Teknik Baru Tanam Momotaro

Filed in Topik by on 01/02/2013 0 Comments
Di pasar modern tomat momotaro bersanding dengantomat eksklusif lain

Di pasar modern tomat momotaro bersanding dengan tomat eksklusif lain

Bobon Turbansyah menghemat biaya produksi hingga Rp40-juta dengan memodifikasi media tanam dan teknik budidaya. Produksi tomat momotaro tetap tinggi.

Baru saja memasuki tahun ke-3, Bobon Turbansyah mulai mengalami berbagai kendala dalam memproduksi tomat momotaro. Momotaro tomat eksklusif asal Jepang dengan sosok menarik berwarna jingga kemerahan dan bertekstur renyah. Kendala pertama, harga media tanam yang mahal. Pekebun momotaro sejak 1995 itu menggunakan media tanam hydroball. Media tanam itu berupa butiran seukuran kelereng terbuat dari tanah liat yang dibakar.

Dengan modifikasi media tanam dan cara budidaya produktivitas tomat momotaro tetaptinggi 4 kg per tanaman

Dengan modifikasi media tanam dan cara budidaya produktivitas tomat momotaro tetap
tinggi 4 kg per tanaman

Hydroball berfungsi menopang pertumbuhan tanaman. Bobon membudidayakan momotaro dengan teknik hidroponik nutrient film technique (NFT). Ia menempatkan hydroball dalam pot berdiameter 10 cm. Pekebun sayuran jepang di Kampung Cibeunying, Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat, itu lalu menempatkan pot pada lubang berdiameter 9 cm pada kotak stirofoam. Jadi, pot yang menyembul di permukaan stirofoam hanya 1/3 dari tinggi pot.

Bobon meletakkan stirofoam di permukaan bak yang ditutup plastik polietilen 0,02 mm dengan kedalaman 15 cm, panjang 24 m, dan lebar 70 cm. Posisi pot seperti menggantung supaya ada ruang bagi pertumbuhan akar. Akar tomat yang keluar dari lubang-lubang di dasar pot itu terendam larutan nutrisi yang dialirkan dalam bak.

Mahal

Harga hydroball ketika itu tergolong mahal, yakni Rp10.000 per kg. Sekilo hydroball cukup untuk      10 pot atau biayanya Rp1.000 per tanaman. Media tanam itu hanya untuk pemakaian 2 kali musim tanam. “Setelah 2 kali tanam, biasanya media hancur,” ujar pria 59 tahun itu. Bobon mengebunkan sekitar 20.000 tanaman tomat momotaro. Artinya, biaya media tanam untuk 2 kali musim tanam mencapai Rp20-juta.

Kendala kedua, ketersediaan listrik. Maklum, untuk mengalirkan nutrisi, perlu pompa yang beroperasi terus-menerus. Pada saat akar belum terlalu panjang, yakni 10 cm, pompa mengalirkan nutrisi dengan debit 10 liter per menit. Begitu tanaman berumur 60 hari, debit aliran nutrisi meningkat menjadi 15 liter per menit karena aliran nutrisi terhalang akar yang mulai rimbun. Pompa hanya berhenti beroperasi ketika usai panen pada umur 3 bulan. Total jenderal, biaya produksi per tanaman ketika itu mencapai Rp12.000 per tanaman.

Dengan jumlah biaya itu, Bobon memang masih meraup untung meski harga jual tomat momotaro ketika itu hanya Rp9.000 per kg. Setiap tanaman mampu menghasilkan 5 kg tomat. Dengan harga jual Rp9.000 per kg, Bobon meraup omzet Rp45.000 per tanaman. Artinya, pria bertubuh mungil itu masih meraup keuntungan Rp33.000 per tanaman.

Namun, kontinuitas ketersediaan media tanam dan energi listrik menjadi kendala. “Jika persediaan media tanam habis, harus menunggu barang impor dari Jerman,” keluh Bobon. Ia menggunakan media tanam hydroball atas petunjuk konsultan asal Jepang yang menjadi konsultan budidaya momotaro. “Para pekebun di Jepang memang lazim menggunakan media tanam itu untuk budidaya hidroponik,” ujarnya.

Lokasi kebun di pedesaan membuat kawasan itu kerap menjadi “korban” pemadaman listrik saat kondisi cuaca buruk seperti saat musim hujan. “Saat musim hujan sering terjadi listrik padam akibat hubungan pendek arus listrik dan perlu perbaikan berhari-hari. Jika tidak segera diperbaiki bisa berdampak fatal bagi pertumbuhan tanaman karena pasokan nutrisi menjadi terhenti,” ujarnya.

