Tradisi Panen Lemak Borneo

Filed in Eksplorasi, Majalah by on 07/03/2019

Gubuk-gubuk bermunculan di bawah rindang pohon tengkawang ketika musim berbuah tiba pada pengujung Februari hingga Maret. Masyarakat Kapuas, Kalimantan Barat, memunguti buah tengkawang yang bersayap dan jatuh itu, lalu memasukkannya ke keranjang bambu. Buah tengkawang yang kaya gizi itu acap menjadi santapan babi hutan dan satwa liar lain. Masyarakat merendam buah di sungai selama 30—40 hari. Tujuan perendaman agar agar dinding buah itu lunak sehingga mudah mengupasnya.

Di bagian dalam buah anggota famili Dipterocarpaceae itu terdapat inti yang menjadi bahan mentega atau lemak. Ada pula yang melunakkan buah dengan cara memendam dalam tanah hingga berhari-hari. Itulah cara masyarakat memperoleh minyak tengkawang pada 1912 sebagaimana dikisahkan Karel Heyne, ahli Botani asal Belanda. Ia menulis De Nuttige Planten van Nederlandsch Indie (Tumbuhan Berguna Hindia Belanda). Selain untuk keperluan sehari-hari minyak tengkawang juga cespleng mengatasi sariawan.

Rimba tropis Kalimantan menyimpan berbagai pohon berguna, salah satunya tengkawang

Biji dan minyak tengkawang itu mengisi pasar Eropa pada awal abad ke-20. Di pasar mancanegara tengkawang disebut borneo tallow nut atau illipe nut. Ada pula yang menyebut borneo talc. Volume ekspor mencapai ribuan ton per tahun. Heyne yang sejak berusia 20-an tahun tinggal di Jawa itu mencatat, volume ekspor tengkawang dari Pontianak pada 1923 mencapai 9.518 ton. Sentra lain yang kaya tengkawang adalah Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Volume ekspor pada tahun itu 1.000 ton.

Warga Nangayen, Ayub, berdiri di samping pohon yang ditanam ketika ia berusia 3 tahun.

Hingga hari ini tradisi mengolah buah tengkawang terawat di Desa Nangayen, Kecamatan Hulugerung, Kabupaten Kapuashulu, Kalimantan Barat. Berbagai jenis pohon tengakawang tumbuh di hutan adat seluas 5 hektare di desa itu. Warga setempat, Ayub mengisahkan, masyarakat menanam pohon itu saat ia berusia 3 tahun. “Warga boleh mengambil buahnya kala panen raya. Mereka juga boleh memanfaatkan kayunya untuk membuat rumah,” tutur pria 58 tahun itu.

Bagi Ayub tengkawang adalah sumber kehidupan. Pohon anggota famili meranti-merantian itu tumbuh di tepi sungai dan kokoh menahan abrasi saat musim banjir. Setiap pohon bisa berbuah hingga 200 kg per musim. Mereka menjualnya kepada pengepul di Nangayen. Pengepul lantas menjual ke Pontianak. Itu sebabnya Ayub dan warga Nangayen bertekad melestarikan tengkawang. “Tengkawang diwariskan dari zaman nenek moyang. Kesadaran merawat, menjaga, serta melestarikannya menjadi ikatan batin warga Nangayen,” ucap Ayub.

Setiap warga Nangayen memiliki 200 batang pohon tengkawang. Mereka menanam tengkawang di hutan. Bibitnya berasal dari buah yang hanyut di sungai. “Buah tengkawang tidak tenggelam ketika hanyut terbawa air sungai. Warga mengumpulkan lalu menanam kembali di lahan masing-masing,” ujar Ayub menjelaskan. Dengan perawatan minim, pohon Shorea sp mulai berbuah pada umur 10 tahun.

Warga Nangayen, Hairul Fahmi, memilih melestarikan tengkawang ketimbang menanam sawit.

