Tanpa Kasih Ibu

Filed in Tak Berkategori by on 01/06/2012 0 Comments

Begitu lahir, anak momoa berjuang sendiri dari bawah pasir, mencari pakan, dan mempertahankan diri dari serangan predator. Ia tidak merasakan kasih sayang sang induk.

Sembilan telur di stan Provinsi Maluku pada Pekan Nasional (Penas) Kontak Tani dan Nelayan Andalan  XIII 2011 menyedot perhatian pengunjung. Harap mafhum, ukuran telur-telur itu amat besar, 2 kali lebih besar ketimbang telur ayam. Uniknya, sebuah telur matang yang terbelah, hampir seluruhnya terdiri atas kuning telur. Porsi putih telur hanya beberapa milimeter dari cangkang.

Telur jumbo itu adalah telur burung momoa Eulipoa wallacei. Lokasi peneluran burung itu di Provinsi Maluku terdapat di Pulau Haruku. Warga di sana memanfaatkan telur momoa sebagai sumber protein sehari-hari layaknya telur ayam. Harga sebutir telur momoa Rp1.500. Menurut ahli burung dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Ir Dewi Malia Prawiradilaga MSc PhD, telur momoa berukuran jumbo dan dominan kuning telur, berkaitan dengan perilaku berkembang biak hewan itu.

Burung angggota famili Megapodiidae itu membiarkan anaknya hidup “mandiri”. Artinya, ketika menetas, sang anak mesti berjuang sendiri mencari pakan dan bertahan hidup dari serangan predator. Sementara sang induk usai bertelur langsung pergi dan tak pernah kembali. Induk burung jenis lain pada umumnya meloloh piyik karena saat menetas kondisi tubuh masih lemah. Oleh karena itu induk meloloh sang anak dengan pakan hingga piyik benar-benar siap bertahan hidup.

Burung pipit menyapih anaknya bila bulu-bulu sayap tumbuh sempurna dan mampu terbang. Itu artinya si anak siap bertahan hidup dan mencari pakan sendiri dengan kemampuan terbangnya. Agar anak momoa dapat bertahan hidup usai menetas, maka struktur tubuh mesti benar-benar siap sebelum telur menetas. Begitu menetas kedua kaki sudah benar-benar kuat agar ia mampu berlari kencang untuk menyelamatkan diri dari predator atau mencari pakan.

Itulah sebabnya telur momoa baru menetas setelah 98 hari “pengeraman” di bawah pasir. Itu 4 kali lebih lama daripada waktu menetas telur ayam. Untuk menopang pertumbuhan selama itu, mudigah atau embrio perlu pasokan pakan lebih banyak. “Karena itu ukuran kuning telur yang merupakan sumber makanan porsinya jauh lebih besar ketimbang putih telur. Ukuran telurnya pun lebih besar daripada telur ayam,” ujar doktor Ekologi Burung alumnus Australia National University itu.

Agar regenerasi berlanjut, induk momoa juga berupaya agar telur-telur yang ia hasilkan benar-benar aman dari para pemangsa. Oleh sebab itu, induk burung gosong maluku bertelur di dalam lubang hingga berkedalaman 1 m, lalu menguburnya. Ia juga membuat sarang-sarang palsu untuk mengecoh pemangsa telur. Ia hanya membuat lubang, tapi tidak meletakkan telur.

Momoa memilih tempat bertelur di hamparan pasir pantai. Pasir lebih porous sehingga tekanan terhadap telur tidak terlalu besar. Dengan begitu telur tidak akan pecah mesti terkubur hingga kedalaman 1 m. Pasir juga lebih porous sehingga aerasi lebih baik. Ketika menetas, anakan pun dapat bertahan hidup saat berusaha keluar dari lubang karena tersedia oksigen. Selain itu ada juga induk yang meletakkan telur di tumpukan serasah di hutan.

Menurut dosen Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura, Ir A A Tuhumury MS, kedalaman lubang tergantung suhu dan kelembapan di dalam lubang. Jika naluri sang induk merasa suhu dan kelembapan dalam lubang sesuai dengan suhu yang dibutuhkan untuk menetas, barulah ia bertelur. Telur momoa mampu menetas pada suhu 32-38,5oC. Perbedaan suhu hanya mempengaruhi masa tetas. Pada suhu 38oC, telur menetas setelah 30 hari, suhu 34oC, 98 hari.

Namun, pada suhu tinggi jumlah telur yang menetas lebih sedikit. “Suhu optimal agar telur burung momoa menetas adalah 340C,” ujar Tuhumury. Sementara kelembapan optimal di dalam sarang rata-rata 58-69%. Kelembapan mencegah risiko dehidrasi. Namun, kelembapan berlebihan justru mengurangi difusi oksigen, menurunkan suhu, dan menghambat perkembangan mudigah. Untuk menghindari kelembapan terlalu tinggi, nan lato atau momoa biasanya bertelur pada musim kemarau di pantai.

Momoa lebih suka bertelur di pasir pantai karena lebih mudah mencapai suhu ideal untuk menetas. Pasalnya, pasir pantai sebagian besar mengandung pasir kuarsa yang mampu menyerap panas dari terpaan sinar matahari hingga 80%. Menurut Tuhumury kadar kuarsa di pantai Tanjungmaleo mencapai 51,2%. Dewi Malia menuturkan di hutan induk momoa mencari area bertelur dekat sumber panas bumi untuk mencapai suhu ideal penetasan. Sang induk menempuh upaya itu demi regenerasi. Sebab, ia pergi meninggalkan sang anak hidup mandiri. (Imam Wiguna)

Dominasi Kuning


Keterangan Foto :

  1. Telur momoa didominasi kuning telur sebagai sumber energi untuk embrio
  2. Momoa yang baru menetas memiliki struktur tulang yang kuat dan bulu lengkap
  3. Pasir pantai lebih disukai untuk bertelur karena mudah menyerap panas matahari dan tidak terlalu lembap
 

Powered by WishList Member - Membership Software