Arang sekam

Untuk mengatasi berbagai kendala itu, Bobon mengganti teknik budidaya dari hidroponik NFT menjadi substrat. Ia mengganti media tanam hydroball dengan arang sekam. Ide Bobon itu sempat ditentang konsultan asal Jepang. Maklum, pemanfaatan media arang sekam dalam hidroponik substrat tergolong asing di negeri Sakura. “Mereka khawatir produktivitas tanaman menurun,” ujar Bobon. Untuk membuktikannya, Bobon melakukan ujicoba di satu rumah tanam berukuran 7 m x 30 m dengan populasi 400 tanaman.

Harga arang sekam hanya Rp5.000 per karung berisi 20 kg. Satu karung arang sekam cukup untuk 10 polibag atau biaya media tanam menjadi Rp500 per polibag. Jadi, Bobon mampu memangkas biaya media tanam hingga separuh. Bobon lalu menanam bibit umur 25 hari setelah semai.

Bobon juga mengganti teknik pemberian nutrisi. Bila sebelumnya nutrisi dialirkan ke dalam bak menggunakan pompa, kali ini Bobon memberikan nutrisi dengan cara penyiraman langsung ke media tanam atau fertigasi pada setiap pagi. “Sebelumnya pernah mencoba memberikan nutrisi dengan irigasi tetes, tapi sering mengalami kendala karena ujung nozel tersumbat,” kata Bobon. Sebagai sumber nutrisi Bobon menggunakan ramuan pupuk AB mix.

Untuk populasi 20.000 tanaman, Bobon menghabiskan 75 kg pupuk A dan 75 kg pupuk B per musim tanam. Sebelum digunakan, masing-masing pupuk dilarutkan dalam air dengan konsentrasi 25 kg pupuk per 100 liter air. “Itu menjadi larutan biang,” katanya. Saat hendak digunakan, Bobon kembali mengencerkan 2,5 liter larutan pupuk biang dalam 200 liter air, lalu siramkan ke media tanam. Setiap tanaman memperoleh maksimal 2,5 liter larutan pupuk.

Seleksi

Sementara perawatan lain sama dengan teknik budidaya yang diterapkan sebelumnya. Pada umur 2 pekan setelah penanaman dalam polibag, muncul tandan bunga pertama pada ruas daun ketujuh. Tandan bunga biasanya muncul pada setiap 2 ruas daun. Tandan kedua muncul pada ruas daun ke-9, ketiga pada ruas daun ke-11, dan seterusnya. Bobon mulai memangkas daun di bawah tandan buah begitu muncul tandan buah ketiga. Pada saat itu buah di tandan kedua sudah sebesar kelereng.

Pemangkasan daun di bawah tandan buah untuk mencegah iklim mikro di sekitar tanaman terlalu lembap. Kondisi lembap dapat mengundang kehadiran bakteri Phytophthora infestans. “Dengan pemangkasan sirkulasi udara di bagian bawah tanaman menjadi lancar sehingga mencegah kehadiran serangan penyakit,” ujar pria yang pernah mengenyam pendidikan pertanian di Jepang pada 1995 itu.

Saat buah seukuran kelerang Bobon mulai melakukan seleksi. “Kalau terlalu banyak buah, ukurannya menjadi kecil dan bentuk buah tidak sempurna akibat terimpit buah lain,” ujar Bobon. Saat muncul tandan buah ketujuh, Bobon memangkas titik tumbuh di ujung cabang agar tanaman tidak terus meninggi. Maklum, jika dibiarkan tomat momotaro bisa tumbuh hingga 17 m. “Tinggi tanaman maksimal 3 m,” kata alumnus Universitas Khatolik Parahyangan itu. Ia juga memangkas setiap tunas dan cabang baru yang muncul di ketiak daun akibat pemangkasan titik tumbuh. Dengan begitu nutrisi terkonsentrasi untuk memacu pertumbuhan buah, bukan cabang baru.

Hemat biaya

Dengan perubahan teknik budidaya itu, Bobon mampu menekan biaya produksi dari semula Rp12.000 per tanaman menjadi Rp10.000. Artinya, untuk populasi 20.000 tanaman, Bobon sukses memangkas biaya produksi hingga Rp40-juta per musim tanam. Hasil ujicoba itu ternyata tak mengecewakan. Pada umur 7-8 minggu buah siap panen. Cirinya warna buah mulai berwarna merah muda. “Kalau dulu biasanya dibiarkan sampai merah menyala. Dua tahun belakangan pasar swalayan lebih suka buah yang merah muda agar lebih tahan simpan saat dijual di gerai toko,” ujar Bobon.

