Tepat Pupuk Panen Besar

Filed in Inspirasi, Majalah by on 14/08/2020

Optimalkan hasil panen padi dengan aplikasi pupuk yang tepat.

Tepat waktu, tepat dosis, dan tepat jenis pemberian pupuk mampu meningkatkan produksi padi.

Sucipto menuai 9 ton gabah kering panen (GKP) dari sawah 1 hektare miliknya. Padahal, biasanya Petani di Desa Dukuh Dempok, Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur, itu hanya memanen 7—8 ton per hektare. Sucipto menanam padi varietas inpari 9 di lahan total 1 hektare. Lonjakan produksi itu karena Sucipto rutin memupuk total 200 kg Urea dan 300 kg NPK sesuai dengan tahap perkembangan tanaman.

Ia memberikan 100 kg Urea ketika tanaman berumur 5—7 hari setelah tanam (hst). Tujuannya sebagai nutrisi pertumbuhan tanaman ketika baru pindah dari persemaian menuju lahan. Pada tahap kedua, ia memberikan campuran 100 kg Urea dan 150 kg NPK. Waktu pemberian saat tanaman berumur 15 hari. Tujuannya untuk menyediakan nutrisi pada fase pengisian bulir.

Masih untung

Menurut Sucipto tahap terakhir pemberian 150 NPK untuk memasok nutrisi dalam pemasakan bulir padi. Waktu pemberian saat tanaman berumur 25 hari. Petani kelahiran 7 April 1960 itu mengatakan, pupuk Urea mengandung unsur nitrogen (N) bermanfaat sebagai sumber nutrisi bagi pertumbuhan vegetatif tanaman. Adapun pupuk NPK yang mengandung unsur nitrogen (N), fosfat (P2O5), dan kalium (K2O) berperan dalam pertumbuhan generatif yakni pengisian gabah.

Peneliti dan ketua kelompok peneliti agronomi di Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Dr. Zuziana Susanti, S.P., M.Sc.

Sucipto mengatakan, semula ia memanfaatkan pupuk subsidi karena harga lebih murah. Namun, setahun terakhir ia memanfaatkan pupuk nonsubsidi. Harga pupuk Urea nonsubsidi Rp265.000 per 50 kg. Artinya ia memerlukan Rp1.060.000 untuk membeli Urea. Adapun harga NPK Rp290.000 per 50 kg setara Rp1.740.000 per 300 kg. Total biaya pupuk Rp2.800.000 per musim tanam. Bandingkan dengan omzet penjualan gabah yang mencapai Rp33 juta. Harga jual gabah Rp3.700 per kg. Artinya keuntungan relatif besar.
Peneliti dan ketua kelompok peneliti agronomi di Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Dr. Zuziana Susanti, S.P., M.Sc. mengatakan, pemupukan tanaman padi sebaiknya dilakukan sebanyak 3 kali dalam satu musim tanam. Menurut doktor alumnus University of Queensland, Australia, itu pemupukan dengan dosis yang tepat, seimbang, dan tidak terlambat adalah kunci mendapatkan hasil yang optimal.

Pemberian pupuk pertama kali itu harus tepat waktu. “Bibit yang diambil dari pembibitan kemudian dipindahkan ke lahan sebenarnya stres. Butuh waktu 7—10 hari untuk adaptasi,” kata Zuziana. Oleh karena itu, pemberian Urea menunjang pertumbuhannya. Peneliti kelahiran 9 Maret 1975 itu menuturkan, dosis juga harus pas. Menurut Zuziana dosis Urea berlebih menyebabkan tanaman rapuh. Dampak selanjutnya, tanaman mudah terserang hama dan penyakit.

Banyak pilihan

Menurut anggota staf promosi PT Pupuk Kalimantan Timur, Ajang Christianto, terdapat 3 jenis pupuk yang dapat diaplikasikan pada pertanaman padi, yakni seed treatment atau perlakuan benih, pembenah tanah, dan pupuk penambah unsur hara. Pupuk penambah unsur hara yakni Urea daun buah dan NPK pelangi seperti yang digunakan oleh Sucipto. Keduanya berbentuk granular atau butiran.

Anggota staf promosi PT Pupuk Kalimantan Timur, Ajang Christianto, S.P.

“NPK Pelangi adalah produk spesial, karena proses pencampuran bahan baku dilakukan secara mekanis, tanpa proses kimia,” kata pria kelahiran 21 Desember 1988 itu. Ajang mengatakan, ketika aplikasi Urea dan NPK secara bersamaan boleh dicampurkan dahulu untuk memudahkan aplikasi. Alumnus Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor itu mengatakan, pencampuran pupuk sebaiknya sebelum pemupukan. Penyimpanan pupuk dalam keadaan tercampur mengganggu kualitas.

Vice president Promosi dan Perencanaan Pemasaran PT Petrokimia Gresik, Andri Puji Handoyono, S.P., mengatakan, pemberian pupuk merupakan langkah menyediakan nutrisi bagi tanaman. Tujuannya agar tanaman dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Andri menganjurkan beberapa tahapan aplikasi pupuk untuk mendapatkan hasil optimal.
Pemupukan awal setelah pengolahan tanah kedua berupa pemberian Petroganik berdosis 500 kg per hektare. Selanjutnya pemupukan pada pertanaman pertama atau 14—21 hari setelah tanam (hst) berikan 150 kg per hektare NPK Phonska Plus dan 150kg Urea per hektare. Pupuk susulan kedua yakni saat tanaman berumur 35 hst berupa kombinasi dengan dosis yang serupa di pemupukan pertama.

Sucipto berharap para petani khususnya di Kelompok Tani Makmur terus belajar dan mendapatkan pendampingan selama penanaman padi. Pengamatan faktor eksternal seperti iklim dan pH tanah terasa sulit dilakukan oleh petani sendiri. “Petani mendapatkan hasil panen yang optimal harus makin sadar tidak hanya terkait varietas dan pupuk, tetapi juga lingkungan seperti pH tanah,” kata Sucipto. (Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol)

Tags: , , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software