Temumangga Sirnakan Mioma

Filed in Obat tradisional by on 01/03/2010 0 Comments

Mioma terdeteksi ketika haid Swastika Risa tak teratur selama 6 bulan. Puncaknya ketika pulang kerja, ia mengeluarkan segumpal darah kental kehitaman. Usai membersihkan diri, ia bergegas ke rumahsakit. Hasil pemindaian dengan ultrasonografi menunjukkan, terdapat mioma submukosal sebesar telur itik di dinding rahim.

Karena tumbuh di bawah dinding bagian dalam rahim, mioma submukosal menyebabkan gangguan menstruasi dan pendarahan. Darah haid dari kantong ovarium terhambat oleh tonjolan mioma sehingga tidak bisa keluar melalui mulut vagina. Darah haid terkumpul dalam rahim. Darah haid yang berbulan-bulan tidak keluar itu lama-kelamaan tak tertampung dalam rahim. Akibatnya memaksa keluar lewat mulut vagina sehingga terjadi pendarahan.

Berubah kanker

Mioma alias mioma uterus adalah tumor yang muncul dari jaringan penghubung atau otot halus rahim yang menebal. Pemicunya beragam: ketidakseimbangan hormon, stres, konsumsi obat kontrasepsi, dan faktor keturunan. Gejala tergantung ukuran dan posisi mioma dalam rahim. Menurut dr Taufik Jamaan, ginekolog di Rumah Sakit Bunda, Jakarta Pusat, ada 3 posisi mioma: subserosal, inframural, dan submukosal.

Dua jenis yang disebut pertama membuat penderita merasa rahim membesar, sedangkan yang terakhir bisa menyebabkan gangguan siklus haid, pendarahan, dan keguguran. Meski semula jinak, mioma dapat berubah menjadi kanker ganas. Oleh karena itu dokter menyarankan operasi pengangkatan rahim. Ibundanya menolak keras saran dokter. Risa berharap hamil dan mempunyai anak lagi sehingga ia mencari opini sekunder.

Dokter ahli kandungan dan kebidanan yang ia temui menganjurkan terapi hormonal. Dokter menyuntikkan GRnH yang bersifat antiestrogen di tulang belakang. Mioma terjadi antara lain lantaran kelebihan estrogen. Menurut H Taufik Jamaan idealnya terapi hormonal dengan 3—4 kali penyuntikan. Kalau ukuran mioma mengecil, terapi bisa diteruskan. Sebaliknya kalau tetap, harus diangkat dengan operasi.

Sebab, “Berbahaya kalau mioma menjadi kanker,” kata Taufik. Mioma yang menempel di dinding rahim berpotensi muncul kembali jika rahim tidak diangkat. Reseptor estrogen di rahim memicu munculnya tumor. Beberapa hari menjelang terapi, Risa datang ke arisan sebuah organisasi perempuan di kantornya. Ketika itulah rekannya menganjurkan Risa mengkonsumsi temumangga.

“Saya tertarik mencoba karena penasaran,” kata Risa. Kepala Biro Kerjasama Hukum dan Humas Badan Tenaga Nuklir Nasional itu mengkonsumsi 10 gram ekstrak temumangga 2 kali sehari. Ia menyeduh 1 sendok ekstrak temumangga dengan segelas air panas. Setelah mengaduk, ia menyeruput minuman herbal itu tanpa gula. Pada hari sama ia diberi suntikan hormon. Interval penyuntikan berikutnya sebulan. Selama sebulan itu Risa terus mengkonsumsi rimpang Curcuma mangga.

Terkuat

Saat terapi kedua—persis sebulan pascapenyuntikan pertama—ukuran mioma mengecil. Itu yang membuat dokter terkejut. Lazimnya penyusutan ukuran mioma baru tercapai setelah 3—4 kali penyuntikan hormon. Pada bulan ketiga, mioma kian mengecil—kurang dari seperlima ukuran semula. Dokter hanya membersihkan sisa mioma, tanpa operasi pengangkatan rahim.

Usai operasi itu, siklus haid alumnus Jurusan Fisika Universitas Indonesia itu kembali normal. Perempuan yang kini berusia 53 tahun itu hanya 2 kali menjalani penyuntikan hormon dari 4 kali yang direncanakan. Kesembuhan Risa diperkuat riset Prof Dr Nurfina Aznam Apt SU, peneliti di Universitas Negeri Yogyakarta. Nurfina mengatakan zat kurkumin dalam temumangga ampuh menghambat pertumbuhan sel tumor dan kanker.

“Semua anggota genus mengandung kurkumin, tapi aktivitas antikanker kurkumin dari temumangga paling kuat,” kata dokter Farmakologi alumnus Universitas Gadjah Mada itu. Menurut Prof Dr Retno Sunarminingsih, peneliti kimia farmasi dan teknologi fermentasi Gadjah Mada, temumangga mengandung zat yang bersifat sitotoksin dan apoptosis terhadap sel tumor dan kanker. Zat itu menghentikan aktivitas ribosom—zat yang terdapat dalam inti sel—sehingga aktivitas sel kanker terhambat.

Sel kanker yang terhambat itu menjadi mati kutu, gagal berkembangbiak, menyerap nutrisi, atau berpindah ke jaringan lain dalam tubuh. Sel kanker itu akhirnya mati kelaparan. Mekanisme itulah yang terjadi pada mioma di rahim Risa. Dalam buku Tumbuhan Berguna Indonesia, K Heyne menyebutkan temumangga obat sakit perut. Kebiasaan mengunyah rimpang mentah temumangga mengerutkan rahim pascamelahirkan. Dari semua anggota genus Curcuma hanya temumangga yang dimakan mentah.

Menurut Wahyu Suprapto, herbalis di Batu, Jawa Timur, masyarakat acap salah kaprah menyebut temumangga sebagai temuputih. Mungkin karena warna daging rimpang temumangga berwarna putih kekuningan. Padahal, warna daging rimpang temuputih Curcuma zedoaria jauh lebih putih. Rimpang temumangga sangat khas karena beraroma seperti mangga muda yang segar. Itulah sebabnya masyarakat Jawa memanfaatkannya sebagai campuran lalap. (Argohartono Arie Raharjo)

Temumangga

Dr dr H Taufik Jamaan SpOG, mioma berpotensi muncul kembali

Fotomikroskopis temumangga dengan pembesaran 110 kali dan rimpang (inset)

 

Powered by WishList Member - Membership Software