Terpincut si Bibir Putih

Filed in Majalah, Tanaman hias by on 06/08/2019

Penampilan Dendrobium stratiotes forma alba milik Vincent Caesar Jansius Luhur.

 

Dendrobium langka berpenampilan cantik.

Vincent Caesar Jansius Luhur jatuh hati pada keindahan dendrobium.

Vincent Caesar Jansius Luhur bak mendapat durian runtuh ketika tanpa sengaja memperoleh anggrek Dendrobium stratiotes forma alba. Anggrek langka itu sungguh istimewa. Sebutan alba (dalam bahasa Latin berarti putih) Sang bunga mempunyai labellum alias bibir yang benar-benar putih. Begitu pula dengan petal yang putih. Tak ada guratan warna lain, baik jika diamati dari jarak jauh maupun dekat.

Padahal, stratiotes biasanya mempunyai bibir bergurat ungu kemerahan. Perbedaan warna itu tentu saja membuat stratiotes milik Vincent masuk dalam daftar anggrek eksklusif. Habitat Dendrobium stratiotes di Kepulauan Maluku, Sulawesi, dan Papua. Vincent mengatakan, stratiotes forma alba sulit ditemukan. Ia mendapatkan anggrek istimewa itu pada 2012. “Itu pun tanpa sengaja,” katanya.

Terselip dan busuk

Semula Vincent mendatangkan beragam jenis stratiotes dari Papua. Ketika tanaman tiba di kediamannya di Jakarta Utara, kondisi tanaman sangat memprihatinkan. Nyaris seluruh tanaman busuk. Alumnus Universitas Pelita Harapan itu segera menyelamatkan anggrek-anggrek itu dengan cara mengeringanginkan. Sayangnya, hanya 50 tanaman yang bertahan hidup dari 200 tanaman yang didatangkan.

Sosok D. antennatum forma alba.

“Stratiotes alba terselip di antara tanaman yang selamat itu,” kata Vincent. Ia sempat tidak acuh pada stratiotes-stratiotes itu. Mereka tumbuh ala kadarnya. Vincent bahkan pernah berkeinginan untuk membuang satu tanaman yang membusuk. Pasalnya, pertumbuhan tanaman sangat lambat. Hanya ada beberapa akar yang menempel pada media berupa kayu kopi.

Untung saja Vincent mengurungkan niat membuang tanaman itu berkat masukan beberapa karyawan. “Mereka merasa kasihan,” katanya. Menjelang akhir 2017 pemuda 25 tahun itu menjumpai sang tanaman mengeluarkan satu kuntum bunga. Ia mengira itu bunga terakhir sebelum tanaman mati. Kondisi bunga seperti mau mekar, tetapi seakan-akan ada sesuatu yang menghambat. Akhirnya Vincent mengorek kuntum itu dengan pinset.

Pada saat itulah Vincent menemukan labellum bunga berwarna putih. Penampakan itu tentu saja membuatnya takjub. Pasalnya, stratiotes memiliki lidah bergurat-gurat kemerahan. Alumnus jurusan Desain Grafis Universitas Pelita Harapan itu lantas memindahkan tanaman pada pot besar berisi arang kayu. Tanpa disangka sejak itu tanaman tumbuh subur dan berbunga semarak.

Vincent mendapat tawaran dari pehobi anggrek lain untuk melepas koleksinya karena keistimewaan itu. Namun, Vincent bergeming. Maklum, stratiotes alba tergolong langka. Apalagi banyak orang yang terkecoh dengan D. strepsiceros. “Yang menjadi penciri adalah bentuk lidah,” kata Vincent. Stratiotes mempunyai labellum cenderung bundar, sedangkan strepsiceros runcing dan bergelombang.

Mudah merawat

Warna putih membalut seluruh permukaan bunga D. striaenopsis.

Vincent jatuh hati pada dendrobium. Ia menuturkan jika dibandingkan dengan genus anggrek lain, dendrobium mempunyai daya pikat tersendiri. “Penampilan dendrobium sangat indah dan cukup mudah dirawat,” kata Vincent. Di kediamannya ia merawat setidaknya 1.500 dendrobium beragam jenis. Mayoritas dendrobium koleksi Vincent berkarakter istimewa.

Tanaman tumbuh sentosa di lantai atas dengan sinar matahari melimpah dan sirkulasi udara lancar. Selain D. stratiotes forma alba, ia juga mengoleksi D. antennatum dan D. striaenopsis. Keduanya sama-sama alba. Antenantum alba mempunyai petal, sepal, dan labellum berwarna putih. Tanduknya melintir kuning kehijauan. Penampilan striaenopsis juga tak kalah istimewa. Seluruh bagian bunga dendrobium dari seksi phalaenanthe itu berwarna putih bersih.

Menurut peneliti anggrek dari Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Dr. Destario Metusala, M.Sc, alba adalah hilangnya pigmentasi warna pada bunga sehingga bagian-bagiannya menjadi putih. Pigmentasi warna bunga terjadi karena kandungan beberapa senyawa seperti klorofil, antosianin, dan karoten.

Fenomena hilangnya pigmentasi itu kadang kala tidak merata pada seluruh bagian bunga. Alba bersifat resesif sehingga kemunculannya sangat kecil. “Apalagi jika tanaman itu berasal dari alam,” kata Destario. Kelainan itu sesungguhnya kurang menguntungkan bagi anggrek. Pigmen warna terutama pada labellum berguna untuk menarik serangga. Destario menuturkan warna pada labellum merupakan petunjuk bagi serangga untuk mendarat. Namun, bagi kolektor kondisi abnormal itu justru mampu meningkatkan gengsi. Wajar jika nilai dendrobium forma alba cukup tinggi lantaran langka. (Andari Titisari)

Tags: , , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software