Teguh di Bisnis Bibit Bermutu

Filed in Info Khusus, Majalah by on 13/11/2019

Eddy Soesanto 15 tahun berbisnis bibit tanaman buah.

 

Strategi untuk melanggengkan bisnis bibit buah: pilih jenis berbeda dan unggul.

Para pehobi dan pekebun memburu lengkeng pingpong pada 2004. Musababnya, lengkeng pingpong mampu berbuah di dataran rendah. Keunggulan itu membuat geger dunia perbuahan di tanah air. Maklum, ketika itu masyarakat lebih mengenal lengkeng yang hanya berbuah di dataran tinggi. Popularitas lengkeng pingpong di tanah air tak lepas dari kiprah Eddy Soesanto.

Pada 2003 pria kelahiran Jepara, Jawa Tengah, itu menemukan bibit pingpong di Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Ketika itu di ujung pucuk bibit setinggi 50 cm muncul 3 buah seukuran bola pingpong berwarna cokelat kemerahan. Menurut ahli desain interior itu lengkeng itu istimewa. Alasannya Dimocarpus longan itu berbuah di Karawang yang merupakan dataran rendah dan bersuhu panas.

Laris manis

Tanaman anggota famili Sapindaceae itu juga genjah. Pingpong mulai belajar berbuah pada umur 3 tahun bila bibit asal sambung pucuk. Keunggulan lain buah berukuran jumbo, yakni seukuran bola pingpong sehingga nama itu menjadi nama varietas. Warna kulit buah juga atraktif, yakni berwarna cokelat kemerahan, lazimnya hanya berwarna cokelat. Sejak itu setiap pekan—sembari mengurus proyek taman—Eddy membawa bibit ke Jakarta.

Beragam bibit tanaman buah hasil perbanyakan Eddy Soesanto.

Ia memperbanyak bibit pingpong di nurseri Arumdalu—kebun penangkaran buah kongsiannya dengan seorang teman. Alumnus Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, itu yakin suatu saat lengkeng pingpong bakal populer. Prediksi Eddy tepat. Lengkeng dengan ciri khas berdaun melengkung itu laris manis. Pamor pingpong makin menanjak saat Trubus mengulas keunggulan lengkeng asal Vietnam itu.

Seluruh stok di kebun Arumdalu pun ludes dibeli konsumen. Padahal, ia menjual bibit lengkeng itu dengan harga relatif mahal, yaitu Rp100.000—Rp125.000 per bibit. Dalam dua tahun ia mampu menjual hingga 4.000 bibit atau omzet Rp400 juta. Sayangnya, pria 54 tahun itu mesti mengakhiri kerja sama dengan Arumdalu.

Beruntung ketika itu seorang teman meminjamkan lahan 2.000 m² di Cijantung, Jakarta Timur. Sampai akhirnya ia mengenal buah tin Ficus carica dari seorang kawan. Ternyata kisah tentang buah tin tercatat dalam dua kitab suci, yaitu Alquran dan Injil. Sejak itulah naluri bisnis Eddy bangkit.

Dalam perhitungannya, jika buah tin dikemas sebagai buah religi, bakal menjadi buruan kolektor. Sayangnya bibit yang ditunjukkan sang kawan tidak dijual. Ia lalu berburu ke kebun-kebun pembibitan di berbagai daerah. Kebun raya, wihara, dan pesantren pun tak luput menjadi tempat pencarian. Sampai akhirnya ia memperoleh 6 jenis ara—sebutan lain buah tin dalam kitab suci—hibrida, yaitu negrone, black ishia, conadria, flanders, long yellow, dan panachea tiger.

<script async src=”https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js”></script>
<ins class=”adsbygoogle”
style=”display:block; text-align:center;”
data-ad-layout=”in-article”
data-ad-format=”fluid”
data-ad-client=”ca-pub-4696513935049319″
data-ad-slot=”8129520315″></ins>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script>

Bangkit

Eddy memperoleh beragam tin dari Puncak, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Sekali lagi perhitungannya tepat. Dari ara Eddy mendapat untung berlipat. Dari penjualan 100 bibit negrone saja ia mendulang omzet Rp35 juta selama 3 tahun. Berkat tin, Eddy pun kembali bangkit. Kali ini ia menemukan strategi untuk melanggengkan bisnis bibit buah: pilih jenis berbeda dan unggul.

Eddy Soesanto salah satu yang mempelopori penyebaran lengkeng pingpong yang adaptif di dataran rendah.

Sumbernya bisa dari lokal, bahkan mancanegara. Resep itu ternyata manjur. Ia lalu mengembangkan lengkeng jenis lain yang lebih anyar, seperti diamond river dan itoh—keduanya asal Thailand. Ia juga memproduksi bibit buah-buah eksotis, seperti miracle fruit dan srikaya new varietas—dari Australia, serta aneka jenis ara terbaru. Nama Eddy Soesanto pun makin sohor di jagat pembibitan tanaman buah.

Eddy juga kerap muncul sebagai narasumber di dalam artikel Trubus. Ia sering menjadi rujukan bila ada informasi tentang jenis atau varietas baru, teknik perbanyakan, dan teknik membuahkan tanaman buah. Eddy juga beberapa kali menjadi narasumber pelatihan yang diselenggarakan majalah yang kini merayakan ulang tahun ke-50 itu. Menurut Eddy peran media sangat membantu bagi pehobi atau calon pekebun dalam menentukan pilihan jenis tanaman buah yang akan dibudidayakan.

Dari rupiah asal perniagaan bibit buah itu Eddy yang melanggani Majalah Trubus membeli lahan seluas 3.000 m² di Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Lahan itu menjadi kebun produksi. Di sana ratusan bibit terhampar dan siap dikirim ke para pelanggan dari berbagai daerah di Pulau Sumatera hingga Papua. Dalam sebulan ia mampu menjual rata-rata 750 bibit aneka jenis buah.

Bila ada jenis atau varietas tanaman buah baru, ia mesti bersabar menunggu hingga bertahun-tahun sampai tanaman buah itu terbukti berbuah di kebunnya. Kualitas buah yang dihasilkan juga harus sesuai dengan deskripsi karakter jenis atau varietas. Eddy rela menjalani itu semua demi menjaga mutu di tengah persaingan bisnis bibit yang makin sengit. Selama hampir dua windu Eddy pun mampu bertahan di bisnis bibit buah. (Imam Wiguna)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software