Trotol pun Pergi

Filed in Sayuran by on 01/02/2013 0 Comments

Kenali lalu kendalikan.

Setiap kali memasuki musim tanam, petani bawang merah di Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul, Purjianto, seolah sudah bersiap kehilangan 30-40% hasil panen karena serangan trotol. “Meski tidak lantas menyebabkan gagal panen, kehilangan hasil sebesar itu merugikan,” kata Purjianto tentang penyakit akibat serangan cendawan Alternaria porri itu. Gejala serangan ditandai hadirnya bercak berukuran kecil, melekuk, berwarna putih dengan pusat ungu. Ujung daun mengering dan daun akhirnya patah.

Pada musim panen akhir Agustus 2012, Purjianto hanya menuai 5 ton umbi bawang merah dari total lahan 0,5 hektar di beberapa tempat terpisah. Produktivitas nasional rata-rata bawang merah mencapai 12-14 ton per ha. Apa lacur sebanyak 0,3 hektar dari total lahan terserang trotol. Purjiarto berupaya mengendalikan dengan pestisida tapi hanya 0,2 ha yang selamat, sisanya 0,1 ha amblas.

Udara lembap

Umbi bawang merah yang bagus berukuran besar dan berwarna merah cerah. Serangan trotol menyebabkan kualitas umbi turun: ukuran kecil, warna kusam. Akibatnya harga jual juga turun. Dari 0,2 ha lahan yang bebas serangan trotol, Purjianto memanen 2,5 ton umbi. Harga jual Rp4.000 per kg. Dari 0,2 ha lahan yang dapat dikendalikan pria 40 tahun itu memperoleh 1,9 ton, harga Rp3.200 per kg. Sementara dari 0,1 ha lahan terserang trotol, ia menuai 0,6 ton, harga Rp2.000 per kg.

Total jenderal Purjianto menuai omzet Rp17-juta. “Memang jumlah itu masih mampu menutupi biaya produksi sebesar Rp5-juta. Tapi bila serangan trotol dapat diatasi tentu keuntungan yang didapat lebih banyak,” katanya. Petani lain di Kretek, Slamet, juga harus merelakan 30% hasil panen hilang akibat trotol. Dari luas lahan 1.100 m2 ia hanya mampu menuai 800 kg umbi bawang merah.

Menurut ketua Kelompok Tani Kecamatan Kretek, Kadiso, trotol alias bercak ungu memang menjadi penyakit utama bawang merah di sana. Biasanya cendawan Alternaria porri menginfeksi ketika tanaman membentuk umbi yakni 35-50 hari setelah tanam (hst). Serangan itu menyebabkan potensi produksi varietas lokal yang ditanam oleh hampir 97% petani di Kretek yakni 14 ton/ha tidak optimal. Menurut Haryadi dari Balai Proteksi Tanaman Pertanian Daerah Istimewa Yogyakarta serangan trotol mengganggu proses fotosintesis tanaman sehingga pengisian umbi berkurang. Haryadi menuturkan serangan trotol mulai berkembang di Kretek sejak awal 2000. Wilayah Kretek masuk dalam zona endemik cendawan Alternaria porrii (lihat peta).

Biasanya serangan meningkat dua kali lipat pada penanaman di musim tanam kedua (Juli) dibanding musim tanam pertama (Maret). Pada Juli meski memasuki kemarau, kelembapan udara justru tinggi. Suhu udara tinggi mencapai 29-300C tapi sudah banyak mendung. “Pada kondisi itu kelembapan udara bisa mencapai 90% sehingga cocok untuk pertumbuhan cendawan. Apalagi wilayah itu berdekatan dengan pantai. Penguapan air di laut menyebabkan kerap muncul kabut,” papar Haryadi.

Kenali penyakit

Ahli penyakit tanaman dari Klinik Tanaman di Institut pertanian Bogor, Dr Widodo menuturkan trotol menyebar melalui air dan angin. Periode embun ikut berperan serta menyebarkan cendawan yang menginfeksi hampir di sentra bawang merah di tanahair. Widodo menjelaskan periode embun merupakan lama basahnya permukaan daun. Jangka waktunya 12-15 jam sejak matahari terbenam hingga terbit. Saat itu adalah kondisi nyaman bagi cendawan untuk berkembang.

Ketika periode embun berlangsung spora Alternaria porii yang menempel di daun hanya butuh 9-12 jam untuk mengembangkan miselia. Selang 1-4 hari gejala berupa bercak kecil melekuk berwarna putih dengan pusat ungu pun terlihat. Dalam satu daun terserang terdapat ribuan spora. Luka pada umbi bisa menjadi pintu masuk cendawan itu. Sumber cendawan trotol juga dapat berasal dari bibit yang sakit. Oleh karena itu pilih benih yang berasal dari tanaman sehat.

Untuk mengendalikan trotol, Purjianto menyemprotkan fungisida berbahan aktif difenokonazol. Sayang tindakan itu hanya mampu menyelamatkan 0,2 ha, sisanya 0,2 hektar terserang dengan intensitas serangan sedang, dan 0,1 hektar serangan berat.

Widodo menuturkan sebelum menggunakan pestisida petani harus mengenali sasaran yang akan dikendalikan. “Ada beragam jenis fungisida sesuai kegunaannya. Oleh karena itu pastikan bahan aktif yang terkandung di dalamnya memang ditujukan untuk cendawan yang akan dituju,” kata doktor alumnus Hokkaido University itu.

Widodo menyarankan sebaiknya jangan menggunakan satu macam bahan aktif tertentu dalam jangka waktu lama karena justru membuat organisme penggangu tanaman itu menjadi resisten. Apalagi bila penggunaannya tidak sesuai anjuran. “Yang banyak terbunuh justru mikroorganisme menguntungkan, sedangkan organisme pengganggunya semakin kebal. Dalam satu musim tanam sebaiknya lakukan pergiliran pestisida dengan 2-3 macam bahan aktif,” tutur Widodo.

Tindakan preventif berupa kontrol tanaman dua hari sekali sejak tanam menjadi penting. Begitu terlihat ada gejala tanaman sakit segera potong daun yang terserang trotol lalu kubur dalam tanah atau bakar. Pemupukan berimbang juga membantu meminimalisir risiko serangan. Menurut Widodo kekurangan kalium menyebabkan tanaman rentan terserang penyakit. “Dengan menggunakan benih sehat, pengamatan tanaman, pemupukan berimbang, dan pemilihan pestisida yang tepat maka serangan trotol dapat ditekan,” kata Widodo. (Andari Titisari)

Keterangan Foto :

  1. “Serangan trotol di musim tanam kedua meningkat dua kali lipat,” kata Purjianto
  2. Serangan trotol mengurangi hasil panen sebesar 30-40%
 

Powered by WishList Member - Membership Software