Tiga Padi Hitam Unggul

Filed in Sayuran by on 01/04/2013 0 Comments

Indonesia dan berbagai bangsa Asia lainnya punya varietas padi hitamVarietas padi hitam lokal dengan tiga keunggulan: genjah, produktif, berkhasiat.

Dua tahun terakhir, beras hitam populer sebagai beras kesehatan. Konsumsi beras hitam dalam bentuk sangrai atau nasi, secara empiris mengatasi beragam penyakit (baca: Beras Bangsawan untuk Jantung, Trubus Desember 2012). Sebagian menyangka beras hitam yang beredar di pasaran di tanahair berasal dari Tiongkok. Di Negeri Tirai Bambu beras hitam menjadi kesukaan para kaisar, raja, dan bangsawan pada masa silam. Karena alasan itu pula rakyat jelata terlarang menyantap  beras hitam.

Prof Elias Tana MoningNamun, beras terlarang itu sebetulnya berasal dari Indonesia. “Beras hitam yang beredar saat ini asli tanahair, ” kata Prof Elias Tana Moning, praktikus pertanian di Bekasi, Provinsi Jawa Barat. Menurut  Tana Moning negara lain di Asia yang juga mempunyai padi hitam ialah Thailand dan India. Namun, sama seperti di Indonesia, revolusi hijau di semua negara berkembang pada era 1980-an membuat padi hitam—dan padi lokal lainnya—terlupakan.

Lingkungan

Elias Tana Moning mengatakan, Indonesia memiliki 6 varietas padi hitam. Tiga di antaranya dari Jawa yaitu cempo hitam dari Kabupaten Kulonprogo, Provinsi Yogyakarta; jowo melik dari lereng Merbabu, Jawa Tengah; dan cibeusi dari Subang, Jawa Barat. Sisanya berasal dari Indonesia bagian timur yaitu hare kwa dan aen metan dari Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur, serta toraja hitam dari Tana Toraja, Sulawesi Selatan.

Saat ini beragam padi hitam itulah yang banyak dikebunkan antara lain oleh Suko di Magelang, Provinsi Jawa Tengah; Aji Sobarna di Subang dan Syahroni di Cirebon, kedua di Provinsi Jawa Barat.  Yang menarik, meski beras hitam tergolong padi lokal, produktivitasnya tinggi. Hasil panen mereka tidak kalah dengan varietas unggul hasil persilangan lembaga penelitian. Suko memetik cempo hitam 10 ton per ha. Sementara Aji Sobarna dan Syahroni memanen cibeusi 8—10 ton per ha.

Menurut Elias Tana Moning, hasil padi hitam menjulang karena dikebunkan dengan teknologi terbaru yang disebut System Rice Intensification alias (SRI). Prinsip utama SRI yaitu menanam bibit muda berumur 7 hari, menanam 1 bibit di setiap lubang tanam, dan hemat air. “Ini bukti variabel utama untuk menghasilkan produktivitas tinggi bukan hanya genetik, tapi lingkungan,” kata Elias. Dua faktor utama memang mempengaruhi produksi padi: genetik dan lingkungan.

Namun, menurut Elias Tana Moning, banyak peneliti lembaga mapan memilih “manipulasi” gen—dengan persilangan atau rekayasa genetik—untuk menghasilkan padi berproduksi tinggi. Padahal, dengan gen asli pun produktivitas padi dapat meningkat selama lingkungan mendukung. Suko dan Aji Sobarna memanipulasi lingkungan melalui sistem SRI yang dipadu sistem jajar legowo 2:1 yang lebih lebar. Jarak tanam ke samping 60 cm—40 cm—40 cm—60 cm dan ke belakang 20 cm.

“Jajar legowo membuat serapan sinar matahari oleh daun optimal. Laju fotosintesis pun meningkat sehingga hasil padi hitam meningkat,” kata Suko.  Elias Tana Moning menuturkan dari 6 varietas padi hitam 3 di antaranya—cempo hitam, jowo melik, dan cibeusi—paling berpeluang dikebunkan. “Pengalaman di lapangan membuktikan hasil ketiganya bagus. Tiga yang lain belum diamati,” kata Elias.