Mereka juga mengolah buah berkadar lemak hingga 70—80% itu menjadi mentega nabati, minyak makan, atau kue. Pengolahan mandiri itu terutama ketika harga buah anjlok hingga Rp2.000 per kg. Padahal, menurut pengepul tengkawang di Desa Sangan, Kecamatan Boyangtanjung, Kabupaten Kapuashulu, Ahmad Affandi, pada 2006 dan 2012 harga buah enkabang—sebutan tengkawang di Kapuashulu—mencapai Rp13.000 per kg. “Saat itu saya menjual 50—60 ton, sekitar 5—6 mobil,” kata Ahmad.

Warga Nangayen mengolah buah itu menjadi produk yang lebih bernilai. Mereka menggunakan mesin sederhana, mengolah 2—3 ton buah menjadi berbagai olahan seperti minyak makan atau mentega nabati. Warga Pengkadan, Kabupaten Kapuashulu, Kalimantan Barat, Taufikson menyatakan bahwa buah harus dipendam beberapa bulan dalam tanah.

Sebelum pemendaman, warga memotong kepala dan sayap buah. Pemendaman sampai buah berbau busuk. Tujuannya melunakkan kulit buah anggota famili Dipterocarpaceae yang keras. Selanjutnya mereka mengolah buah engkabang tanpa kulit itu menjadi salai, seperti membuat salai pisang. “Dulu pembeli mencari salai buah entakang, sekarang yang kupas pun mereka mau membeli,” kata Taufikson. Warga Desa Mensiau, Kecamatan Batanglupar, Kapuashulu, Kanasius Kanai, buah tengkawang untuk mendapatkan minyak. Tanpa pemanasan, minyak tidak akan keluar.

Masyarakat memanen buah entakang dengan memungut lalu mengumpulkan buah jatuh. Saat panen raya, warga sudah siap membawa perlengkapan untuk pergi ke hutan. “Kami pagi baru boleh mengambil. Nanti ada suara gong 3 kali, barulah orang berkumpul. Mukulnya di pohonnya kalau sudah siap. Satu kampung, orang tua, anak-anak muda. Ratusan orang,” ujarnya. Kebersamaan saat panen itu menjalin silaturahmi.

Etnis Dayak memandang pohon tengkawang sebagai warisan nenek moyang.

Perolehan buah setiap orang tidak sama. “Ada yang dapat banyak, ada yang sedikit. Tapi rata-rata semua mendapat buah,” ucap Taufikson.
Mengetahui buah laku dijual, masyarakat sepakat tidak menebang. Artinya, kalau berbuah tidak mesti ditebang, dibiarkan begitu saja. “Engkabang tidak kalah dengan pohon-pohon lain. Kegunaan engkabang sebagai bahan masakan, sebagai minyak atau mentega,” ucap Taufikson yang pernah membuat nasi goreng dari minyak engkabang. Pengolahan lain adalah untuk bahan obat.

“Perempuan pun terlibat melestarikan tengkawang,” kata warga Nangayen, Kartika.

Warga Desa Tanjungintan, Kecamatan Mentebah, Kabupaten Kapuashulu, Suhardin mengisahkan, engkabang menjadi obat alternatif jika ada anggota keluarga yang sedang sakit. Cara pemakaiannya biasa dioleskan, misalnya bibir pecah-pecah, panas dalam. Bisa juga diminum. “Ditumbuk setelah dipendam, lalu dimasak. Setelah dimasak tadi dipisahkan, masukkan ke bambu lalu dijemur. Kalau sudah jadi minyak itu untuk obat,” tuturnya. Warga yang membuat minyak memberikan ke warga lain yang membutuhkan secara gratis.

Buah tengkawang juga bisa menjadi pewarna pakaian yang indah. Menurut kepala Desa Mensiau, Kecamatan Batanglupar, Silvester Berasap, buah untuk pewarna mesti dipanen sebelum pukul 10.00 atau setelah pukul 15.00. “Kalau siang minyaknya turun ke akar,” kata Silvester yang sehari-hari tinggal di rumah adat Dayak Iban itu. Caranya dengan merebus buah selama sejam, menyaring, lalu menggunakan air rebusan itu untuk mencelup pakaian.

