Tes Gula Tanpa Luka

Filed in Majalah, Obat tradisional by on 11/12/2019

Glukometer noninvasif memanfaatkan sifat fisis penyerapan laser sensor untuk mengetahui kandungan gula darah.

 

Alat pengukur kadar gula darah noninvasif alias tanpa melukai pasien.

Siti Apriliani—nama samaran—masygul menjelang pemeriksaan darah di sebuah rumah sakit di Kota Depok, Jawa Barat. Harap mafhum perempuan berumur 30 tahun itu fobia jarum suntik. Selama ini sampel darah yang diuji berasal dari tusukan pada jari atau melalui pembuluh darah pada bagian tubuh tertentu. Tentu saja aktivitas itu menjadi ajang uji nyali bagi para fobia jarum suntik.

Glucosaga alat pengukur kadar gula darah kreasi Dr. Eng. Herianto, S.T., M.Eng dan tim.

Untungnya penelitian pengembangan alat pengukur gula darah tanpa melukai (noninvasif). Salah satunya glukometer noninvasif kreasi Dr. Eng. Eko Hidayanto dan rekan dari Departemen Fisika, Fakultas Sains dan Matematika, Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah. Eko dan tim meriset glukometer.

Perlu dikembangkan

Mula-mula Eko Hidayanto merancang dan membuat catu daya yang stabil melalui simulasi. Setelah itu mengevaluasinya secara eksperimental. Selanjutnya ia menggabungkan hasil percobaan dengan pengembangan perangkat lunak (software) antarmuka perangkat keras optik untuk mendeteksi gula darah. Keluaran analog tegangan listrik yang dikonversikan pun menjadi nilai terukur kandungan gula darah.

Eko menggunakan sensor saturasi oksigen buatan Nellcor. Semula Eko dan tim merakit sensor sendiri memakai komponen lokal seperti LED merah dan fotodioda. “Hasilnya tidak sesuai dengan yang diinginkan karena intensitas cahaya yang dipancarkan oleh LED sangat kecil. Dampaknya spektrum cahaya yang menembus jaringan tubuh (ujung jari tangan) juga sedikit sehingga tidak terdeteksi fotodioda,” kata alumnus Department of Materials Science and Engineering, Kyoto University, Jepang, itu.

Dr. Eng. Eko Hidayanto dan rekan meneliti glukometer sejak 2014.

Penggunaan sensor dengan menempelkannya ke permukaan kulit sehingga bersifat noninvasif. Penempatan posisi sensor di tumit bayi. Pada orang dewasa posisi sensor pada ujung jari atau cuping. Eko menyarankan penggunaan glukometer noninvasif di tempat gelap. Jadi, hanya cahaya dari jaringan tubuh yang terbaca sensor. Bukan cahaya dari sumber lain yang bisa mengurangi ketelitian alat. Musababnya alat bikinan Eko dan rekan menggunakan sistem serapan cahaya.

Menurut Eko akurasi glukometer noninvasif itu mencapai 90%. Alat itu akurat jika digunakan pada jari yang kukunya tanpa kuteks. Respons masyarakat dengan adanya glukometer nonivasif itu bagus. Buktinya 5—10 unit alat itu terjual pada sebuah pameran di Semarang, Jawa Tengah, pada 2015. Saat itu glukometer nonivasif dibanderol sekitar Rp800.000/unit. Dosen Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Eng. Herianto, S.T., M.Eng., mengatakan, alat pengukur gula darah noninvasif belum banyak di Indonesia.

Namun, industri glukometer noninvasif berkembang di mancanegara. Itulah yang medorong 5 mahasiswa UGM (Ayu Rahmawati Kautsar Dieni, Nurul Fajriati Setyaningrum, Atika Nurul Haniyyah, Abdullah Ibnu Hasan, dan Ardi Yusri Hilmi) meriset alat pengukur gula darah noninvasif pada 2017 di bawah bimbingan Herianto. Nama alat bikinan UGM itu yakni glucosaga.

Glukometer noninvasif mendeteksi kadar gula darah melalui ujung jari tangan.

<script async src=”https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js”></script>
<ins class=”adsbygoogle”
style=”display:block”
data-ad-format=”fluid”
data-ad-layout-key=”-er+o+l-go+rw”
data-ad-client=”ca-pub-4696513935049319″
data-ad-slot=”3417295201″></ins>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script>

“Cara kerja glucosaga menggunakan spektrum cahaya. Kami mengukur dan menganalisis infrared yang bisa menembus jaringan,” kata Herianto. Pemakaian glucosaga pada cuping karena berkulit tipis dan dekat jaringan darah. Cara pakainya mudah. Letakkan sensor pada telinga bagian bawah lantas tekan tombol start. Kemudian hasil pembacaan kadar gula darah muncul pada layar liquid crystal display (LCD). Keakuratan perangkat itu masih 60% karena keterbatasan alat.

Dibutuhkan

Bisa jadi spektrum infrared di dalam negeri berbeda dengan yang ada di mancanegara. “Kemungkinan spektrum infrared di Indonesia luas. Mungkin ada spektrum khusus darah di luar negeri,” kata Herianto. Ia menuturkan penelitian glucosaga perlu dilanjutkan. Alasannya industri glukometer noninvasif berkembang di mancaengara.

Peneliti di Pusat Teknologi Elektronika, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jonathan Prabowo, menyatakan adanya alat pengukur gula darah noninvasif memungkinkan setiap orang mengukur gula darah kapan dan di mana saja tanpa takut jarum suntik seperti pengalaman Siti Apriliani.
Kepala Bagian Epidemiologi dan Penyakit Tropik, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro, dr. Ari Udiyono, M. Kes, FIAS., menuturkan kelebihan alat itu adalah tidak invasif. Artinya data diambil dengan tidak melukai dan menimbulkan rasa tidak nyaman bagi penderita. Alat itu perlu diapresiasi sebagai alat ukur yang tidak menimbulkan rasa cemas bagi penderita.

“Yang perlu diperhatikan validitas dan reliabilitas alat ukur itu. Harapannya data yang diperoleh akurat dan presisi. Oleh karena itu, perlu kajian lebih mendalam dan pengukuran pada banyak responden,” kata ahli epidemiologi penyakit nonmenular itu. Selain itu perlu dibandingkan dengan berbagai standar pengukuran yang selama ini telah terukur dan diterima kalangan medis. (Riefza Vebriansyah)

Tags: , , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software