Tidur di Desa, Jadi Petani

Filed in Eksplorasi by on 13/05/2015
Kediaman Atsuko Kimura.

Kediaman Atsuko Kimura.

Plang nama itu bertuliskan huruf kanji yang berarti Rumah Pertanian Kimura. Si empunya rumah, pasangan suami istri Tadayuki dan Atsuko Kimura petani tulen. Mereka menanam pir, apel, ceri, dan padi. Saat Trubus berkunjung pada September 2014 Atsuko sedang sibuk menyortir pir hasil panen di gudang dekat rumah. Perempuan paruh baya yang awet muda itu mengelap, memilah berdasarkan ukuran, mengemas pir ke dalam plastik, lalu memberi label.

Atsuko Kimura bersama suami, bertani sekaligus mengelola homestay untuk para pelajar yang belajar bertani

Atsuko Kimura bersama suami, bertani sekaligus mengelola homestay untuk para pelajar yang belajar bertani

Atsuko mengambil pir berbentuk bulat berkulit kuning itu lalu menyodorkan pada tamu-tamunya. Citarasanya manis menyegarkan, tekstur terasa renyah, dan juicy. Di plang nama itu juga tertulis angka 974. Itu tanda selain sebagai petani suami istri Kimura juga mengelola homestay. Maksudnya pada waktu-waktu tertentu keduanya menerima tamu untuk menginap di rumah mereka.

Namun, itu bukan sembarangan program homestay. Atsuko dan suami hanya menerima tamu anak-anak muda dan pelajar yang berminat belajar dan mengenal bertani. “Biasanya mereka menginap selama 3 hari 2 malam. Selama menginap anak-anak itu mengikuti kegiatan kami. Mulai dari bangun pagi, bersiap ke kebun, sampai kembali pada sorenya,” tuturnya.

Program homestay yang dijalankan suami istri Kimura merupakan salah satu bagian dari program homestay yang digalakkan pemerintah Kota Nambu, Prefektur Aomori. Walikota Nambu, Sukenao Kudo, salah satu inisiatornya. “Tujuannya supaya anak-anak muda mengenal pentingnya dunia pertanian,” kata Kudo yang khusus menggunakan kostum tradisonal Jepang saat menyambut kedatangan 17 wartawan dari 13 negara di Asia. Walikota yang disayangi warganya karena membaur dengan rakyatnya itu memang penuh inovasi.

Wakilota Sukenao Kudo (tengah, menyandang katana), menginisiasi program homestay pertanian dan desa pertanian virtual.

Wakilota Sukenao Kudo (tengah, menyandang katana), menginisiasi program homestay pertanian dan desa pertanian virtual.

Kudo juga menginisiasi tassya-mura, sebuah desa pertanian virtual untuk menjembatani komunikasi antara warga desa dan para pendatang yang ingin tahu tentang berbagai tema. Misal lanskap setempat, sejarah, dan budaya. Kata tassya sendiri memiliki 2 makna, yakni panjang umur dan hidup sehat serta menjadi ahli. Dengan konsep tassya-mura diharapkan penduduk Kota Nambu hidup sehat, panjang umur, dan ahli di bidangnya.

Di dalam tassya-mura walikota mengembangkan konsep green tourism yang mengajak orang kembali ke alam dengan berbagai aktivitas. Seperti melibatkan pelajar dalam kegiatan pertanian dalam program homestay atau studi banding sekolah yang dikelola Badan Promosi Wisataagro San-Haci. “Kota Nambu terpilih menjadi kandidat kota yang mempromosikan era wisataagro baru yakni dengan konsep sebagai kota panjang umur,” tutur Masumi Yamamoto, anggota staf bagian promosi.

Atraksi anak di Festival Nambu.

Atraksi anak di Festival Nambu.

Salah satu masalah di Jepang yakni jumlah populasi yang terus menurun karena angka kelahiran juga turun. Itu juga terjadi di Nambu. “Untuk itu pemerintah membuat beragam festival supaya orang menjadi bahagia dan mau tinggal di Nambu,” kata Yamamoto. Untuk menarik turis, pemerintah kota berjarak tempuh 3 jam menggunakan Sinkansen ke Tokyo itu mencanangkan berbagai acara menarik sepanjang tahun. Pada pertengahan September itu kebetulan warga tengah menyelenggarakan Festival Musim Panas.

Keriuhan terlihat di jalan utama kota. Lampion dipasang di sepanjang jalan. Bau masakan tercium dari kedai-kedai kakilima yang berjualan meramaikan festival itu. Semua warga turun ke jalan menggunakan pakaian tradisional Jepang. Mereka saling tertawa dan menyapa. Anak-anak sekolah melakukan berbagai atraksi seni. Pusat festival yakni sebuah kendaraan hias yang disulap menjadi panggung bergerak. Di atas panggung para seniman menari dan menyanyi.

Suasana pedesaan Kota Nambu.

Suasana pedesaan Kota Nambu.

Kota Nambu berdiri pada 1 Januari 2006, merupakan penggabungan Kota Nagawa dan Desa Fukuchi. Kota di kaki Gunung Nakuidake itu salah satu produsen utama buah-buahan di Prefektur Aomori. Sebut saja apel, pir, ceri, dan anggur. Di Nambu, petani bisa menjual langsung produk dari kebun di pasar tani Nagawa Cherry Center yang dikelola kelompok tani perempuan. Di pasar tani, petani bisa mendapat harga lebih baik karena produk dibeli oleh konsumen akhir.

Festival Kota Nambu, salah satu cara menarik turis.

Festival Kota Nambu, salah satu cara menarik turis.

Ketua kelompok tani perempuan, Keiko Kawamonzen mengatakan kelompok tani terdiri atas 91 perempuan petani pemilik lahan. Setiap anggota memiliki booth di pasar tani. “Setiap hari ada 40—50 anggota yang menjual produknya di sini,” kata Keiko. Sebelum dijajakan buah dan sayuran dikemas baik sehingga terlihat menarik seperti pajangan buah di pasar modern. Aktivitas pasar dimulai pada pukul 05.00 hingga 18.30. Pembeli berasal dari lokal hingga pendatang dari berbagai kota karena lokasi pasar tani berada di jalan negara.

Soba, mi khas Jepang.

Soba, mi khas Jepang.

Di kota seluas 153 km2 itu pendatang juga bisa bereksperimen membuat soba, mi khas Jepang terbuat dari tepung gandum, di rumah makan soba terbaik di sana. Mereka mengaduk tepung, menguleni, mengiris, hingga siap masak. Sembari menunggu soba matang, pengunjung bisa berbelanja aneka hasil bumi di area produk segar rumah makan itu. Di Nambu, kita belajar jadi petani dan hidup bahagia. (Evy Syariefa)

Tags: ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software