Uang Kuliah Modal Bisnis

Filed in Majalah, Satwa by on 03/10/2019

Achmad Taif Umar berbisnis pakan kelinci sejak 2016.

Hobi memelihara kelinci hias menjadi bisnis yang menguntungkan. Bisnis merambah ke jenis pedaging dan pakan. Uang kuliah menjadi modal.

Tak memiliki modal untuk memulai agribisnis? Achmad Taif Umar juga demikian. Modalnya nol besar! “Celakanya” ia kesengsem kelinci hias ras flemish giant. Pemuda yang baru kuliah semester ke-4 di Universitas Padjadjaran itu nekat membeli 15 indukan kelinci flemish giant. Total biaya Rp10 juta. Dari mana uangnya? Taif menerima uang Rp20 juta dari orang tuanya untuk membayar biaya kuliah dari awal masuk hingga lulus.

Keruan saja ia diam-diam membeli kelinci hias. Ia tak memberi tahu kedua orang tuanya di Kota Palopo, Sulawesi Selatan, karena khawatir menolak idenya. Taif tak berpengalaman merawat kelinci. Itu kali pertama ia merawat satwa hias. Pantas, pria 26 tahun. itu waswas ketika 15 ekor kelinci bersosok bongsor itu datang di kos-kosannya. Benar saja, sepekan pertama 5 kelinci itu mati satu per satu. Taif sejatinya panik menghadapi musibah itu.

Titik impas

Tersisa 10 kelinci terdiri atas 4 jantan dan 6 betina. Enam bulan kemudian populasi kelincinya menjadi 25 ekor. Ia menjual anakan berumur 4—5 bulan Rp300.000—Rp1,5 juta per ekor. Hasil penjualan anakan itu cukup untuk menutup modal awal pembelian bibit kelinci.

Produksi pakan kisaran 18—21 ton memenuhi permintaan Jawa dan Sumatera.

Ia tak membatasi jumlah pembelian. Meski konsumen membeli seekor pun, Taif tetap melayaninya. Namun, biasanya konsumen membeli minimal sepasang kelinci hias. Taif tertarik berternak kelinci karena potensi besar pasar satwa anggota keluarga Leporidae itu. Semula Taif bermain di pangsa kelinci hias karena harga jual kelinci yang tinggi. Perputaran uang cepat sehingga balik modal pun cepat. Ia mencontohkan ras flemish giant potensi anakannya 5—6 ekor. Dalam setahun bisa 4—5 kali melahirkan.

Achmad Taif Umar menangkarkan ras new zealand sejak 2015.

Artinya potensi anakan bisa 20—30 ekor per ekor per tahun. Menurut Taif dengan harga jual Rp300.000—Rp1,5-juta balik modal pada pemeliharaan 6 bulan sangat memungkinkan. Ia membuktikannya sehingga mampu “membayar utang” uang kuliah Rp10 juta yang dijadikan modal. “Keuntungan ditabung untuk menambah indukan,” katanya. Namun, berbisnis kelinci tidak selamanya manis. Jika perawatan kurang tepat mortalitas anakan bisa tinggi mencapai 80%.

Semula hobi pada 2013, kini Taif serius menggarap pembesaran dan penangkaran kelinci hias. Kini Taif tidak menangkarkan lagi ras flemish giant. Sejak akhir 2015 pria yang berdomisili di Sumedang, Jawa Barat sejak 2010 itu kepincut ras new zealand white.

Kelinci pedaging

Pada akhir 2015 kelinci new zealand white berkembang dengan lahir 3 anakan baru. Dari 3 ekor itu pada 2017 kelinci tangkaran Taif terpilih menjadi best in show pada ajang kontes kelinci internasional di Yogyakarta. “Kala itu pertama kali ras new zeland menjadi best in show,” kenangnya. Kini Taif lebih fokus menangkarkan ras new zealand. Total indukan 57 betina dan 18 ekor jantan. Rata-rata Taif menjual 60 kelinci ras new zealand per bulan ke kolega.

Pasokan daging rata-rata 200 kg untuk memenuhi permintaan Bali.

Taif yang menamatkan pendidikan sarjana pada 2015 itu mengatakan harga jual per ekor Rp2 juta—Rp3,5 juta. Harga anakan impor Rp3,5 juta—Rp6 juta per ekor umur 3—4,5 bulan. Omzet dari perniagaan kelinci hias saban bulan rata-rata Rp120 juta—Rp360 juta. Selain kelinci hias, Taif juga memasok kebutuhan kelinci pedaging. Taif mulai memasok daging kelinci sejak 2017. Pasokan dari mitra peternak kelinci lokal.

Pada 2019 Taif bisa memasok rata-rata 200 kg daging kelinci. “Harga jual per kilogram sekitar Rp75.000. Jika tanpa kepala Rp85.000,” katanya. Pasokan daging dikirim ke Bali untuk bahan pakan anjing. Omzet dari perniagaan daging kelinci mencapai Rp15 juta—Rp17 juta saban bulan. Keuletan Taif membuktikan bahwa bisnis tidak selamanya harus bermodal besar. Selain itu dari kegagalan Taif makin paham mengenai kelinci.

Sejak 2016 meracik dan menjual pakan kelinci untuk pehobi. Salah satu masalah adalah kualitas pakan. Pada 2019 Taif memiliki pabrik pakan sendiri di Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, di lahan 1.800 meter persegi. Rata-rata produksi kisaran 18—21 ton saban bulan.

Produksi itu untuk memenuhi permintaan pehobi di Pulau Jawa dan Sumatera. Harga jual per kemasan 25 kg Rp180.000—Rp185.000. Bisnis pakan kelinci juga memberi tambahan omzet mencapai Rp129 juta—Rp155 juta saban bulan. Taif menjalani bisnis yang terkait kelinci, bermula dari uang kuliahnya. (Muhamad Fajar Ramadhan)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software