Tiga Buah Mendobrak Pasar

Filed in Majalah, Topik by on 01/01/2021

Durian menjadi komoditas buah terfavorit sekaligus bernilai jual tertinggi di Indonesia.

Durian, avokad, dan lengkeng memiliki prospek bagus pada 2021.

Berbicara prospek komoditas buah-buahan untuk para pekebun komersial, perlu memperhatikan segmentasi produknya. Segmentasi komoditas buah dapat dibagi menjadi tiga: konsumsi, industri, dan obat.

Avokad unggul dalam keluasan segmentasi komersialisasi: buah konsumsi, buah olahan, dan buah industri.

Selain itu pengusaha komoditas buah pun harus mempertimbangkan faktor budaya dalam menentukan pemasaran komoditas. Setiap negara memiliki komoditas buah yang diagungkan, contohnya Indonesia menganggap durian sebagai rajanya segala buah, sedangkan India menggandrungi nangka. Dari segi popularitas di Indonesia, durian tetap yang paling menarik. Durian memiliki nilai jualnya paling tinggi bahkan tidak terukur.

Si raja buah

Durian-durian ekslusif pemenang kontes dapat dinilai hingga jutaan rupiah. Keterukuran harga buah ditentukan ketersediaan dan cita rasa yang cenderung seragam antarvarietas atau jenisnya. Kespesialan durian memang berasal dari keragaman rasa yang signifikan antarjenisnya. Namun, durian memang memiliki banyak kendala dalam berbudidaya, salah satunya adalah ketidakseragaman rasa pada jenis yang sama.

Musababnya, kebun-kebun durian yang ada di Indonesia kebanyakan dalam skala kecil, kurang dari 10 hektare serta ditanam di agroklimat yang berbeda-beda. Padahal, selain perlakuan perawatan agroklimat juga memengaruhi rasa buah, khususnya durian. Idealnya durian dikebunkan di kawasan yang berdekatan dengan pohon indukannya—yang lazimnya terletak di hutan-hutan—supaya memiliki agroklimat yang sama dan menghasilkan buah yang seragam.

Tantangan menanam durian datang pula dari waktu panen yang lambat dan berisiko tinggi. Waktu panen membutuhkan 4—5 tahun hingga pohon berbuah. Selain itu kegagalan panen duria tinggi karena sangat bergantung kepada cuaca. Bila pada pada musim kemarau terjadi hujan atau kemarau basah, maka bunga-bunga yang terbentuk akan rontok sehingga pada tahun itu pekebun tidak bisa memanen buah.

Bila ada beberapa bunga yang bertahan menjadi buah, rasa buah hambar lantaran kadar air tinggi. Banyak petani yang masih mengandalkan kebun untuk kebutuhan sehari-hari enggan menanam durian meskipun nilai jual durian sangat tinggi karena sifat durian itu. Komoditas buah yang sangat prospektif, bahkan akan mengalahkan durian 1—2 tahun kedepan yaitu avokad. Dari segi keamanan pendapatan akan lebih terjamin avokad ketimbang durian.

Avokad memiliki musim, tetapi juga dapat berbuah di luar musim. Dalam setahun avokad dapat dipanen setidaknya dua kali. Potensi komersial buah avokad pun melampaui durian. Buah avokad dapat disajikan segar atau buah meja, dapat diolah menjadi makanan atau minuman, bahkan dijadikan bahan industri seperti minyak avokad.

<script async src=”https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js”></script>
<ins class=”adsbygoogle”
style=”display:block”
data-ad-format=”fluid”
data-ad-layout-key=”-6t+ed+2i-1n-4w”
data-ad-client=”ca-pub-4696513935049319″
data-ad-slot=”9938833539″></ins>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script>
Saingan antarnegara

Meskipun masyarakat Indonesia masih banyak yang tidak menyukai avokad, “berkat” pandemi korona sejak Maret 2020 masyarakat menjadi lebih mawas gaya hidup sehat, termasuk mengonsumsi buah-buahan. Avokad mendapatkan penggemar-penggemar baru selama pandemi. Harga avokad yang sebelumnya Rp15.000 per kg kini bisa menjadi Rp40.000. Meski itu bukan harga avokad nonpremium, tetap banyak yang membelinya.

Lengkeng jawara dari segi ketersediaan buah yang bisa diatur sesuai kehendak pekebun.

Pelan-pelan penggemar avokad semakin meningkat di Indonesia. Bila konsumen domestik dirasa belum masif, pasar ekspor Amerika dan Eropa sangat berpotensi untuk dipenetrasi. Bahkan, Singapura pun siap menampung avokad Indonesia. Setidaknya ada permintaan 4 kontainer avokad per bulan dari pedagang negara merlion itu. Bila durian memiliki banyak negara pesaing, avokad tidak banyak dikebunkan oleh tetangga-tetangga Indonesia.

Malaysia dan Thailand tidak bermain avokad lantaran mereka kurang menyukai rasa avokad yang cenderung hambar, tidak seperti durian ataupun buah-buahan lain yang bercita rasa manis. Mayoritas pekebun masih berskala kecil, kurang dari 10 hektare. Meskipun demikian, penjualan produk sangat mudah. Ketika pekebun panen, sudah banyak pedagang perantara yang menunggu untuk membeli buah.

Satu pedagang bisa meminta 1 ton sekali beli. Setingkat dibawah avokad, prospek buah lengkeng pun baik pada tahun 2021. Celah kesempatan bagi Indonesia untuk mengembangkan lengkeng datang ketika kebijakan impor mulai diperketat. Buah-buahan lengkeng impor Tiongkok, Thailand, dan Vietnam sulit masuk ke Indonesia.
Pasar buah lengkeng domestik pelan-pelan bersandar pada pekebun-pekebun lengkeng lokal. Varietas-varietas lengkeng semakin diarahkan untuk adaptif di dataran rendah. Buah lengkeng dataran rendah tetap dapat berbuah seperti di dataran tinggi dengan memanfaatkan pemacu buah atau booster. Teknologi budidaya membuat waktu panen dapat diatur kapan pun.

Penggunaan perangsang membuat kebun lengkeng dapat diatur untuk berbuah sepanjang tahun dengan menggilir pembungaan pohon. Tentunya ketersediaan buah yang selalu ada sangat bagus untuk komersialisasi, khususnya agrowisata. Belum komoditas buah ada yang mengalahkan lengkeng dari segi ketersediaan buahnya. (Dr. Ir. Mohamad Reza Tirtawinata, M.S., ahli buah Indonesia)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software