aktif siantraniliprol 200 g/l dan Iufenuron 200 g/l. “Volume semprot petani jagung rata-rata 200—300 liter per hektare, jadi konsentrasi yang disarankan 0,5 mililiter per liter air,” kata pria kelahiran Desember 1982 itu. Frendy mengatakan, penyemprotan pada dua pekan setelah produk sebelumnya atau 30—35 hari setelah tanam.

Bahan aktif lufenuronmenghambat penetasan telur dan mencegah larva ulat grayak untuk pergantian kulit. Seekor betina ngengat meletakkan 1.000—2.000 telur per sekali peneluran. Sementara itu diameter telur 0,4 mm dan tinggi 0,3 mm. Itulah sebabnya tingkat serangan menurun akibat populasi menurun. “Bahan aktif yang berbeda berarti grup insektisida yang berbeda. Perlakuan itu bermanfaat untuk menghindari terjadinya resistensi,” kata Frendy.

Perlakuan benih

Petani di Desa Sumbernadi, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, I Wayan Sudi, mencegah serangan ulat tentara dengan perlakuan benih. Ketua kelompok tani Sumber Nadi Satu itu menggunakan Fortenza® 600 FS.

Tanda serangan hama ulat tentara pada tanaman jagung.

Wayan Sudi memilih insektisida berbahan aktif Siantraniliprol 600. Pria 49 tahun itu melarutkan 2,4 ml insektida dalam 10 ml air ke dalam plastik. Ia mengaduk rata, lalu memasukkan 1 kg benih ke dalam larutan dan menekan-nekan secara perlahan agar seluruh permukaan benih benar-benar terlapisi. Kemudian Wayan mengeringanginkan benih selama 3—5 menit. Wayan menanam jagung di lahan 2 hektare.

Tanaman tampak sehat dan tidak menunjukkan serangan ulat. “Saya baru pakai Februari 2021. Sejauh ini kondisi tanaman masih baik-baik saja. Musim tanam sebelumnya biasanya tanaman umur 14 hari sudah terdapat banyak serangan,” kata Wayan. Ia mengatakan musim tanam sebelumnya, akibat serangan ulat tentara mengakibatkan kerugian sampai 65%. Kalaupun sekarang ada serangan, menurut Wayan masih dalam batas wajar, sehingga belum membutuhkan perlakuan khusus atau tambahan.

Brand Manager F&V Fungicide, Bio Stimulant and Seed Treatment Business, Syngenta Indonesia, Richard Purba.

Menurut Brand Manager F&V Fungicide, Bio Stimulant and Seed Treatment Business, Syngenta Indonesia, Richard Purba, perlindungan fase awal tanam amat krusial. Bila tanpa perlindungan, banyak tanaman rusak seperti pengalaman Wayan. Akibatnya tanaman tidak produktif. “Kehilangan populasi di 30 hari pertama karena populasi ulat tinggi mencapai 10—30%. Aplikasi insektisida foliar adalah yang paling umum digunakan untuk pencegahan pada umur 15—20 hst.

Sayangnya, acap kali banyak tanaman jagung yang sebenarnya sudah rusak di 15—20 hari pertama. Oleh karena itu, pencegahan sejak dini menjadi penting. Alumnus Ilmu Tanah Institut Pertanian Bogor (IPB) itu mengatakan, fortenza bekerja sistemik pada tanaman. Insektisida berbentuk pekatan itu bertahan di jaringan tanaman 15—30 hari.

Ia mengatakan, bahan aktif Fortenza langsung bekerja menyerang sistem otot ulat grayak. Akibatnya, ulat lumpuh, tidak dapat beraktivitas, dan akhirnya mati. Beragam upaya itu untuk mengendalikan ulat tentara yang menyelinap di kebun jagung.Beragam upaya itu untuk mengendalikan serangan ulat tentara yang menyelinap di kebun jagung. (Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software