Tren & Kiat Sukses Budikdamber

Filed in Majalah, Topik by on 03/07/2020

Kangkung primadona untuk budikdamber.

 

Tren budikdamber melanda masyarakat perkotaan. Pelaku memanen sayuran dan ikan dalam satu wadah untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga sekaligus berpeluang bisnis.

Pelaku budikdamber di Denpasar, Putu Noviyanti.

Kerja kantoran sembari kuliah magister terlalu berat bagi Putu Noviyanti, S.Si. Pada April 2020, warga Kota Denpasar, Provinsi Bali, itu memutuskan mundur dari pekerjaan formal untuk berjualan secara daring. Saat budidaya ikan dan sayuran dalam ember (budikdamber) makin tren, ia pun tertarik. Kebetulan tetangga membiarkan ember teronggok berhari-hari di halaman. Tanpa malu-malu alumnus Jurusan Kimia Universitas Udayana itu meminta ember itu untuk berbudikdamber.

Putu mengisi ember berkapasitas 70 liter dengan 60 lele berukuran 6 cm. Ia menggantungkan 12 gelas plastik bekas air minum berisi kangkung di bibir ember. Berselang 25 hari ia memanen kangkung yang tingginya hampir 25 cm. Usai panen, Putu menambah satu unit budikdamber. Kali itu ia tidak segan membeli ember baru karena sudah membuktikan kemampuan menanam sayuran sekaligus memelihara ikan. Makin lama kemampuan dan pemahamannya meningkat.

Tren budikdamber

Putu mengatakan hasil budikdamber, “Niatnya untuk konsumsi sendiri.” Namun, ia mengolah kangkung hasil panen menjadi keripik. Mahasiswi Magister Bioteknologi Pertanian Universitas Udayana itu mengemas keripik kangkung dan menawarkan kepada tetangga, keluarga, dan teman dekat. Ia baru menjual sekitar 15 kantong berisi 100 gram keripik seharga Rp10.000. Putu belum pernah memanen lele. “Kira-kira awal Juli baru panen,” katanya.

Lajang 26 tahun itu ingin membandingkan dulu rasa lele dari embernya dengan lele di pasar. Ia pun berencana membuat kreasi olahan lele. Putu bertekad budikdambernya tidak sekadar hobi tapi mendatangkan penghasilan. Hingga Juni 2020, Putu membelanjakan Rp300.000 untuk membeli ember, kawat, bibit kangkung, serta bibit dan pakan lele. Pakan lele dan bibit kangkung belum habis tapi Putu mendapat pemasukan dari penjualan keripik kangkung.

Ikan gabus salah satu alternatif ikan untuk budikdamber.

Pelaku budikdamber seperti Putu cukup banyak dan tersebar di berbagai kota. Sekadar menyebut contoh di Bantul, Yogyakarta, ada Nauruzzaman Eko Masruri, S.Pd.T. Guru Teknik Mesin itu merakit sendiri dan mengelola 12 budikdamber. Alumnus Universitas Negeri Yogyakarta itu memelihara beragam ikan seperti lele, patin, dan nila di ember berbeda. Begitu juga dengan jenis sayuran di bagian atas ember pun beragam seperti sawi, kangkung, dan tomat. Selain itu Ruri, sapaan Nauruzzaman Eko Masruri, juga memasarkan lebih dari 350 unit budikdamber sejak pertengahan Mei—Juni 2020.

Keripik kangkung kreasi Putu Noviyanti.

Dua bulan terakhir, peminat budikdamber melesat. Perakit budikdamber di Kota Depok, Jawa Barat, Titut Wibisono, mampu menjual 109 unit pada Mei 2020. Sebulan berselang penjualannya melonjak hingga 281 unit. Alumnus Universitas Jenderal Soedirman itu mematok harga Rp125.000—Rp499.000 per unit. Ia menduga penjualan melonjak sebagai dampak kejenuhan masyakarat yang terlalu lama bekerja di rumah saat pandemi korona.

Sembari bekerja di rumah, mereka bisa melampiaskan hobi merawat ikan sekaligus sayuran. Apalagi merakit budikdamber sendiri juga relatif mudah dan biaya terjangkau (baca: Satu Unit 60 Menit halaman 26—27). Budikdamber menjadi tren sejak banyak orang bekerja dari rumah dan pemberlakuan pembatasan sosial di berbagai daerah akibat pandemi virus korona. Grup budikdamber di media sosial anggotanya lebih dari 10.000 meski tentu saja tidak semua aktif membudidayakan.

