The Super Fruit

Filed in Topik by on 04/11/2010 0 Comments

Baobab berumur 50 tahun di areal pesawahan. Di bagian depan terdapat sebidang tanah seluas 2 m2 yang sepertinya kerap dipakai para petani beristirahat. Dahulu areal itu adalah perumahan karyawan di pabrik benih. Lingkar batangnya 4,35 m

Adansonia digitata di Kebun Raya Bogor. Ditanam pada 1 Oktober 1955 dari bibit yang dihadiahkan oleh Mr Fletscher pada 22 September 1955. Diduga bibit berasal dari Manyingsal, Subang. Di sekitarnya ada sekitar 3 tanaman lain berumur lebih muda. Itu berasal dari biji koleksi Tachrodin yang didapat dari Kebun Raya Purwodadi, Pasuruan, Jawa Timur, pada 1992. Di Pasuruan baobab mampu berbuah karena mendapat cukup cahaya matahari, di Bogor karena iklimnya terlalu basah ia tak pernah berbuah. Setelah berhasil disemai, bibit ditanam pada 12 Februari 1998. ‘Kebun Raya Bogor juga pernah mendapatkan biji baobab dari Filipina,’ kata Harun Al Rasyid, penanggung jawab Bank Biji Seksi Seleksi dan Pembibitan KBR yang pensiun September 2010.‘Pagar’ 14 pohon baobab di salah satu ruas jalan di Kebun Raya Purwodadi, Pasuruan, Jawa Timur. Semua ditanam pada 1985 dari bibit umur 1 tahun. Meski ditanam berbarengan pertumbuhannya tidak seragam. Yang paling bongsor setinggi 7 m dengan lingkar batang 1 m. Dua pohon mandek karena tumbuh di bawah naungan. ‘Baobab mesti ditanam di tempat terbuka,’ kata Wardaya, staf UPT Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Purwodadi. Biji-biji bersumber dari pohon tertua berumur 54 tahunBaobab berumur 86 tahun di lapangan rumput di kawasan pabrik PT Sang Hyang Seri - produsen benih nasional - di Sukamandi, Subang. Zaman kolonial Belanda lapangan rumput itu tempat para sinyo dan tuan Belanda bermain golf. Di sana terdapat 2 pohon yang berdiri berdampingan - mirip seperti welcoming tree. Pohon di bagian kiri berkeliling batang 12,10 m, pohon di kanan 13,70 m. Ketika berkunjung pada September 2010, pohon tengah dipenuhi ratusan buah yang tidak pernah dipanen. Pohon sebatas dinikmati keindahannya. Padahal di Senegal, Afrika, misalnya pada 2004 dipanen 44 ton buah. Daging buah berwarna krem yang diolah menjadi bubuk diekspor ke Eropa sebagai makanan kesehatan dengan nilai setara Rp1-miliar. Buah bisa dimakan, salah satu alasan penyebarluasan sebuah tanamanSang raksasa Afrika di kala senja, terlihat elok meski tajuknya gundul. Roger Blench dalam the Intertwined History of Silk-Cotton and Baobab menyebut jika pada abad ke-20 baobab menyebar luas dari Afrika ke seluruh dunia sebagai tanaman hiasBaobab berumur 86 tahun di lapangan rumput di kawasan pabrik PT Sang Hyang Seri – produsen benih nasional – di Sukamandi, Subang. Zaman kolonial Belanda lapangan rumput itu tempat para sinyo dan tuan Belanda bermain golf. Di sana terdapat 2 pohon yang berdiri berdampingan – mirip seperti welcoming tree. Pohon di bagian kiri berkeliling batang 12,10 m, pohon di kanan 13,70 m. Ketika berkunjung pada September 2010, pohon tengah dipenuhi ratusan buah yang tidak pernah dipanen. Pohon sebatas dinikmati keindahannya. Padahal di Senegal, Afrika, misalnya pada 2004 dipanen 44 ton buah. Daging buah berwarna krem yang diolah menjadi bubuk diekspor ke Eropa sebagai makanan kesehatan dengan nilai setara Rp1-miliar. Buah bisa dimakan, salah satu alasan penyebarluasan sebuah tanaman

 

‘Pagar’ 14 pohon baobab di salah satu ruas jalan di Kebun Raya Purwodadi, Pasuruan, Jawa Timur. Semua ditanam pada 1985 dari bibit umur 1 tahun. Meski ditanam berbarengan pertumbuhannya tidak seragam. Yang paling bongsor setinggi 7 m dengan lingkar batang 1 m. Dua pohon mandek karena tumbuh di bawah naungan. ‘Baobab mesti ditanam di tempat terbuka,’ kata Wardaya, staf UPT Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Purwodadi. Biji-biji bersumber dari pohon tertua berumur 54 tahun

Baobab di depan masjid di Subang. Ditanam pada 1952 atas perintah Tuan Pitoyo, kepala kebun karet ketika itu. Penduduk setempat sempat menyebutnya sebagai kapuk aneh, maklum sepintas penampilannya memang mirip kapuk randu Ceiba pentandra. Roger Blench dari Mallam Dendo – konsultan lingkungan dan antropologi Afrika Barat – di Cambridge, Inggris, menyebut baobab dan kapuk randu juga disalahkaprahkan di Afrika

Sebatang baobab berumur 54 tahun. Di dekatnya berdiri gubuk setinggi 4 – 5 m berfungsi sebagai menara pengawas di kebun tebu. Di Afrika, gubuk bukan sekadar berdiri di sisi, tapi terkadang berada di atasnya – menjadi rumah pohon, atau malah batang tanaman itu sendiri yang dijadikan rumah