Bobon memproduksi rata-rata 4 kg momotaro per tanaman. Hasil panen memang lebih rendah, tapi Bobon masih mampu meraup untung besar. Dengan harga jual Rp9.000 per kg saja, Bobon meraup laba Rp26.000 per tanaman. “Keuntungan memang berkurang, tapi biaya produksi lebih rendah dan kendala akibat tidak tersedianya media tanam hydroball dan listrik yang kontinu teratasi,” katanya. Padahal dua tahun terakhir harga jual momotaro melonjak tajam menjadi Rp25.000 per kg. Pasarnya gerai-gerai toko sayuran dan buah modern. Itulah sebabnya hingga kini Bobon menerapkan teknik budidaya hidroponik substrat untuk seluruh tanaman.

Menurut ahli hidroponik di Jakarta, Yos Sutiyoso, pada teknik penanaman dengan media arang sekam produksi menurun karena pori-pori arang sekam mampu menjerap molekul nutrisi sehingga tidak terserap tanaman. “Akibatnya terjadi akumulasi nutrisi. Semakin lama angka EC (electrolit conductivity, red) di media semakin tinggi. Angka EC terlalu tinggi dapat menyebabkan tanaman rusak,” kata Yos. Oleh karena itu Yos menyarankan angka EC tidak boleh lebih dari 1,5.

Yos menuturkan, arang sekam mudah hancur sehingga media menjadi padat. Pada kondisi itu  sirkulasi udara dalam media kurang baik sehingga pertumbuhan tanaman menjadi tidak optimal. “Oleh karena itu pemakaian arang sekam hanya sekali dan tidak boleh terlalu lama. Cocoknya untuk budidaya tanaman berumur pendek seperti sayuran daun,” ujar Yos.

Masalah media dan listrik teratasi, kini datang kendala ketersediaan benih. Sejak setahun terakhir ketersediaan benih impor benih sulit dan harganya mahal. Harga benih saat ini mencapai Rp2.000 per biji. Volume sekali pembelian minimal 10.000 biij. Artinya, untuk populasi 20.000 tanaman perlu bibit minimal 23.000 biji atau senilai Rp46-juta jika tingkat kematian benih 15%.

Untuk mengatasi kendala itu, Bobon mencoba menanam benih keturunan pertama dari benih asal Jepang. Ternyata karakter buah menurun drastis: buah mengecil, maksimal 300 g per buah. “Biasanya ukuran buah bisa mencapai 450-550 g per buah,” ujarnya. Menurut dosen jurusan Pemuliaan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Nono Carsono SP MSc PhD, pada keturunan tanaman hibrida memang rentan terjadi perubahan genetik bila menanam bibit dari hasil perbanyakan generatif. Perubahan itu biasanya mengikuti karakter salah satu induk. “Jika karakter salah satu induk berbuah kecil, maka pada keturunannya karakter itu mungkin akan kembali muncul dan dominan,” katanya. Itulah sebabnya pada masa mendatang Bobon berencana melakukan perbanyakan secara vegetatif melalui sambung pucuk. Dengan begitu ia berharapkan ketergantungan kepada benih impor dapat ditekan. (Imam Wiguna)

[box type=”shadow”] Sensasi menikmati beragam tomat tak biasa masih membekas di lidah wartawan Trubus, Rosy Nur Apriyanti. Betapa tidak, menikmati tomat di Tomato World, Belanda, sungguh memanjakan dua indra. Tak hanya sosok buah menarik, cita rasa pun tak biasa. Sebut saja zebrina. Tomat bertentuk seperti bola pingpong itu berwarna unik belang merah tua dengan garis hijau tua. Daging buah tebal dan renyah, tapi rasa agak masam.
Sensasi lain terasa waktu menikmati tomberrry: tomat berukuran mungil layaknya anggur. Cita rasa tomat mungil itu lebih manis dengan sedikit sensasi menyegarkan. Penduduk di Eropa biasa mengolah tomat-tomat itu menjadi salad. Di tanahair kini tomat dengan rupa dan rasa nano-nano itu dapat dijumpai di pasar-pasar sayuran dan buah modern. Pasokannya dari mancanegara, antara lain Australia. ***[/box]

Hemat Biaya, Tanpa  Pompa

Hemat Biaya, Tanpa Pompa

Keterangan Foto :

  1. Di pasar modern tomat momotaro bersanding dengan tomat eksklusif lain
  2. Seleksi buah supaya bentuk momotaro sempurna, berukuran besar, bobot 450-550 gram per buah
  3. Dengan modifikasi media tanam dan cara budidaya produktivitas tomat momotaro tetap tinggi 4 kg per tanaman
  4. Penanaman kini secara substrat dengan media arang sekam
  5. Hydroball hanya bisa untuk 2 kali masa tanam

 

 

Powered by WishList Member - Membership Software