Tidak untuk Melawan Galib

Filed in Buah by on 01/06/2009 0 Comments

 

Ir Edhi Sandra Msi membuktikannya. Ia memasang rangka segitiga berbahan papan kayu setinggi 2 m pada rebung bambu kuning bali. Rangka dipasang selama 3 bulan dimulai saat rebung tingginya 0,5 m. Hasil penelitian pada 1999 itu, batang Schizotachyum brachycladum berbentuk segitiga setelah 3 bulan dikerangkeng.

‘Bentuk semua tanaman bisa direkayasa asal mampu menyesuaikan metode perlakuan dengan sifat morfologi dan fisiologi tanaman,’ tutur ahli fisiologi dari Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor itu. Pengalaman Edhi, penggunaan cetakan kayu untuk membentuk bambu segitiga masih memiliki kelemahan. Bambu memiliki meristem interkalari di setiap ruas yang membuat ruas-ruas memanjang. Ketika dibungkus kerangkeng kayu, kulit bambu menempel kuat pada tekstur kayu yang kasar. Akibatnya cetakan ikut bergeser ke atas mengikuti pertumbuhan ruas sehingga bentuk segitiga tak sempurna.

Ada di Malang

Konsep ‘merangkeng’ untuk mengubah bentuk juga diterapkan pekebun semangka di Jepang. Ingatkah Anda hebohnya dunia ketika pekebun di negeri Matahari Terbit memperkenalkan semangka berbentuk kubus pada 1980. Itu pertamakali buah Citrulus lanatus tampil berbeda dari bentuk galibnya. Pekebun di sana menggunakan ‘kerangkeng’ kubus berbahan kaca atau plastik tebal. Bentuk kubus dipilih supaya buah gampang ditumpuk di gerai buah.

Pada 2002 Yan Wahyu, pekebun di Malang, melakukan teknik itu pada melon. ‘Sifat kulit melon mirip semangka. Ukuran buah pun lebih kecil sehingga lebih mudah dibentuk,’ kata Yan. Menurut Dr Ir Moh Reza Tirtawinata MS, pakar buah dari Taman Wisata Mekarsari (TWM), Bogor, syarat buah yang bisa ‘dikerangkeng’ berkulit agak tebal, liat, dan berumur pendek. Contoh lain pepaya, mangga, dan labu kabocha.

Varietas yang dipakai Yan Wahyu sky red. Cetakan kotak dibuat dari bahan mika yang berlubang-lubang agar sirkulasi udara lancar. Ketika itu kadar kemanisan melon kotak karya Yan 21o briks. (baca: Melon Kotak Kado Istimewa, Trubus Agustus 2002). Sayang, tingkat keberhasilan hanya 60%. Itu lantaran wadah gampang pecah sehingga bentuk buah pun tak sempurna.

Bongkar-pasang

TWM menyempurnakan teknik itu. Periset di sana menggunakan kotak berbahan akrilik. Daya elastisitas polimer polymethyl methacrylate itu sesuai dengan karakter melon. Makanya tidak mudah pecah dan bisa menahan desakan buah. Kubus akrilik berukuran 2 cm x 2 cm x 2 cm dipasang saat umur buah 2 minggu – berukuran sebesar telur puyuh. Itu setara dengan 40 hari setelah tanam.

Kotak lalu diganti dengan yang lebih besar setelah 80% kulit buah menempel ke dinding kubus. ‘Untuk varietas golden mekarsari, kotak diganti selang dua hari kemudian. Sedangkan kotak melon light green diganti setelah 4 – 5 hari,’ kata AF Margianasari, ketua tim peneliti melon kotak TWM. Itu karena pertumbuhan pentil golden mekarsari lebih pesat.

Total jenderal melon terkurung dalam kotak selama sebulan hingga dipanen. ‘Total penggantian kotak 4 – 5 kali. Saat buah dibungkus volume penyiraman hanya setengah dari normal. Jika lazimnya 1 tanaman melon di pot disiram 4 l air per hari, melon kubus hanya 2 l. ‘Tujuannya agar kadar air buah berkurang. Buah pun sedikit layu sehingga lebih elastis mengikuti bentuk kubus,’ kata Riris, sapaan Margianasari. Bila tidak, buah mudah pecah. Hasilnya melon kubus yang dirilis TWM pada Maret 2009. Nun di negeri Sakura para pekebun terus berinovasi. Kini mereka sukses mencetak semangka berbentuk segitiga, hati, bahkan wajah orang.

‘Prinsip rekayasa bentuk buah bisa menggunakan beragam bentuk cetakan. Kuncinya prediksi volume pas,’ tutur Reza Tirtawinata. Makanya rekayasa bentuk lebih banyak pada varietas hibrida karena ukuran buahnya relatif seragam sehingga mudah menentukan volumenya. TWM pun mengujicoba pembuatan melon berbentuk botol. Berikutnya bentuk apa lagi ya? (Nesia Artdiyasa/Peliput: Faiz Yajri)

 

Powered by WishList Member - Membership Software