Tingkatkan Produksi Jenitri

Filed in Majalah, Perkebunan by on 03/03/2020

Pasar mencari buah jenitri. Namun, pasokan masih terbatas. Teknik budidaya kunci sukses memanen jenitri.

Pohon-pohon jenitri banyak tumbuh di pekarangan rumah warga Desa Pujotirto, Kecamatan Karangsambung, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Meskipun begitu, produktivitas tanaman relatif rendah. Dampaknya permintaan buah jenitri belum terpenuhi. Oleh karena itu, tepat dalam teknik budidaya kunci meningkatkan produksi buah jenitri. Pada umumnya bibit hasil perbanyakan vegetatif seperti okulasi dan cangkok lebih cepat berbuah dibandingkan dengan bibit dari biji.

Pilih pohon unggul untuk sumber entres.

Jika memutuskan mencangkok, pilih pohon unggul yang bijinya laku dengan harga tinggi. Ambil cabang tua yang produktif. Tanaman baru dari cabang tua pertumbuhan akarnya lebih baik dibandingkan dengan tanaman asal cabang muda. Selain itu potensi berbuah tanaman juga besar. Kemudian kupas kulit cabang sepanjang 10—15 cm dan pastikan lapisan kambium benar-benar bersih. Gunakan pisau yang bersih agar batang terhindar dari kontaminasi patogen.

Perbanyakan pohon

Bersihkan batang dari kambium agar batang tidak tertutup kembali. Siapkan media subur yang mengandung humus sebagai pembungkus batang yang akan dicangkok. Bila nutrisi kurang, tambahkan pupuk kandang dengan komposisi 1:1 pada media cangkok itu. Tutup cabang yang telah terkupas dengan media cangkok. Pencangkokan bisa dilakukan pada musim hujan atau kemarau. Yang penting menjaga kelembapan media cangkok. Begitu tampak kering, basahi media secukupnya.

Penanaman jenitri dari biji lebih sederhana. Pilih biji tua yang bernas bebas cacat maupun bekas gerekan hama. Diameter biji 0,5—3 cm tergantung jenis. Siapkan media tanam berupa campuran tanah dan kompos dengan perbandingan 1:1 dalam kantong tanam 10 cm x 20 cm. Rendam biji dalam air selama semalam (12—24 jam) lalu benamkan dalam media tanam. Lazimnya hari ke-5—ke-10 benih berkecambah.

Bibit siap tanam di lahan setelah tingginya mencapai 30—35 cm. Siapkan lubang tanam berdiameter 30—50 cm berkedalaman 50 cm. Jarak antarlubang tanam 6 meter. Isi bagian dasar lubang tanam dengan media campuran tanah dan humus dengan perbandingan 1:1. Pemindahan bibit jenitri ke lahan sebaiknya pada sore hari agar bibit tidak stres dan layu. Setelah penanaman sisipkan tajar untuk menopang batang agar tidak terkulai.

Lakukan penyiraman rutin setiap pagi dan sore bila penanaman di luar musim hujan. Tanah di sekitar tanaman juga harus rutin digemburkan dengan cangkul. Pemupukan rutin berupa pupuk kandang setiap 6 bulan atau 2 kali setahun. Berikan 50 kg (10 karung) pupuk kandang di bawah tajuk pohon. Gunakan pupuk itu untuk membumbun akar yang keluar dari tanah sampai tertutup seluruhnya.

Bibit siap pindah tanam setelah tingginya 30—35 cm.

Sepohon 50.000 biji

Petani merawat intensif selama satu tahun pertama setelah penanaman bibit. Tujuannya agar nutrisi selalu tersedia dengan optimal. Jenitri asal perbanyakan vegetatif lazimnya magori atau panen perdana pada umur 1—2 tahun. Bibit asal biji pun ada yang magori di umur 3 tahun, tapi biasanya produksi stabil mulai tahun ke-4 (umur 5 tahun). Volume produksi pada tahun pertama 3.000—8.000 biji (panen raya) dan 3.000—5.000 biji (panen sela) per pohon. Produksi meningkat seiring bertambahnya umur pohon.

Pada tahun keempat (umur 5 tahun) sebatang pohon menghasilkan 7.000—10.000 biji. Pohon berumur 10 tahun bisa memproduksi hingga 50.000 biji. Syaratnya perawatan intensif dengan pemberian pupuk kandang. Jika kebutuhan nutrisi tercukupi, tiap ketiak daun mengeluarkan tunas buah.

Ciri buah siap panen jika warna buah biru kehitaman seperti buah anggur. Panen jenitri menggunakan tangga atau steger dari bambu dengan hati-hati agar tidak merusak bunga maupun buah muda di dekatnya. Panen saat buah matang mencapai 80% total buah di pohon. Caranya dengan memasang pisau di ujung galah dengan mata pisau menghadap ke atas. Tempatkan pisau di pangkal tangkai dekat ranting lalu dorong sampai tangkai terputus dan buah jatuh.

Pekebun mesti waspada dengan serangan gulma, hama, dan penyakit. Singkirkan gulma agar tidak menjadi inang hama. Hama paling fatal adalah larva penggerek buah. Serangannya menyebabkan biji berlubang kehitaman sehingga buah apkir. Pengganggu lain adalah kutu perisai, kutu putih, dan aphid. Serangannya merusak buah sehingga biji tidak simetris. Penanggulangannya dengan menyemprotkan pestisida sistemik. (Umi Barokah, S.P., M.P., Penyuluh di Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software