Sang raksasa Afrika di kala senja, terlihat elok meski tajuknya gundul. Roger Blench dalam the Intertwined History of Silk-Cotton and Baobab menyebut jika pada abad ke-20 baobab menyebar luas dari Afrika ke seluruh dunia sebagai tanaman hias

Baobab punya daya regenerasi luar biasa. Dari pohon yang tumbang tumbuh pohon-pohon baru, bahkan produktif menghasilkan buah

Baobab di pintu masuk menuju Sang Hyang Seri, salah satu yang terbesar dan tertua. Menurut berbagai catatan baobab Adansonia digitata tertua antara lain ditemukan di Cape Verde, Afrika diperkirakan berumur 5.150 tahun. Penghitungan umur baobab sulit dilakukan jika sekadar melihat sosok tanaman. Lagipula batang baobab tidak punya lingkaran tahunan sebagai penanda umur. Untuk itu dilakukan tes karbon pada sebuah pohon di Kariba. Hasilnya diperkirakan pohon itu ditanam pada 1010

Batang utama baobab bervariasi antara warna kelabu hingga kecokelatan. Batang terlihat tetap segar meski tanaman tanpa daun. Penduduk di Afrika memanfaatkan kulit batang untuk tali karena lembut dan berserat. Pemanfaatan lain sebagai obat. Kandungan adansonin C48H36O33 dalam kulit batang berkhasiat sebagai senyawa aktif untuk mengobati malaria dan demam lain

Ki tambleg di tengah-tengah kebun tebu di Subang. Hasil penelusuran Trubus, kebanyakan baobab di Indonesia terkonsentrasi di perkebunan di bagian utara Pulau Jawa itu. Dahulu lahan itu berada di bawah penguasaan Pamanoekan en Tjiasemlanden, milik warganegara Jerman, Peter Wellem Hofland, berupa perkebunan karet. Pada 1970-an kebun karet itu berubah menjadi kebun rosella. Lalu pada 1975-an ditanami serehwangi, kacang tanah, dan padi secara tumpangsari. Baru pada 1982 berubah jadi perkebunan tebu hingga sekarang

Ki babi punya ciri khas bonggol yang besar dan menggembung. Di sanalah cadangan air disimpan. Di Afrika baobab disebut sebagai tanaman kehidupan. Musababnya ketika dalam perjalanan para musafir kerap menggantungkan hidupnya pada pohon kerabat durian Durio zibethinus ini. Mereka menebas dahan dan meminum air yang mengucur keluar darinya. Sebatang baobab dewasa bisa berisi 4.500 l air

Bunga baobab berbentuk mirip kembang sepatu Hibiscus rosa-sinensis. Di Afrika bunga bisa muncul di bulan basah maupun kering. Bunga mengeluarkan aroma harum yang mengundang kelelawar, hingga mamalia malam itu membantu proses penyerbukan bunga

Bu hibab, itu asal kata nama baobab yang diambil dari bahasa Arab. Artinya buah dengan banyak biji. Buah baobab memang ‘kaya’ biji. Sebuah, seukuran betis, yang dimasak di kediaman Prof Dr der Soz Gumilar R Somantri, rektor Universitas Indonesia, pada sebuah sore di bulan September, berisi 446 biji berwarna kehitaman sebesar buku jari telunjuk. Di Afrika biji biasa dimakan sebagai camilan, bak kacang goreng

Kaki gajah, begitu julukannya di Afrika. Mafhum saja batang yang berbonggol besar itu penampilannya memang mirip kaki satwa berbelalai itu. Di Subang, sebutannya setali 3 uang – merujuk pada sosok yang gendut meraksasa: ki babi. Tak sekadar besar, batang baobab juga kuat. Menurut cerita sebuah truk pernah menabrak pohon baobab di depan sebuah masjid. Gara-gara itu batang memang sedikit ‘melesak’ ke dalam membentuk lubang. Namun, 24 tahun berselang – saat ini – lubang telah kembali menutup sempurna

Di tanahair, baobab lebih dikenal sebagai tanaman hias. Namanya sempat ikut populer seiring dengan demam Adenium arabicum – mawar gurun bercaudek indah – pada 2007. Sosok arabicum dianggap miniatur baobab. Di tangan kolektor ia menjadi penghias taman. Foto diambil dari kediaman seorang kolektor di Bandung, Jawa Barat

Adansonia digitata di Kebun Raya Bogor. Ditanam pada 1 Oktober 1955 dari bibit yang dihadiahkan oleh Mr Fletscher pada 22 September 1955. Diduga bibit berasal dari Manyingsal, Subang. Di sekitarnya ada sekitar 3 tanaman lain berumur lebih muda. Itu berasal dari biji koleksi Tachrodin yang didapat dari Kebun Raya Purwodadi, Pasuruan, Jawa Timur, pada 1992. Di Pasuruan baobab mampu berbuah karena mendapat cukup cahaya matahari, di Bogor karena iklimnya terlalu basah ia tak pernah berbuah. Setelah berhasil disemai, bibit ditanam pada 12 Februari 1998. ‘Kebun Raya Bogor juga pernah mendapatkan biji baobab dari Filipina,’ kata Harun Al Rasyid, penanggung jawab Bank Biji Seksi Seleksi dan Pembibitan KBR yang pensiun September 2010. (Evy Syariefa/Peliput: Ari Chaidir, Faiz Yajri, dan Nesia Artdiyasa)

 

Powered by WishList Member - Membership Software