Terkubur Dalam Tanah

Filed in Info Singkat by on 10/05/2014
Buah keliwetn, diolah menjadi tuak dengan proses fermentasi

Buah keliwetn, diolah menjadi tuak dengan proses fermentasi

Buah keliwetn Baccaurea sp pernah menjadi simbol status sosial masyarakat Kutai Barat, Kailmantan Timur. Secangkir tuak keliwetn itu sohor untuk menyambut tamu yang amat dihargai sekaligus pelengkap upacara adat. Buah tumbuh di sekujur cabang, menempel di cabang-cabang utama. Ukurannya sedikit lebih besar ketimbang telur puyuh.

Buah keliwetn

Buah keliwetn

Dalam sebuah tangkai terdiri atas belasan buah. Ketika kulit dikupas, tampak daging buah yang jingga terang. Daging buah merupakan bahan baku tuak keliwetn yang dimasukkan ke dalam giye alias guci tanah liat. Guci berkapasitas 10 kilogram daging buah keliwetn tertutup rapat dan terpendam 20 cm di bawah permukaan tanah dekat aliran sungai. Tak diketahui secara pasti, asal-muasal ide pembuatan minuman itu.

Menurut Ir Betty Dewi Sofiah MS, ahli mikrobiologi pangan Universitas Padjadjaran, guci berpori-pori sehingga menjadi pintu masuk bagi bakteri anaerob yang berperan mengurai daging buah keliwetn dalam proses fermentasi. Pemendaman guci di bawah permukaan tanah lantaran kelembapan tinggi. “Pada kondisi itu mungkin bakteri bekerja optimal,” kata Betty. Bakteri yang mengurai buah dalam fermentasi beragam seperti Acetobacter sp.

Tiga bulan berselang, daging buah jingga itu berubah menjadi cairan beraroma khas. Itulah tradisi suku Dayak Benuaq menghasilkan tuak. Sayang tradisi membuat keliwetn itu hilang sejak 2 generasi lalu. Menurut Abutiyus, warga Temula, Kecamatan Nyuatan, Kutai Barat, “Kakek saya dahulu masih membuat tuak keliwetn. Rasanya manis,” kata kelahiran 17 Juni 1936 itu. Kini jangankan membuat tuak keliwetn, pohonnya saja langka.

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software