Pascapewarnaan, pakaian dicelupkan larutan dari tumbuhan dangau untuk memperkuat warna. Silvester menyebutnya pengunci warna. Selanjutnya pakaian itu diangin-angin sampai kering. Ia pun mencoba-coba memadukan buah tengkawang dengan pewarna alami lain, seperti kulit manggis atau buah laban Vitex pubescens. Silvester berencana membuat kerajinan pakaian menggunakan pewarna alami.

Berbagai pemanfaatan buah yang ternyata bernilai komersial itu mengubah pola pikir warga yang semula memandang pohon sekadar sumber kayu untuk dijual. Kini banyak warga menanam tengkawang di pekarangan. Sebagian mereka mengambil bibit yang tumbuh liar di hutan atau di tepi sungai. Salah satu yang getol mengampanyekan dan mengusahakan pelestarian tengkawang adalah pemuda Desa Mensiau, Bobi. Ia menanam di pekarangan dan merawat biji yang bertunas di tepi sungai hingga menjadi pohon besar.

Di tepi sungai banyak buah tengkawang tumbuh menjadi pohon.

Karena tumbuh alami tanpa pemupukan, perlu waktu lama sejak tanam sampai berbuah. Sudah begitu, engkabang bukan buah musiman. “Setahun sekali itu saja belum tentu. Mungkin karena tidak pernah dipupuk, hanya disiangi rumputnya,” tutur Bobi. Warga baru sebatas menyiangi. Perawatan itu bukan hanya monopoli pria, bahkan perempuan pun aktif terlibat. Salah satunya warga Nangayen, Kartini (42 tahun).

Ia bersama perempuan lain di Desa Nangayen menjaga alam desa mereka dari keterpurukan. Bagi mereka menjaga tengkawang adalah kewajiban. “Menjaga tengkawang sama saja menjaga lingkungan dari bencana. Ada sakitar 20 perempuan Desa Nangayen, yang setiap saat pergi ke hutan merawat tengkawang. Demi anak cucu,” ucapnya penuh semangat. Setiap keluarga memiliki tengkawang di hutan.

Olahan butter asal buah tengkawang.

Yang mengolah tengkawang pun kebanyakan perempuan. “Buah tengkawang ada yang dijual untuk dijadikan obat-obatan, kosmetik, atau keperluan lain. Warga Nangayen mulai membuat brownis atau kue lain, tapi masih dalam skala kecil,” tutur Kartini. Salah satu tantangan yang mereka hadapi adalah ekspansi perkebunan sawit. Warga Nangayen, Hairul Fahmi (48 tahun) mengkhawatirkan keberadaan tengkawang ketika hutan dikonversi menjadi lahan sawit.

Apalagi sejak kawasan hutan mereka masuk dalam Hutan Produksi Terbatas (HPT). Dia bingung, mengapa wilayah yang ditempati sejak zaman nenek moyang malah masuk HPT. Di dalam kawasan hutan itu terdapat ribuan pohon tengkawang milik warga setempat dan hutan kelola. Namun, ia bersama warga lain tetap memperjuangkan hak atas kepemilikan hutan yang telah didiaminya sejak lama. “Jika bukan kita, siapa lagi?” kata Hairul Fahmi yang didukung warga Nangayen lain.

Mereka menolak penanaman sawit karena tanaman yang ada sebelumnya, termasuk tengkawang, harus ditebang semua. Menurut Hairul tengkawang cukup menjanjikan asal terawat. Sekarang Desa Nangayen mendapatkan bantuan dari pemerintah untuk mengelola tengkawang. Dari situlah, mereka belajar bagaimana mengemas tengkawang menjadi mentega, minyak makan dan bisa dijadikan kue. (Aceng Mukaram, pemerhati lingkungan di Kalimantan Barat)

Tags: , , , , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software