Tercepat Gapai Langit

Filed in Laporan khusus by on 02/05/2013 0 Comments

Setelah sengon dan jabon sohor, kini giliran kayu afrika menyusul.

“Dari sosok kayu, kami jatuh cinta pada kayu afrika. Saya belum pernah menjumpai pohon yang memiliki tingkat kelurusan sebaik pohon afrika,” kata asisten kepala bagian Divisi Penanaman PT Kutai Timber Indonesia (KTI), Joko Tulus SHut. Menurut Joko pohon Maesopsis eminii mampu tumbuh lurus lantaran memiliki kemampuan merontokkan cabang sendiri atau absisi sehingga tidak perlu pemangkasan. “Mata kayunya juga lebih sedikit. Jika diolah menjadi lembaran akan terlihat lebih mulus,” ujarnya. Dari kekuatan musizi—sebutannya di Afrika—lebih kuat daripada sengon atau jabon.

Sayang, kayu afrika memiliki aroma menyengat yang kurang sedap meski kayunya telah diolah. Aroma itu dapat mengganggu seandainya pabrik mengolahnya menjadi kayu lapis, lalu konsumen menggunakannya sebagai dinding atau furnitur di rumah. “Hingga saat ini kami belum menemukan teknologi untuk menghilangkan aromanya,” kata Joko. Densitas kayu juga hanya 300—400 kg/m3, bentuknya bergelombang setelah diproses, dan melintir saat pengeringan. Itulah yang menyebabkan PT KTI yang memprodusi kayu lapis belum memanfaatkan kayu tanaman anggota famili Rhamnaceae itu sebagai bahan baku.

Menurut ahli fisiologi tumbuhan di Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB), Ir Edhi Sandra MSi, aroma itu merupakan metabolit sekunder yang dihasilkan oleh kayu afrika. Setiap organisme sejatinya menghasilkan metabolit sekunder, tetapi dalam bentuk yang berbeda-beda. Tujuannya untuk mempertahankan diri dari lingkungan yang kurang menguntungkan, seperti serangan hama dan penyakit. “Aroma pada kayu afrika biasanya muncul sejak umur 5 tahun. Semakin tua, aromanya semakin menyengat,” ujarnya.

Edhi menuturkan aroma pada kayu afrika itu bisa saja muncul meski umur pohon masih muda. Penyebabnya pertumbuhan tanaman kurang optimal, misalnya akibat kekurangan nutrisi. Pada kondisi itu regenerasi sel tumbuhan tidak berlangsung optimal sehingga pohon didominasi oleh sel-sel tua. Penyebab lain jarak tanam yang terlalu rapat sehingga masing-masing tanaman tidak memperoleh sinar matahari cukup karena saling menaungi. Akibatnya fotosintesis tidak berlangsung optimal sehingga pasokan makanan berkurang. Dampaknya, sel-sel tanaman mengalami penuaan dini dan proses regenerasi sel lambat.  “Oleh karena itu untuk mengurangi aroma menyengat, pastikan tanaman memperoleh pupuk yang cukup dan atur jarak tanam lebih renggang,” kata Edhi. (Imam Wiguna/Peliput: Andari Titisari)

 

FOTO:

Tingkat kelurusan kayu afrika sangat baik dan bermata kayu lebih sedikit

 

Powered by WishList Member - Membership Software