Tumbal Demi Monthong Kelas 1

Filed in Buah by on 01/02/2009 0 Comments

 

Buah hasil sortir itu lalu dimasukkan ke dalam dus berukuran 45 cm x 39 cm x 23 cm. Setiap dus berisi 3 atau 4 durian monthong. Supaya tidak saling bersinggungan, antarbuah diberi sekat kertas karton. Di sisi depan dan belakang dus masing-masing ada 2 lubang berdiameter 3 cm. Itu supaya sirkulasi udara lancar dan suhu dalam kardus tak panas sehingga buah tak gampang matang. Terakhir tutup atas dus direkatkan menggunakan selotip.

Dus-dus durian itu kemudian ditumpuk lima-lima. Setelah jumlahnya mencapai 225 dus, monthong-monthong itu dimasukkan ke dalam kontainer 15 feet. Buah berduri itu pun siap dikirim ke pasar swalayan langganan di seberang pulau.

Seleksi ketat

Pemandangan itu bukan di kebun salah satu eksportir durian di Rayong – sentra di Thailand. Monthong berpenampilan kelas 1 itu ada di kebun milik Kasem Usman di Kelurahan Tanjungagung, Kecamatan Katibung, Kabupaten Lampung Selatan.

Penampilan buah Durio zibethinus di kebun seluas 15 ha itu seragam karena sejak ‘bayi’ dipilih ketat. Usman memulai proses seleksi saat bunga belum mekar. Jika dilakukan saat bunga mekar berisiko rontok. Di setiap cabang berdiameter 5 cm hanya disisakan 5 dompol bunga. Dompolan yang diprioritaskan terletak di dekat batang utama. Perhitungan pria kelahiran Medan 47 tahun silam itu bunga dan buah dekat batang utama mendapat distribusi makanan lebih besar.

‘Ukuran cabang yang besar menandakan distribusi nutrisi tinggi. Sebaiknya buah dipelihara pada cabang besar minimal seukuran lengan agar perkembangannya bagus dan cabang tak gampang patah,’ tutur Ir Panca Jarot Santoso, pakar durian dari Balai Penelitian Buah, Solok. Jarak antardompolan sejengkal atau kira-kira 20 – 22 cm. Tujuannya agar nutrisi terdistribusi merata pada semua buah dan saat buah membesar tidak bersinggungan dengan dompol lain.

Jumlah dompolan yang disisakan tergantung diameter cabang. ‘Prinsipnya setiap sentimeter diameter cabang sebanding dengan 1 dompol bunga,’ tutur Usman. Misal pada cabang berdiameter 12 cm dipertahankan 12 dompol bunga.

Buah terbentuk sekitar 2 – 3 minggu pascabunga mekar. Biasanya dari 20 bunga dalam sedompol hanya menjadi 5 – 6 buah.

Ketika buah sebesar ujung ibu jari dilakukan seleksi kedua. Pada setiap dompol disisakan 1 buah saja. Yang dipilih buah berukuran terbesar dan bentuk bulat normal – tidak bengkok.

Jika pada 1 dompol semua buah berbentuk abnormal – bengkok-bengkok, seluruhnya dibuang. Sebagai ganti di dompol lain dipertahankan 2 buah sempurna. Itulah cikal-bakal monthong seperti yang terlihat di gudang pengepakan. Perlakuan serupa diterapkan pekebun di Thailand. Di Rayong monthong yang bergelantungan di pohon berbentuk bulat sempurna.

Kertas minyak

Pascaseleksi, dilanjutkan dengan proses membungkus buah. Buah dibungkus supaya selamat dari serangan ulat penggerek buah Hypoperigea leprostricta dan Tirathaba ruptilenea. ‘Selain pembungkusan, penjarangan juga mampu mengurangi risiko terserang hama penggerek buah yang biasa bersembunyi di sela-sela dompolan,’ kata Jarot. Dua musuh pekebun durian itu menyebabkan buah muda busuk dan rontok. Ngengat cokelat tua dengan bercak putih di sayap itu mampu menembus kulit durian muda, lalu menyimpan telur di dalamnya. Di dalam buah, telur yang berubah jadi ulat menggerogoti durian muda hingga busuk.

Pekebun lain biasanya mengatasi dengan menyemprot pestisida. Namun, pengalaman Usman, dengan dibungkus buah tidak perlu disemprot pestisida. Kerusakan pada buah pun hanya 5 – 10% dari seluruh panen. Bila tidak dibungkus kerusakan mencapai 50% meski sudah disemprot pestisida.

Buah seukuran jempol harus segera dibungkus. Jika terlambat, ngengat telanjur menyimpan telur. Sebagai pembungkus, Usman menggunakan kertas minyak. Kertas minyak tahan air dan tembus cahaya matahari. ‘Pernah coba pakai kertas koran tapi mudah hancur terkena hujan. Pembungkusan dengan plastik hitam membuat kulit buah pucat,’ tutur suami Christina Ilyas itu.

Perlakuan itu sejalan dengan pendapat Ir Wijaya, MS, mantan peneliti di Kebun Percobaan Cipaku, Deptan. ‘Plastik pembungkus buah sebaiknya transparan sehingga cahaya matahari masih tembus dan kulit buah tidak pucat,’ ujar konsultan beberapa kebun durian itu.

Bagian bawah plastik dibiarkan terbuka. Itu supaya kelembapan di dalam plastik tidak terlalu tinggi. Kelembapan tinggi jadi lingkungan nyaman tempat tumbuh cendawan penyebab buah busuk. Meski bagian bawah plastik terbuka, ngengat penggerek buah tak bakalan bisa masuk. Serangga itu arah lintasan terbangnya horizontal – tidak bisa berbelok dulu ke bawah.

Tekanan tinggi

Berbahan kertas minyak yang biasa dipakai untuk membungkus kue, Usman membuat kantong berukuran 25 cm x 40 cm. Bagian bawah ditutup karena dengan bahan kertas kelembapan di dalam kantong tetap rendah. Daya tahan kantong hingga 2 bulan. Jika buah mulai dibungkus saat sebesar jempol, kantong rusak ketika buah seukuran bola takraw. Toh buah aman karena serangga tidak lagi mampu menembus kulit yang sudah mengeras.

Buah siap panen pada kematangan 80%. Itu kira-kira 110 – 115 hari pascabunga mekar. Di gudang pengepakan, kulit buah disikat supaya bersih dari bekas kantong kertas. Kotoran membandel dihilangkan dengan menyemprot udara bertekanan tinggi. Dari populasi 800 pohon setiap musim dipanen 100 buah per pohon. Bantal emas berpenampilan prima itulah yang nantinya terpajang di pasar-pasar swalayan di Jakarta. Demi monthong kelas 1, seleksi yang meminta tumbal – dibarengi budidaya intensif – pun rela dijalani. (Nesia Artdiyasa/ Peliput: Karjono dan Lani Marliani)

 

Powered by WishList Member - Membership Software