Tiga Dalam Satu

Filed in Topik by on 05/12/2010 0 Comments

Irwin, cocok digabungkan dengan namdokmai lantaran warna kontrasTabulampot mangga milik Asiong memang unik. Lazimnya hobiis mengoleksi tabulampot mangga terdiri dari 1 jenis saja. Tabulampot milik Asiong terdiri dari 3 jenis mangga: chokanan, namdokmai, dan irwin. Trubus beruntung sempat menyaksikan ketiganya berbuah bersamaan pada November 2010. Buah yang muncul memang masih pentil tapi cukup menjadi bukti ketiga mangga itu tak ngambek berbuah meski ‘digabungkan’. Harap mafhum, kerap terjadi salah satu mangga tumbuh dominan. Ia tumbuh menjulang sendiri, sementara 2 ‘saudara’ yang lain dalam 1 pot tumbuh kuntet. Kalau sudah begitu jangan harap tabulampot memamerkan buah.

Penuh warna

Asiong ‘menggabungkan’ ketiga mangga itu sejak 2,5 tahun lalu. Mula-mula batang bawah yang berasal dari bibit kweni dirancang memiliki 3 cabang utama. Di ketiga cabang utama itulah entres – batang atas – chokanan, namdokmai, dan irwin disambungkan. Caranya, 3 cabang utama kweni dipotong hingga tersisa 5 cm dari pangkal cabang.

Dari ketiganya akan muncul tunas baru. Setelah tunas baru berukuran sejari kelingking, Asiong menyambungnya dengan entres. Cabang sebelah kanan disambung dengan chokanan, cabang kiri dengan namdokmai, sedangan cabang tengah dengan irwin.

Asiong menyambungnya dengan teknik sambung susu. Penyusuan dilakukan selama sebulan sehingga sambungan merekat sempurna. Calon mangga 3 in 1 itu lalu disuburkan dalam polibag selama 4 bulan sebelum dipindah ke pot atau drum.

Agar komposisi tajuk ketiga cabang seimbang, Asiong rajin memangkas setiap tunas baru. Frekuensi pemangkasan kira-kira 3 bulan sekali. Enam bulan berselang, namdokmai dan chokanan mulai berbunga dan berbuah. ‘Namdokmai dan chokanan memang genjah. Keduanya juga sangat rajin berbuah sepanjang tahun,’ kata Asiong.

Sedangkan irwin lebih lambat berbuah. Irwin di cabang tengah baru berbuah pada umur 2,5 tahun. Itulah yang Trubus saksikan pada November 2010 di kediaman Asiong. Saat itu irwin berbuah pertama kali ditemani namdokmai dan chokanan. ‘Irwin hanya berbuah sekali setahun pada November – Januari,’ kata Asiong.

Toh, Asiong tak menyesal memilih irwin. ‘Irwin memiliki kulit merah bergradasi hijau yang kontras dengan namdokmai dan chokanan yang berwarna kuning. Saya yakin saat ketiga buah muncul bersamaan tampilan tabulampot sangat penuh warna,’ tuturnya.

Warna buah memang jadi pertimbangan memilih jenis mangga yang hendak digabungkan. ‘Pilih jenis mangga dengan warna yang berbeda sehingga saat berbuah bersamaan memberi kombinasi warna yang kontras,’ tutur AF Margianasari, direktur produksi Taman Wisata Mekarsari, Cileungsi, Bogor, Jawa Barat.

Seimbang

Pertimbangkan juga bentuk tajuk dan tingkat kecepatan tumbuh antarjenis. Jangan sampai salah satu jenis tumbuh lebih bongsor sehingga menghambat pertumbuhan jenis lain. Pengalaman Riris – sapaan Margianasari – dan Asiong, arumanis sangat sulit dikombinasikan lantaran pertumbuhan cepat dan tajuk nglancir. ‘Pertumbuhan tunas baru arumanis 2 kali lebih cepat dibanding jenis lain seperti namdokmai, chokanan, okyong, atau apel,’ kata Asiong.

Riris mengamati, jenis mangga dengan ukuran daun mirip biasanya memiliki kecepatan tumbuh yang relatif sama. Makanya ia sering menggabungkan kartikia dengan apel yang sama-sama berdaun kecil. Sedangkan okyong engan manalagi yang sama-sama berdaun besar.

Tingkat kemudahan berbuah juga mesti diperhitungkan. ‘Itu tergantung kepentingan pemilik. Jika ingin semua jenis berbuah bersamaan, pilih yang tingkat kemudahan berbuahnya seimbang. Jika ingin panen bergantian, bisa dikombinasikan antara yang mudah dan yang sulit,’ kata Asiong.

Riris membagi mangga dalam 3 kelompok dengan tingkat kemudahan berbuah dalam pot bervariasi. Apel, okyong, namdokmai, falan, tongdam, kartikia, dan khirsapatimalda tergolong mudah berbuah sepanjang tahun di dalam pot. Sedangkan manalagi, gedong, gedong gincu, podang, dan irwin masuk kelompok menengah atau sedang. Yang agak sulit; arumanis, indramayu, dan khioe sawoei. ‘Kelompok mudah dikombinasikan dengan kelompok mudah atau sedang. Kelompok sedang bisa dengan kelompok sedang. Kelompok sulit dengan kelompok sulit,’ kata Riris.

Sembilan kombinasi

Namun, kombinasi dari ketiga kelompok itu tak mustahil dilakukan. Itu dibuktikan Asiong yang pernah mengombinasikan 9 jenis mangga; alfonso, irwin, chokanan, namdokmai, khioe sawoei, chinangwang, arumanis, mundeunkau, dan manalagi. ‘Syaratnya pemangkasan untuk kombinasi dengan banyak jenis mesti ekstrarajin dan jeli,’ tutur Asiong.

Tabulampot kombinasi 9 jenis itu menggunakan batang bawah chokanan. Chokanan yang sudah tumbuh di pot selama 2 tahun, dipotong beberapa cabang utamanya untuk disambung susu dengan entres 8 jenis mangga lain. ‘Kombinasi memang bisa dilakukan saat membuat bibit atau langsung disambungkan pada tabulampot yang sudah dewasa,’ kata Riris.

Berbedanya Riris lebih sering menggunakan teknik sambung pucuk dengan sambungan berbentuk V. Sedangkan Eddy Soesanto di Jakarta Timur mengombinasikan sambung susu dan sisip pucuk. Sisip pucuk dilakukan pada 2 sisi batang bawah. Apa pun caranya, tabulampot mangga kombinasi tetap menawan. (Nesia Artdiyasa/Peliput: Destika Cahyana dan Ari Chaidir)

  1. Tabulampot mangga three in one koleksi Asiong. Gabungan chokanan, namdokmai, dan irwin yang disambung susu
  2. Irwin, cocok digabungkan dengan namdokmai lantaran warna kontras
 

Powered by WishList Member - Membership Software