Menurut Suko, cempo hitam juga istimewa karena gabahnya berwarna kuning agak kehitaman. Warna hitam itu menyamarkan bulir padi dari pengamatan hama burung pipit. “Saat bulir cempo hitam mulai masak, saya tak perlu memasang pengusir burung. Hamparan padi cempo hitam dilewati saja. Burung malah menyerang padi di sekeliling sawah cempo hitam,” kata Suko.

Aromatik

Menurut Suko, cempo hitam juga disukai penikmat perdana beras hitam karena tergolong beras aromatik. Saat Trubus menghirup gabah cempo hitam, aroma herbal mirip jintan hitam menguar. “Konsumen menjadi lebih yakin beras hitam bermanfaat bagi kesehatan,” kata Suko. Sementara produktivitas gabah jowo melik berambut itu setara cempo hitam. Namun, varietas itu kerap menjadi sasaran burung pipit sehingga hasil panen berkurang bila musuh padi itu menyerang.

Soal khasiat, jowo melik tak kalah dengan cempo hitam.  Menurut Suko, sebelum dikenal sebagai obat kesehatan untuk penderita jantung, jowo melik secara turun-temurun menjadi santapan khusus para perempuan suku Jawa pada masa silam. Musababnya, ia dipercaya dapat menjaga tubuh perempuan tetap singset atau langsing. “Silakan makan beras hitam sebanyak-banyaknya. Dijamin tidak akan gendut,” kata Suko. Itu karena beras hitam kaya serat dan kandungan karbohidratnya rendah ketimbang beras pada umumnya.

Cibeusi pun tak kalah istimewa. Ia tergolong beras hitam yang cocok di tanam di lahan sawah dan lahan kering. Pengalaman Syahroni di Cirebon, Provinsi Jawa Barat, padi cibeusi tetap berproduksi hingga 8 ton per ha meski ditanam pada musim kemarau di lahan kering. “Saya bandingkan dengan beberapa varietas padi putih, hanya cibeusi yang bertahan hingga dipanen,” katanya. Oleh karena itu, menurut Syahroni, calon pekebun yang memiliki ladang dan tak punya sawah pun dapat menanam cibeusi. Ia juga cocok bagi pekebun yang khawatir pada perubahan iklim. “Ia tahan terendam sekaligus tahan kekeringan,” kata Syahroni.

Genjah

Menurut Elias, ketiga varietas padi yang sudah terbukti hasilnya tinggi itu juga punya keistimewaan lain. Mereka tergolong padi lokal berumur genjah yang setara dengan padi hibrida. Petani menuai cempo hitam dan cibeusi pada 100 hari; jowo melik 120 hari setelah tanam. Bahkan, penuturan masyarakat lokal di Indonesia bagian timur menyebut umur hara kwe lebih pendek lagi, hanya 90 hari. Sementara aen metan dan toraja hitam berumur 120 hari setelah tanam.

Syahroni membuktikan ucapan Elias itu saat menanam cibeusi bersamaan dengan ciherang di Cirebon. Keduanya siap panen pada waktu bersamaan yaitu umur 120 hari. “Semula saya menyangka, padi baru bisa dipanen umur 6 bulan, ternyata tidak selamanya padi lokal umurnya di atas 4 bulan,” kata Syahroni. Umur genjah itu, menurut Syahroni, membuat pekebun beras hitam juga dapat bersaing dengan pekebun beras putih.

Maksudnya pekebun padi hitam juga dapat menanam 2—3 kali setahun sehingga pendapatan tahunan tetap, bahkan bertambah karena harga jualnya yang lebih tinggi. “Saat ini saya sewa lahan di Bogor seluas 2 ha khusus untuk padi hitam,” kata Syahroni. Oleh karena itu, menurut Syahroni, bukan tidak mungkin pada masa depan pekebun beras hitam semakin meluas menyaingi pekebun beras putih. (Ridha YK, kontributor Trubus, di Kalimantan Selatan)

 

Powered by WishList Member - Membership Software