Turki Punya Tulip, Belanda Punya Nama

Filed in Eksplorasi by on 02/08/2013

Bertemu kembang sorban di kampung halamannya: Turki.

Hamparan tulip itu begitu seronok. Warnanya jingga berpadu kuning cerah yang kontras dengan daun dan hamparan rumput di bawahnya. Di sudut lain menghampar tulip putih yang anggun dan elegan, tulip merah muda yang terlihat “feminin”, dan tulip ungu yang warnanya begitu solid dan mencolok. Semua bermandikan sinar matahari yang memancar cerah di langit Istanbul, Turki, pada awal musim semi.

Hamparan tulip di halaman Masjid Sultanahmed, Istanbul, Turki

Hamparan tulip di halaman Masjid Sultanahmed, Istanbul, Turki

Pada akhir Maret 2013 itu Istanbul bagai ruang pamer keindahan tulip. Hamparan bunga tanaman anggota famili Liliaceae itu mudah dijumpai di berbagai sudut kota: di jalur hijau yang membatasi jalan raya, taman di depan rumah makan, hingga sepanjang bibir pantai Selat Bosporus yang memisahkan Turki bagian Eropa dan Turki bagian Asia. Warna-warni bunga kerabat amarilis itu membuat suasana kota begitu gempita, hidup, dan riuh. Benar-benar berbeda dengan suasana muram di Venezia dan Bologna, keduanya di Italia, yang baru saja Trubus tinggalkan yang masih berselimut sisa musim dingin.

Hamparan tulip-tulip itu mengingatkan pada foto-foto di kartu pos, kalender meja, dan buku-buku perjalanan wisata. Bedanya foto-foto itu kebanyakan mengabadikan keindahan tulip di Belanda dengan latar belakang kincir-kincir angin kuno. Duhai, tulip memang sudah telanjur identik dengan Belanda. Bahkan negara di Eropa barat laut itu mendapat julukan Negeri Tulip. Padahal sejarah menunjukkan tulip berasal dari Turki.

Sam Segal dalam “Tulips Potrayed, the Tulip Trade in Holland in the 17th Century” menulis tulip sudah disebut-sebut dalam puisi Umar Kayyam, penyair terkenal Persia pada abad ke-12. Namun, Sultan Muhammed II, Raja Persia penakluk Konstantinopel—sekarang Istanbul—yang dianggap berperan mempopulerkan tulip. Pascapenaklukan Konstantinopel Sultan Muhammed II yang hidup pada 1431—1481 membangun taman-taman kota dengan tulip di dalamnya. Pada masa itu taman tanaman hias dan bunga belum ada di Eropa. Penduduk Benua Biru lebih mengenal kebun herbal.

Tulip dan taman tulip kian populer di masa Sultan Sulaiman II (1520—1566). Bahkan sosok lalé—begitu nama bunga itu dalam bahasa Turki—hadir dalam motif ubin dan gerabah setempat. Pada masa itulah duta besar Kerajaan Austria (Hapsburg), Ogier Ghislain de Busbecq menulis surat tentang taman tulip yang dilihatnya di Konstantinopel. Busbecq menyebut sosok bunga di taman itu seperti dulband (bahasa Belanda) atau turban alias sorban. Sebutan itu terpeleset menjadi tulipam dan kemudian menjadi tulip yang dikenal sekarang ini.

Tulip biasa ditata di taman bersama bunga berumbi lain seperti hyacinth berwarna ungu (di latar belakang)

Tulip biasa ditata di taman bersama bunga berumbi lain seperti hyacinth berwarna ungu (di latar belakang)

Busbecq lalu mengirimkan biji dan umbi tulip kepada koleganya, Charles de l’Écluse alias Carolus Clusius, dokter dan botanis yang menjadi kepala kebun kerajaan di Wina, ibukota kerajaan. Clusius membawa umbi tulip itu ketika pindah ke Universitas Leiden, Belanda dan membuka kebun botani pertama di dunia yang fokus pada tanaman hias, bukan herbal. Dari sanalah tulip menyebar kepada pekebun-pekebun di Belanda.

Sam Segal juga mencatat, dari Wina tulip menyebar ke Eropa bagian tengah dan barat, pun ke Eropa bagian utara melalui Venezia. Tulip pun ditanam di kebun raya-kebun raya di Italia. Dari Flander, Belgia, kerabat kembang sungsang Gloriosa superba itu masuk ke Belanda. Tanah yang subur membuat tulip dengan cepat berkembang di Belanda. Kebun-kebun tulip pun segera bermunculan. Para pekebun membudidayakan secara intensif dan mengekspornya. Mula-mula mereka berdagang dengan Perancis, Inggris, dan Jerman lalu ke berbagai penjuru dunia. Bahkan Sultan Ahmed III (1703—1730) pernah mengimpor tulip Belanda ke Turki.

Dari tangan para pekebun dan penyilang Belanda lahir hibrida-hibrida baru. Pada abad ke-17 misalnya hibrida baru disebut dengan nama pekebunnya, misal Tulipa Iacobi Bommii dan Admirael Pottebacker. Admirael Hendrick Pottebacker tinggal di Gouda, kota di Belanda yang terkenal dengan kejunya. Pada masa itu tulip pun menjadi tanaman koleksi prestisius. Harga umbi tulip demikian mahal—mencapai ribuan gulden. Pakar keuangan dan investasi, Dr Ir Roy Sembel, MBA, dalam sebuah wawancara pada 2007 menyebut fenomena itu sebagai tulip buble.

Kini terdapat sekitar 3.000 varietas asal Belanda yang menyebar ke berbagai negara

Kini terdapat sekitar 3.000 varietas asal Belanda yang menyebar ke berbagai negara

Namun, tulip memang memberi nilai ekonomi tinggi buat masyarakat Belanda. Menurut marketing specialist rumah lelang Flora Holland, Ing Joost Naber, kini tulip merupakan lima besar bunga potong andalan ekspor Belanda selain mawar, krisan, gerbera, dan lili. Sentra penanamannya di Haarlem dan Leiden. Dr Leonard Perry dari Departemen Ilmu Tumbuhan dan Tanah, University of Vermont, Amerika Serikat, menyebut setiap tahun produksi tulip di Belanda mencapai 3-miliar umbi. Umbi-umbi itu yang kemudian diperdagangkan ke seluruh dunia dalam bentuk bunga potong pun umbi sebagai bibit. Belanda pemasok utama tulip dunia.

Leonard menyebut kini terdapat 3.500 varietas tulip di Belanda. Keindahannya antara lain dapat kita saksikan di Taman Keukenhof yang terkenal itu. Menurut kolega Trubus di Rotterdam, Henk van Staalduinen, April saat tepat menikmati tulip ketika negeri itu memasuki musim semi. Ketika itu “wajah” Belanda dipenuhi dengan bunga turban. Maka tidak sepenuhnya salah jika tulip begitu identik dengan negeri van Oranje itu. (Evy Syariefa)

 

Powered by WishList Member - Membership Software