Tin Kualitas Top

Filed in Buah, Majalah by on 03/03/2018
Buah tin produksi Bambang Murdianto berkualitas premium.

Buah tin produksi Bambang Murdianto berkualitas premium.

Budidaya intensif menghasilkan tin berkualitas tinggi.

Dua puluh lima buah tin merah dalam piring itu terlihat mulus, segar, dan berukuran hampir seragam. Cita rasa manis memenuhi rongga mulut ketika mencicipi buah surga hasil panen di kebun tin milik Bambang Murdianto. Tekstur buah tin segar itu legit seperti manisan. Pantas bila konsumen rela membayar Rp300.000 untuk mendapatkan 1 kg tin terdiri atas 12—18 buah dari kebun Bambang.

Meski berharga premium, para pelanggan berdatangan ke kebun tin milik Bambang untuk memesan. “Sekitar 5 orang kerap memesan tin setiap hari,” ujar pekebun tin di Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Sejak medio 2017 Bambang memproduksi 1—2 kg tin per hari dari 10 tanaman. Ia membudidayakan tin di dalam rumah tanam untuk menghasilkan buah berkualitas premium.

Lebih mulus
Menurut Bambang, “Buah lebih mulus jika dibandingkan dengan penanaman tanpa rumah tanam.” Selain itu produksi buah juga sulit saat musim hujan. Tin berisiko lebih tinggi terserang hama dan penyakit bila dibudidayakan di lahan terbuka. Menurut kata ayah 2 anak itu hama dan penyakit yang kerap menyerang tin adalah kutu putih dan penyakit karat daun. Untuk mengatasi kutu putih ia mengandalkan insektisida berbahan aktif profenovos.

Rumah tanam menjaga buah tin dari serangan hama dan penyakit.

Rumah tanam menjaga buah tin dari serangan hama dan penyakit.

Adapun fungisida berbahan aktif maneb dan zineb ia gunakan untuk menanggulangi karat daun. Pemakaian pestisida sesuai petunjuk di kemasan. “Sebaiknya pengendalian hama dan penyakit dilakukan sebelum buah matang agar tin tetap aman dikonsumsi, maksimal sebulan sebelum panen,” ujarnya. Bambang mulai membudidayakan Ficus carica sejak 2012.

Perawat bedah itu tertarik membudidayakan tin setelah melihat foto piza bertabur irisan tin saat mengunjungi sebuah laman di dunia maya. “Saya suka membuat piza dan penasaran cita rasa penganan bertabur tin,” kata Bambang. Apalagi semua bagian tanaman tin bermanfaat. Ranting pada saat pemangkasan dapat digunakan untuk memproduksi bibit baru. Daun tin pun berkhasiat bagi kesehatan.

Sejak itu ia rajin berburu tanaman anggota famili Moraceae itu hingga ke luar kota. Dari hasil perburuan itu, Bambang mengoleksi tin berjenis taiwan golden fig (TGF) jumbo, brown turkey modified (BTM) 6, dan masui dauphine. Yang disebut terakhir cocok untuk produksi buah karena berukuran besar dan bercita rasa manis. Pada tahap awal Bambang fokus memperbanyak bibit.

Pengemasan buah tin ala Joko Witono.

Pengemasan buah tin ala Joko Witono.

Produksi buah
Pada Juni 2017 Bambang mulai fokus memproduksi buah berkualitas. Permintaan buah tanaman kerabat sukun itu tinggi menjelang puasa, sedangkan buah yang tersedia terbatas. Ia lalu menanam tin di tanah di dalam greenhouse. Tujuannya agar penyerapan nutrisi lebih optimal. Sebagai sumber nutrisi, Bambang mengandalkan pupuk kotoran kambing, bukan sapi. Menurut pengalamannya, pupuk kambing menghasilkan jumlah buah lebih banyak dan pertumbuhannya normal. Adapun pupuk sapi hanya menggenjot pertumbuhan vegetatif. Kualitas buah pun kurang maksimal.

Peneliti tanaman buah di Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT) Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Ir. Sobir, M.Si., menuturkan, unsur hara dalam kotoran hewan sangat bermanfaat untuk tanah dan tanaman. Komposisi di dalam pupuk kandang bisa berbeda antara satu tempat dengan tempat lain. Secara umum kandungan fosfor (P) dan kalium (K) pupuk kambing lebih tinggi dibandingkan dengan pupuk kotoran sapi. Kedua unsur itu berfaedah menggenjot produksi buah tin.

Pada kotoran sapi kandungan nitrogen lebih dominan sehingga berperan memicu pertumbuhan vegetatif. Bambang juga memberikan pupuk tambahan berupa NPK hingga tanaman berumur 6 bulan. Ketika tanaman berumur 6 bulan Bambang menambahkan pupuk kalium nitrat (KNO3) untuk memacu tin berbuah. Menurut Bambang tin berbuah perdana ketika berumur 7 bulan dan menghasilkan 1—2 buah per hari. Ciri buah siap panen warna buah merah kehitaman.

579_ 53Permintaan tinggi
Bambang memanen 1—2 kg buah per dua hari dari 10 pohon berumur setahun pascatanam. Ia membalut tin dengan tisu, lalu memasukkannya ke dalam kotak. Tujuannya agar kulit buah tidak rusak akibat gesekan. Harap mafhum, kulit tin rentan lecet karena tipis. Ia memberi tahu konsumen jika ada buah yang kondisinya tidak sempurna seperti lecet. Namun, lazimnya konsumen tetap membeli asalkan buah hanya lecet kecil dan bersih.

Bambang Murdianto menghasilkan buah tin berkualitas sejak 2017.

Bambang Murdianto menghasilkan buah tin berkualitas sejak 2017.

Menurut Bambang saat ini para pekebun tin mulai banyak yang fokus memproduksi buah lantaran permintaan terus meningkat. Salah satunya Joko Witono. Pekebun tin di Sumengko, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, itu memanen 2—3 kg buah tin per hari dari 250-an tanaman berumur setahun. Ia menanam varietas blue giant, black jack, TGF jumbo, dan BTM 6. Joko menjual buah tanaman kerabat beringin itu dengan harga Rp250.000—Rp300.000 per kg untuk perorangan dan Rp100.000 per kg untuk pedagang yang membeli dalam jumlah banyak. Konsumen Joko berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Menurut Joko, permintaan buah tin pada masa mendatang bakal terus meningkat. Ia baru saja menerima permintaan 1 ton tepung tin per bulan dari Jepang. Namun, ia belum bisa memenuhi permintaan itu lantaran jumlah buah masih terbatas. Untuk menghasilkan 1 ton tepung buah tin berasal dari 3,5 ton tin segar dengan kematangan 70—80%. Permintaan tinggi membuat para pekebun berlomba menghasilkan buah tin berkualitas. (Bondan Setyawan)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software