Tiga Terenak di Jepara

Filed in Buah, Majalah by on 03/01/2019

Durian monde yang rasanya seperti kue kering Danish Butter Cookies rasa kelapa.

Eksplorasi ke sentra Jepara, Jawa Tengah, menemukan durian-durian lezat.

Dr. Mohamad Reza Tirtawinata menjadi saksi kelezatan 3 durian di Jepara pada Desember 2018. Reza, pendiri yayasan Durian Nusantara, bereksplorasi ke Jepara untuk menemukan durian unggulan. Isnul Abdi menemani Reza blusukan ke sentra-sentra durian di kota ukir itu. Isnul pengepul durian yang selalu memantau pohon durian yang berbuah hampir di seluruh wilayah Jepara.

Durian fla puding dengan rasa manis, gurih, dan daging buah dapat melumer seperti fla puding.

“Sebagai pengepul tentu saya tahu stabilitas kualitas buah setiap pohon. Di Jepara ini durian yang lezatnya dan kualitasnya seperti petruk sebetulnya mencapai 50 jenis. Namun, mereka tak bisa dicicip serempak setiap tahun karena setiap musim berbuah tak serempak,” kata Isnul. Menurut Isnul waktu kematangan buah pun berbeda-beda. Petruk merupakan durian legendaris dari Jepara. Cita rasanya amat lezat.

Tiga terenak

Reza dan Isnul menemukan banyak durian di Jepara. Namun, menurut Reza dan Isnul merekomendasikan tiga durian terbaik. Mereka menemukan durian fla puding. Durian milik Riyanto di Desa Banjaran, Kecamatan Bangsri, itu berukuran sedang, bobot 1,2—2 kg per buah. Nama duriannya fla puding karena rasanya manis, gurih, dan daging buah dapat melumer seperti fla puding. Saat musim, pohon fla puding berumur 30 tahun itu menghasilkan 50—70 buah.

Yang tak kalah lezat adalah durian monde yang tumbuh di pekarangan milik Riyanto Pada musim kali ini, monde menghasilkan 200 buah. Sebutan durian monde mengacu pada penganan biskuit bermerek sama. Itu karena cita rasa durian monde mirip kue kering Danish Butter Cookies rasa kelapa. Durian monde juga istimewa karena dalam satu buah dapat memiliki 30 pongge yang tersusun pada juring-juringnya.

Durian nenek dengan premium: manis, legit, dan lembut. Layak menggantikan durian petruk yang melegenda.

Sementara yang paling top adalah durian nenek yang tumbuh di Beringin, Kecamatan Batialit. “Rasa durian nenek benar-benar premium: manis, legit, lembut, dan sedikit pahit. Layak menggantikan durian petruk yang melegenda,” kata Reza. Durian nenek milik Warsiti yang selalu bersemangat menyambut para maniak durian yang datang. Pada 2018 durian itu panen dua kali, total 200 buah. Durio zibethinus itu disebut durian nenek karena daging buah pada pongge berkerut-kerut.

Pohon induk durian nenek berumur 80 tahun.

Nama durian fla puding, monde, dan nenek bukan dari pemilik pohon. Itu cetusan Reza, Isnul, dan Sigit Rahadi ketika mencicipi durian itu. Sigit dikenal sebagai pengeskplorasi durian asal Surakarta, Jawa Tengah. Menurut Reza semua pohon durian berkualitas di Jepara itu berumur di atas 30 tahun bahkan durian nenek diperkirakan berumur 80 tahun. “Selama ini tak muncul ke permukaan karena sering kali saat kontes digelar, pohon sedang tidak berbuah atau belum matang. Hanya pengepul yang tahu,” kata Reza.

Fakta keragaman durian berkualitas di Jepara itu menarik perhatian Reza untuk pengembangan durian unggul lokal setempat. “Konsep sekarang bukan untuk durian unggul nasional, tapi durian unggul yang dapat menjadi ikon daerah setempat,” kata doktor Pertanian alumnus Institut Pertanian Bogor itu. Menurut Reza peluang kualitas buah durian-durian itu untuk tetap stabil sangat tinggi bila dikembangkan di daerah setempat karena kondisi tanah dan iklim serupa. Demikian pula di daerah setempat banyak tumbuh durian lokal lain yang dapat menjadi penyerbuk.

Pengganti petruk

Dari kiri: Prof. Dr. Amin Retnoningsih (Universitas Negeri Semarang), Dr. Mohamad Reza Tirtawinata, dan Isnul Abdi

Reza mengatakan, durian lokal itu cocok untuk durian target yang dikembangkan. Dengan kehadiran mereka, Jepara tak lagi mengandalkan nama petruk yang buahnya sulit dicari. Kehadiran tiga durian—fla puding, mode, dan nenek—berpeluang menggantikan durian petruk.

Jepara secara geografis memang unik. Wilayah itu tergolong dataran rendah hingga menengah yang cukup air, cukup sinar matahari, serta dekat dengan pantai. Di wilayah seperti itu durian tumbuh baik karena laju fotosintesis optimal. “Sinar matahari dan air cukup, tetapi lahan tidak tergenang. Buah durian yang muncul umumnya manis, kering, dan tentu legit karena wilayah dekat pantai umumnya kaya beragam nutrisi yang dibutuhkan tanaman,” kata Dr. Reza Tirtawinata.

Menurut Reza bila di bentang lahan seperti itu terdapat pohon durian yang secara genetik unggul, maka pertumbuhan pohon dan kualitas buah akan optimal karena berada di lahan yang sesuai. “Semua orang tahu secara genetik keragaman durian berkualitas di Jepara juga tinggi. Sepanjang tahun 80-an hingga 90-an saja di sana getol mengadakan kontes yang melahirkan juara-juara durian lezat,” tutur Reza yang ikut membidani kelahiran petruk.

Jawara-jawara durian yang lahir setelah petruk di Jepara seolah kalah pamor oleh petruk yang termasuk generasi pertama durian unggul di Indonesia. Sebut saja durian subur dan durian gipah yang namanya berasal dari nama pemilik pohon. Durian lezat tersebut juga bagai ditelan bumi karena tak banyak yang mengembangkan di daerah setempat dengan asumsi mereka spesifik lokasi di Jepara. (Destika Cahyana)

Tags: , , , , , , , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software