“Tren Aroid Sampai Akhir Zaman”

Filed in Majalah, Tanaman hias by on 13/12/2020

Sejak 1995 peneliti tanaman Araceae Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Dra. Yuzammi, M.Sc., mengeksplorasi aroid di tanah air. Yuzammi menyelusuri rimba di berbagai wilayah termasuk Gunung Ketam, Kalimantan Timur. Ia meriset revisi taksonomi aroid terestrial dan akuatik untuk meraih gelar master of science di University of New South Wales, Sydney, Australia. Wartawan Trubus, Tamara Yunike, mewawancarai Yuzammi terkait tren aroid. Berikut petikannya.

Dra. Yuzammi, M.Sc.

Apa pemicu tanaman hias aroid populer kini?

Araceae atau aroid atau keluarga talas-talasan dapat ditemukan di berbagai belahan dunia. Pusat penyebarannya ada di kawasan Amerika tropis, Asia Tenggara, Malay Archipelago (dalam hal ini adalah Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, Brunei, dan Papua Nugini), dan Afrika tropis. Penggunaan aroid sebagai tanaman hias telah lama dikenal bahkan sejak abad ke 18. Hampir semua jenis-jenis aroid dapat dijadikan sebagai tanaman hias, baik hias daun maupun hias bunga. Berbagai kegunaan aroid itulah yang membuat keluarga tanaman itu banyak dicari lantaran penting bagi berbagai keperluan manusia.

Kelangkaan menyebabkan harga tanaman tinggi. Mengapa jenis aroid tertentu langka?

Berubahnya fungsi lahan tempat tumbuhnya aroid merupakan faktor utama penyebab kelangkaan. Selain itu pengambilan secara besar-besaran di alam untuk tujuan komersial juga menyebabkan kelangkaan bahkan kepunahan. Contoh jenis aroid yang punah di alam yaitu dari kerabat bunga bangkai (Amorphophallus discophorus). Jenis ini hanya tumbuh di sekitaran gunung Wilis. Sekitar 2007—2009, permintaan porang (Amorphophallus muelleri) begitu besar dan animo masyarakat untuk mengambilnya langsung dari hutan juga cukup besar. Sayangnya, masyarakat tidak dibekali dengan pengetahuan yang cukup, sehingga semuanya diambil. Bagi masyarakat awam bentuk kedua jenis ini relatif mirip, sehingga susah membedakannya. Akibatnya, Amorphophallus discophorus saat ini tidak ditemukan lagi di habitat aslinya. Faktor lainnya adalah sulit dibudidayakan, dan ada juga yang lama tumbuh kembangnya. Salah satu contoh adalah Monstera obliqua yang bentuknya mirip dengan tanaman yang viral saat ini Monstera adansonii. Tumbuh kembang Monstera obliqua sangat lambat sekali dibandingkan dengan Monstera adansonii.

Melestarikan aroid sebuah keharusan. Apa upaya perlindungan untuk spesies aroid di alam?

Perlu kerja sama dari berbagai elemen baik pemerintah, unsur adat, media sosial, dan masyarakat. Misalnya bunga bangkai (Amorphophallus titanum), jenis ini hanya dapat ditemukan di hutan-hutan pulau Sumatera. Memberikan edukasi kepada masyarakat sangat penting dilakukan, tertutama masyarakat di sekitar tempat tumbuh jenis ini. Edukasi bisa diberikan di sekolah-sekolah, melalui media baik cetak maupun elektronik, dan bisa juga melalui media sosial. Pemerintah sebaiknya menyosialisasikan keberadaan jenis-jenis aroid yang dilindungi dan pentingnya menjaga kelestariannya di alam. Begitu pun harus ada sanksi hukum bagi yang melanggar atau mengambilnya langsung di alam, termasuk yang melakukan alih fungsi lahan bila ada ditemukan jenis langka di dalamnya.

Beberapa jenis tanaman yang sangat langka harganya hingga Rp30 juta. Apa tanggapan Anda?

Ada beberapa faktor yang menyebabkan tanaman hias aroid menjadi tinggi, di antaranya kelangkaan. Pendapat saya, bila tanaman aroid yang langka diperbanyak dengan menggunakan teknologi kemudian dijual dengan harga tinggi, itu sah-sah saja, asalkan tidak memanennya secara langsung di hutan. Ada juga tanaman hias aroid memiliki nilai jual tinggi hasil dari persilangan. Perlu kemampuan dan ilmu untuk mendapatkan hasil silangan yang bagus dan bernilai jual tinggi, sehingga wajar bila dijual mahal. Bagi para pehobi ataupun kolektor, harga fantastis tidak menjadi masalah.

Apa tantangan membudidayakan tanaman hias aroid?

Pada umumnya jenis-jenis aroid tidak begitu sulit dibudidayakan, meskipun beberapa jenis ada yang sulit untuk dibudidayakan. Membudidayakan aroid perlu dipelajari sifat-sifat tanaman itu. Media apa saja yang cocok untuk jenis-jenis tertentu, apa saja hama dan penyakit yang suka menyerang dan bagaimana mengelolanya. Ini merupakan tantangan tersendiri dalam membudidayakan Aroid.

Perbanyakan aroid paling lazim dilakukan dengan penanaman konvensional sehingga memerlukan waktu lama untuk perbanyakan, menyebabkan harga tinggi.

Apakah kesulitan budidaya memengaruhi bisnis dan penetapan harga aroid sebagai tanaman hias?

Menurut pendapat saya, sulitnya membudidayakan aroid tentu akan memengaruhi nilai jual tanaman. Harus ada usaha yang besar untuk membudidayakannya. Misalnya, ada jenis Alocasia yang hanya bisa tumbuh di lingkungan tertentu, perlu perlakuan khusus, misalnya pemupukan supaya cepat tumbuh, perawatan supaya tidak gampang diserang oleh penyakit.

Sampai kapan aroid akan bertahan dalam skala dunia?

Kalau pendapat saya, tren aroid sebagai tanaman hias akan tetap abadi sampai akhir zaman. Ada beberapa alasan, di antaranya adalah banyak kegunaan dan manfaat dari jenis-jenis aroid yang tetap bertahan sampai saat ini. Contohnya sudah saya paparkan sebelumnya.

Apa kelebihan Indonesia dalam pengemabangan tanaman hias dibandingkan dengan negara-negara lain?

Indonesia kaya akan keanekaragaman hayati. Sejak dari zaman kolonial sampai sekarang kekayaan hayati kita selalu dilirik oleh bangsa lain. Saya ambil contoh dari aroid. Siapa yang tidak mengenal tanaman hias sri rejeki atau Aglaonema? Salah satu hasil silangan tanaman ini diberi nama ‘pride of sumatra’ yang harga per lembar daunnya sangat fantastis. Tapi tidak banyak yang tahu bahwa pemberi warna merah pada daun Aglaonema hasil silangan berasal dari Indonesia, yaitu dari jenis Aglaonema rotundum, jenis ini merupakan jenis endemik dan hanya tumbuh dan ditemukan di hutan Sumatera Utara. Ini hanya satu contoh, masih banyak kekayaan hayati kita yang dapat dijadikan sebagai tanaman hias.***

Tags: , , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software