Teh Unggul dari Gambung

Filed in Majalah, Perkebunan by on 16/08/2020

Teh di Indonesia dominan varian asamika.

Pohon teh unggul dengan produksi lebih dari lima ton per hektare per tahun.

Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) Kementerian Pertanian di Gambung, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, mengembangkan klon teh unggul produktif dengan potensi produksi 5,8 ton daun teh per hektare per tahun. Angka itu mengungguli klon-klon sebelumnya yang produksi daunnya 3.527—4.021 kg per ha per tahun. Apalagi dibandingkan dengan pohon teh asal biji, produktivitasnya kurang dari 2 ton per ha per tahun.

Daun GMB 7, asamika unggulan dari PPTK Gambung.

Ada dua unggulan, yaitu GMB 7 dan GMB 11. Hasil pengujian menunjukkan produktivitas optimal tercapai mulai umur tanaman tiga tahun. Periset PPTK, Heri Syahrian, M.P. (38) menyatakan, uji penanaman dilakukan di tiga lokasi, yaitu kebun Pasirsarongge, Gambung, dan Cinchona. Produksi daun GMB 7 tahun ketiga di ketiga kebun tersebut berturut-turut 5.768, 5.391, dan 4.841 kg. Sementara itu produksi GMB 11 berturut-turut 5.495, 5.032, dan 4.757 kg daun.

Produktivitas tinggi

Kode GMB menunjukkan klon tersebut adalah teh varietas asamika (Camellia sinensis var. assamica). Direktur PPTK, Dr. Dadan Rohdiana, S.T., M.P. menyatakan, sebagian besar teh yang ditanam di Indonesia berjenis asamika. Berasal dari India, rendemen petik asamika lebih tinggi ketimbang teh sinensis yang lebih dulu ditanam di Indonesia.

Sebanyak 99% teh di Indonesia berjenis asamika. Klon sinensis C.s. var. sinensis asal Tiongkok lebih dulu berkembang lantaran dibawa migran dari sana. Menurut periset di Universitas Gadjah Mada, Aryo Wijayanto, lantaran ditanam lebih duluan ketimbang asamika, sinensis sering disebut teh jawa. Perkebunan besar menyukai asamika lantaran produksinya lebih tinggi. Daun lebih besar dan berbobot sehingga rendemen pengeringan pun lebih tinggi.

Periset bidang pemuliaan tanaman PPTK, Heri Syahrian.

Menurut Heri klon GMB adalah generasi kedua lantaran berasal dari persilangan berbagai klon generasi pertama seperti Cin 143, GP 3, Mal 2, atau PS 324. Pascapemangkasan, pertumbuhan tunas GMB 7 juga cepat sehingga interval panen lebih singkat. PT Pagilaran di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, menanam GMB 7. Menurut Aryo Wijayanto dan rekan dari Fakultas Pertanian UGM—berafiliasi dengan Pagilaran—bobot segar pucuk GMB 7 total 102,1 gram segar setara 23,4 g kering per m2 per petik.

Berdasarkan hasil itu, potensi GMB 7 di kebun PT Pagilaran Kabupaten Batang 7,11 ton per ha per tahun. Aryo dan tim menyimpulkan GMB 7 adalah klon paling produkti menghasilkan pucuk. Soal katekin, Gambung menyodorkan klon tinggi kadar katekin yaitu GMB 9 dan GMB 4. Kadar katekin keduanya berturut-turut 17% dan 17,1%.

Sinensis

PPTK Gambung juga menggarap varian teh sinensis yang kian banyak digandrungi sebagai bahan baku teh hijau. Pada dekade 1990, banyak pekebun teh mendatangkan klon sinensis yabukita asal Jepang. Namun, penanaman klon tunggal dalam luasan memicu kerentanan terhadap ledakan penyakit atau serangan hama.

PPTK menjawab tantangan itu dengan melepas 5 klon unggul teh sinensis yaitu GMBS 1 sampai GMBS 5. Jagoan di antara kelima klon itu adalah GMBS 5 yang potensi hasilnya 2.165 kg daun per ha per tahun. Cita rasa GMBS 5 superior hanya rasa pahitnya agak lebih kuat sementara aromanya tidak sekuat yabukita. Namun, kadar polifenol yang mencapai 7,1% membuat GMBS 5 lebih cocok sebagai campuran untuk meningkatkan mutu teh hitam.

“Makin rendah polifenol makin baik teh hijaunya,” kata Heri. Oleh karena itu, GMBS 1 dengan 3,2% polifenol jelas unggul walau potensi produksinya hanya 1.939 kg daun teh per ha per tahun. Klon-klon unggul GMB dan GMBS menjadi solusi meningkatkan produktivitas dan kualitas teh Indonesia. (Argohartono Arie Raharjo)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software