Bank Indonesia bekerja sama dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bogor membagikan budikdamber ke tujuh kelompok wanita tani (KWT) sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan. Kepala Penyuluh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bogor, Dian Herdiawan, mengatakan, “Untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga selama pandemi korona dan memasuki masa normal baru.” Lembaga itu memberikan masing-masing 20 unit budikdamber dan 100 benih ikan lele. Beberapa KWT yang menerima bantuan itu adalah KWT Pendopo di Kelurahan Katulampa, Kecamatan Bogor Timur, KWT Berkarya di Cilendek Barat, Kecamatan Bogor Barat, dan KWT Bougenville di Kelurahan Ranggamekar, Bogor Selatan.

Ketahanan pangan

Peminat budikdamber pun tersebar di banyak daerah Nusantara, tidak terbatas di kota kecil atau kota besar. Daya tarik utamanya adalah kepraktisan dan kesederhanaan. Sekilas amat mudah memanen ikan dan sayuran di ember. Namun, di balik itu banyak aral. Lihat saja Dian Indrianto yang menebar 450 lele di lima unit budikdamber berkapasitas 80 liter. Pelaku budikdamber di Kota Cirebon, Jawa Barat, terkejut ketika ratusan ikan mati, yang bertahan 15 ekor (baca: Mereka Tersandung Budikdamber halaman 20—21). Namun, jika semua aral teratasi pelaku budikdamber memetik faedah besar.

Lele asam manis olahan lele dan daun kemangi hasil budikdamber.

Pemilik budikdamber dapat panen berkesinambungan jika memiliki lima unit. Cukup area 3 meter untuk menempatkan lima unit itu. Syaratnya mengatur interval penanaman sayuran dan penebaran ikan. Dari kelima unit itu, pemilik berpeluang menangguk Rp737.500 per bulan (baca: Laba dari Budikdamber halaman 12—13).

Ika Nata Kristina di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, menitipkan gelas tanam berisi kangkung ukuran konsumsi kepada pedagang sayuran. Konsumen tinggal mengiris batang kangkung lalu membayar Rp500 per gelas kepada pedagang yang menjadi mitra Ika. Dari perniagaan sayuran budikdamber, guru sekolah dasar itu mendapat Rp350 per gelas, sisanya menjadi jatah sang mitra.

Pelaku budikdamber di Bandung, Eva Lasti Apriyani Madarona juga rutin memanen sayuran. Eva memanen kangkung dengan memotong batang. Bekas potongan itu kembali memunculkan daun yang bisa dipanen lagi. Setelah menerapkan cara itu, sekali membibitkan Eva berkali-kali memanen kangkung. Alumnus Universitas Indonesia itu membibitkan benih kangkung di tempat terpisah sejak semula.

Ember siap pakai untuk budikdamber menjadi peluang bisnis baru.

Setelah menjadi bibit berdaun 4—7 helai barulah ia memindahkan ke gelas budikdamber. Cara itu berhasil, kangkung segar dan lebih cepat panen. Semula ia memanen pada umur 25 hari, kini hanya 23 hari. Ukurannya pun lebih besar. Sekali tanam kangkung, pemilik budikdamber memanen rata-rata 5 kali.

Ahli pekarangan dari Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor, Prof. Dr. Hadi Susilo Arifin, mengatakan, budikdamber biasa dilakukan oleh masyarakat seperti agro-silvo-fishery yang kemudian dibuat secara miniatur karena keterbatasan lahan di pekarangan perkotaan. “Jelas dilakukan secara efsien dalam penggunaan ruang dan bahan. Keduanya bisa menghasilkan bahan pangan untuk menambah gizi keluarga,” kata Hadi Susilo.

Menurut Hadi produktivitas budikdamber tergantung pada skala dan teknologi pertanian presisi yang digunakan. “Terkait dengan ketahanan pangan, dalam pengertian ketersediaan pangan bagi skala keluarga, maka budikdamber jelas bisa memberi pangan tambahan bagi keluarga,” ujar Hadi. Pendapat serupa disampaikan oleh dosen agribisnis dari Universitas Padjadjaran, Dr. Iwan Setiawan, M.Si. Menurut Iwan budikdamber berpotensi memperkuat ketahanan pangan rumah tangga. Iwan menuturkan, keberadaan pos benih di setiap RT atau RW dapat berperan membagikan benih gratis dan pendampingan praktik bagi kelas bawah yang rentan pangan. (Argohartono Arie Raharjo/Peliput: Muhamad Fajar Ramadhan, Sardi Duryatmo, & Sinta Herian Pawestri)

Tags: ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software