Tomat Liar untuk Sel Liar

Filed in Obat tradisional by on 01/02/2011

 

Tomat liar itu sejatinya bukan tomat betulan. Hanya karena tanaman ini sekerabat dengan tomat dan tumbuh liar pula, maka orang Inggris menyebutnya wild tomato. Masyarakat Sunda menamakan cecendet, ciplukan di lidah orang Jawa atau yor-yoran bagi masyarakat Madura. Soal khasiat ciplukan sebagai antikanker, baru betulan. Itulah hasil riset ilmiah dosen Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Maryati MSi Apt dan dr EM Sutrisna MKes.

Mereka membuktikan tanaman liar itu mampu membunuh sel kanker rahim dan myeloma. Dalam uji praklinis itu mereka menggunakan ciplukan jenis Physalis angulata. Maryati memanfaatkan seluruh bagian tanaman – akar, batang, daun, dan buah – seperti halnya penggunaan ciplukan untuk herbal selama ini. Untuk menguji aktivitas tanaman anggota famili Solanaceae itu, Maryati membuat seluruh bagian tanaman menjadi serbuk. Serbuk itu lantas ia ekstraksi dengan pelarut etanol 96%.

 

Tokcer

Selain pelarut etanol, Maryati juga menguji fraksi petroleum eter, fraksi kloroform, dan fraksi etil asetat ciplukan. Master sains bidang farmasi alumnus Universitas Gadjah Mada itu menggunakan sampel sel HeLa atau sel kanker rahim. Prevalensi kanker rahim sangat tinggi. Di kawasan Asia Pasifik, setiap 4 menit seorang perempuan meninggal karena kanker ganas itu. Pada penelitian itu, tampak bahwa fraksi petroleum eter ciplukan memiliki efek sitotoksik terbesar daripada ekstrak etanol atau fraksi lain.

Itu terlihat dari nilai konsentrasi hambat separuh sel uji. Nilai IC50 ekstrak petroleum eter ciplukan paling kecil: 120,19 μg/ml. Bandingkan dengan nilai IC50 ekstrak etanol yang mencapai 316,23 μg/ml, fraksi kloroform 151,89 μg/ml, dan fraksi etil asetat 461,64 μg/ml. IC50 atau inhibition concentration merupakan dosis yang digunakan untuk menghambat separuh sampel uji. Semakin kecil dosis, kian kuat obat menghambat pertumbuhan sel kanker. Artinya, fraksi petroleum eter ciplukan menghambat pertumbuhan separuh sel HeLa pada konsentrasi yang lebih rendah.

Fraksi petroleum eter konsentrasi 150 μg/ml memiliki efek apoptosis (program bunuh diri sel untuk menghilangkan sel abnormal atau rusak). Hal itu terlihat pada adanya peningkatan ekspresi protein p53 dan Bax pada sel Hela. Jika terjadi kerusakan deoxyribonucleid acid (DNA) sel, protein penekan tumor itu meningkatkan jumlah reseptor pada permukaan sel target. Akibatnya sel lebih sensitif terhadap hormon atau agen lain seperti protein proapoptosis sehingga memacu pelepasan sitokrom C dari mitokondria dan menyebabkan apoptosis.

Maryati dan Sutrisna juga menguji ekstrak ciplukan pada sel myeloma (kanker sel plasma). Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa ekstrak etanol ciplukan memiliki efek sitotoksik pada sel myeloma dengan nila IC50 70,92 μg/ml. Ekstrak itu juga mampu menghambat penggandaan sel kanker itu dan memicu terjadinya apoptosis pada sel myeloma. Tanaman kerabat kentang itu tokcer membunuh sel kanker karena mengandung beragam senyawa aktif. ‘Ciplukan mengandung beberapa senyawa antara lain luteolin, myricetin 3-0-neohesperidoside, withasteroid, serta physalin,’ kata Maryati.

Senyawa-senyawa aktif itu tersebar di berbagai bagian tanaman, dari akar hingga daun. Itulah sebabnya dalam riset, peneliti memanfaatkan seluruh bagian tanaman. Peran luteolin dan myricetin antara lain sebagai antioksidan. Luteolin juga berperan sebagai ‘pemakan’ radikal bebas yang sohor sebagai pemicu beragam penyakit. Faedah lain luteolin adalah pencegah peradangan, modulator sistem kekebalan tubuh, sekaligus berperan mencegah kanker. Sementara kandungan physalin dan withasteroidnya memiliki efek antitumor dan sitotoksik.

 

Multiguna

Penelitian in vitro lain di tanahair menguatkan bukti ciplukan berpotensi antikanker. Amelilinda Monikawati, Inna Amandari, dan Sofa Farida dari Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada berhasil menguji potensi kemopreventif alias pencegahan pertumbuhan sel kanker. Mereka menguji ekstrak etanol herba ciplukan pada sel kanker payudara, kanker paru-paru, dan kanker darah. Hasilnya, ekstrak itu mampu menekan pertumbuhan sel kanker payudara hingga 20%.

Riset Maryati dan Monikawati meneguhkan penelitian Lee Shwu-Woan dari Departemen Kimia Terapan, Chia Nan University of Pharmacy and Science, Tainan, Taiwan. Woan membuktikan senyawa withangulatin A dan withangulatin I dari ciplukan terbukti memiliki efek sitotoksik pada karsinoma usus besar dan anus (COLO 205) serta karsinoma perut (AGS).

Meski khasiat sebagai herbal untuk mengatasi beberapa penyakit telah terkuak, ciplukan masih kurang populer di masyarakat. Secara empiris masyarakat memanfaatkan ciplukan untuk mengobati hipertiroid, bisul, batuk rejan, dan diabetes mellitus. Menurut Cancer and Cemoprevention Research Center (CCRC) Universitas Gadjah Mada, akar ciplukan berkhasiat sebagai obat cacing dan penurun demam. Sedangkan daunnya untuk penyembuhan patah tulang, busung air, bisul, borok, penguat jantung, keseleo, nyeri perut, dan kencing nanah.

Masyarakat mengonsumsi buah ciplukan matang yang lezat itu. Buah seukuran ujung kelingking yang terbungkus dalam kantung mirip lampion itu berfaedah untuk mengobati epilepsi, tidak dapat kencing, dan penyakit kuning. Meski multikhasiat, kita membiarkan ciplukan tumbuh liar di pekarangan atau sawah-sawah sebelum musim tanam padi. Tomat liar itu ternyata terbukti mujarab mengatasi sel yang tumbuh liar, yakni sel kanker. (Tri Susanti)

 

  • Tomat liar alias ciplukan secara in vitro terbukti menghambat pertumbuhan beberapa jenis sel kanker
  • Secara empiris ciplukan dipakai mengobati hipertiroid, bisul, batuk rejam, dan diabetes
  • Fraksi petroleum eter ciplukan memiliki efek apoptis pada sel kanker
  • Maryati MSi Apt meriset khasiat antikanker ciplukan

 

  • Foto-foto: Tri Susanti

 

Proses Bunuh Diri

  • Sel kanker
  • Peningkatan ekspresi protein proapoptosis
  • Sel menyusut dan kromatin memadat
  • Inti sel runtuh
  • Terbentuk badan-badan apoptotik
  • Badan apoptotik mengalami lisis

 

Ilustrasi: Muhamad Awaluddin

 

Powered by WishList Member - Membership Software