Terobosan Vannamei

Filed in Majalah, Topik by on 03/12/2018

Masyarakat memiliki beragam pilihan beternak udang vannamei: skala luas atau skala kecil di teras rumah. Bahkan, peternak juga berpeluang membesarkan vannamei di atas lahan berpasir.

Budidaya udang menghasilkan laba menggiurkan. Menyejahterakan pengusaha, tenaga kerja, dan masyarakat sekitar.

PT Noerwy Aqua Farm (NAF) di Desa Ujunggenteng, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, memproduksi total 350 ton udang vannamei per siklus atau 110 hari. Namun, produksi sebanyak itu belum memenuhi permintaan. “Dinaikkan sampai 1.000 ton per siklus pun pembeli siap menampung,” kata Manajer Tambak NAF, Rachman Qutub. Menurut Rachman udang mampu mendatangkan kesejahteraan bagi pengusaha, tenaga kerja, dan masyarakat sekitar tambak.

Perusahaan itu membangun tambak untuk pembesaran Litopenaeus vannamei di atas lahan pasir. Selama ini lahan pasir tidak pernah dimanfaatkan untuk tambak. Namun, dengan teknologi biokret (biocrete) perusahaan itu memanfaatkan lahan pasir sebagai lokasi budidaya udang vannamei. NAF mempunyai 10 pembeli yang rutin menampung vannamei hasil budidaya di tambak dengan luas total 20 ha itu.

Unggul sedunia

Sekretaris Jenderal Shrimp Club Indonesia, I Nengah Sarjana.

Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Tambak Udang Intensif (Shrimp Club Indonesia, SCI) I Nengah Sarjana mengatakan, udang menjadi komoditas seksi lantaran hampir seluruhnya diserap pasar mancanegara. Apalagi di tengah penguatan valuta dolar Amerika Serikat seperti sekarang. “Margin besar karena pasarnya adalah negara subtropis,” kata pemilik PT Putra Gunung Sari (PGS) di Buleleng dan Jembrana, Bali itu.

Dengan panjang garis pantai 71.000 km, potensi Indonesia tidak main-main dalam budidaya vannamei. Tentu saja, Indonesia tidak berdiri sendiri sebagai produsen vannamei dunia. Menurut data Badan Pangan Dunia (FAO), hampir semua negara anggota ASEAN—kecuali Laos—juga membudidaya udang kaki putih itu. Dua raksasa ekonomi dunia, Tiongkok dan India pun tidak ketinggalan.

Negara-negara di Amerika Selatan dan Amerika Tengah, negara Afrika di sekitar ekuator, serta kepulauan Pasifik juga menjadi pesaing aktual. India bahkan menyebabkan keterpurukan harga udang dunia pada pertengahan 2018 ketika mereka panen raya. Namun, tidak satu pun pesaing mempunyai keunggulan geografis seperti Indonesia. Terletak tepat di garis khatulistiwa, tepat di pertemuan 2 samudera, dan tepat di pertemuan arus dingin dan panas.

Kondisi geografis itu menjadikan perairan Indonesia relatif hangat sepanjang tahun dengan suhu terendah 20ºC, pas untuk perkembangan udang serta kaya nutrisi dan mineral. Keunggulan itu membuat petambak bisa membudidaya vannamei 2—3 siklus per tahun. Satu siklus budidaya udang vannamei 110 hari. “India atau Tiongkok hanya bisa satu siklus per tahun,” kata Nengah. Ketika musim dingin tiba, mereka tidak bisa membudidayakan vannamei.

Keunggulan geografis juga menjadikan rasa vannamei Indonesia superior dibandingkan dengan vannamei produksi kompetitor. Menurut Nengah pembeli berani membayar lebih mahal untuk menikmati vannamei asal Indonesia. Wajar pemodal besar maupun kecil antusias menggelontorkan isi dompet mereka untuk budidaya vannamei. Apalagi berbagai teknologi mendukung peningkatan produksi maupun pemanfaatan lahan marjinal.

Itulah sebabnya beragam inovasi budidaya udang vannamei menjadi penting. Dengan metode biokrit, NAF bisa membuat tambak di lahan berpasir. Lazimnya pengusaha membuat tambak di lahan bertanah liat. Sentuhan teknologi menjadikan populasi meningkat hingga 2—3 kali lipat. Bahkan kini masyarakat mampu beternak udang vannamei di teras rumahnya.

Harapkan dukungan

Laba per siklus pun mencapai ratusan juta rupiah sehingga layak dilakukan di lahan sewaan. Tentu saja, semua itu tidak semudah membalik telapak tangan. Berbagai aral teknis maupun nonteknis menghadang. Hujan sepanjang tahun pada 2016 membuat kualitas air berfluktuasi sehingga produksi NAF anjlok 30%. Kendala nonteknis pun membuat pengusaha gamang. Nengah menyoroti dukungan pemerintah yang ia rasakan belum berpihak.

Vannamei Indonesia digemari mancanegara karena lebih enak daripada produk pesaing.

Salah satunya, rencana penerapan pajak hingga 25% dari omzet total. Kalau jadi, penerapan aturan itu bakal membuat pengusaha tambak mundur serentak. “Perhitungan omzet belum dikurangi biaya produksi. Kalau langsung dipotong pajak, pengusaha tidak dapat apa-apa,” ungkap pria 44 tahun itu. Sebagai komoditas ekspor, udang layak mendapat keistimewaan karena mendatangkan devisa bagi negara.

Kehadiran tambak menyerap tenaga kerja sehingga mengurangi angka pengangguran. Melalui SCI, Nengah mengupayakan dukungan pemerintah bagi budidaya udang. Jangan sampai dengan segala keunggulannya, negara kita menjadi tikus yang mati di lumbung padi. (Argohartono Arie Raharjo)

Tags: , , , , , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software