Tanaman Hias Versus Kanker

Filed in Tanaman hias by on 03/02/2016
Zamioculcas zamiifolia, tidak terbukti menyebabkan leukemia.

Zamioculcas zamiifolia, tidak terbukti menyebabkan leukemia.

Berita tentang tanaman hias Zamioculcas zamiifolia menyebabkan leukemia tidak terbukti.

Sebulan terakhir redaksi Majalah Trubus menerima banyak pertanyaan terkait informasi yang beredar di dunia maya dan media sosial. Informasi itu beredar melalui tautan-tautan yang cepat menyebar luas di era internet ini. Di dalamnya diceritakan kasus seorang periset yang meninggal karena leukemia. Disebutkan leukemia itu diderita karena yang bersangkutan semasa hidupnya meriset tanaman.

Seperti terlihat dalam foto terkait artikel itu, tanaman itu diidentifikasi sebagai Zamioculcas zamiifolia. Di tanahair dikenal sebagai zamioculcas, ada juga yang menyebutnya dolar amerika. Sosoknya indah dengan perpaduan bentuk batang dan daun yang apik. Dolar amerika tahan panas, walaupun lebih cocok jika tumbuh di tempat ternaungi.

Tanaman kerabat aglaonema itu salah satu tanaman hias yang kerap dipakai memperindah halaman rumah dan teras, terutama ditanam dalam pot. Cocok sebagai tanaman indoor, maupun outdoor. Pantas, informasi tanaman itu menyebabkan kanker darah yang berujung pada kematian cepat menyebar bagaikan virus di masyarakat dan menimbulkan kegelisahan. Malah muncul dorongan untuk memusnahkan tanaman itu sebelum berbunga karena bunganya dapat menyebabkan leukemia.

Nerium oleander, sebagai tanaman hias, tidak untuk konsumsi.

Nerium oleander, sebagai tanaman hias, tidak untuk konsumsi.

Berita palsu
Redaksi Majalah Trubus berupaya untuk mencari kebenaran informasi itu. Hasil penelusuran awal kepada sejumlah narasumber di tanahair, berita itu diduga hoax alias palsu. Diduga viral tentang zamioculcas penyebab kanker berasal dari negeri seberang, Malaysia. USM yang disebut-sebut dalam berita itu sebagai lembaga riset tempat penderita leukemia bertugas yakni Universiti Sains Malaysia. Wartawan Majalah Trubus, Muhammad Fajar Ramadhan, mencoba mengonfirmasi berita itu kepada sejumlah narasumber di Malaysia.

Periset di Malaysian Agricultural Research and Development Institute (MARDI), Suhana Safari Bac MSc, menuturkan berita tentang ZZ-plant—namanya di Malaysia—penyebab kanker memang menjadi viral di Malaysia tahun lalu. “Cerita yang menakutkan hingga bisa membawa kematian cepat saja terluas baik di sini atau Indonesia mungkin,” tutur ahli ekonomi itu. Namun, Suhana juga menyampaikan berita itu sudah dikonfirmasi pihak yang bersangkutan dan ternyata kesahihannya palsu. “Tidak ada bukti yang membuktikan bahwa pokok duit-duit—nama lainnya di Malaysia—menyebabkan kanker,” katanya.

Pihak Universiti Sains Malaysia juga membantah berita itu. Direktur Pusat Media dan Perhubungan Awam Universiti Sains Malaysia, Mohamad bin Abdullah dalam surat elektroniknya kepada Muhammad Fajar Ramadhan menuturkan hingga saat ini pihak universitas tidak pernah menerima permohonan resmi apa pun untuk meneliti hal itu. Yang ada hanyalah berita yang menjadi viral di media sosial. Menurut Mohamad bin Abdullah berdasar pandangan para pakar bidang terkait hingga kini tidak ada bukti yang menunjukkan tumbuhan ZZ menyebabkan kematian. Bahkan pihak universitas meminta penyebar informasi itu menghentikan penyebaran berita itu karena menimbulkan masalah. Penyebar berita diminta untuk membuat aduan resmi disertai bukti.

DieffenbachiaHal sama diungkap periset di Universitas Katsetsart, Thailand, Dr Surawit Wannakrairoj. “Itu tidak benar. Tidak ada laporan klinis yang dibuat di seluruh dunia,” tutur ahli pemuliaan tanaman dan kultur jaringan yang juga ketua Ornamental Plant Variety Developed Club itu. Ahli botani alumnus Birmingham University yang juga pemulia tanaman hias tanahair, Gregori Garnadi Hambali, menyampaikan hal serupa. “Tidak ada bukti yang dapat diterima secara ilmiah bahwa Zamioculcas zamiifolia dapat menyebabkan leukemia,” kata master bidang Biologi itu. Greg sudah berkali-kali menyilangkan tanaman itu.

“Sejauh ini zamioculcas tidak terbukti mengandung racun yang dapat membahayakan manusia yang menanamnya sebagai tanaman hias saja,” lanjut Greg. Apa yang dianggap bukti sejauh ini cuma kaitan-kaitan yang tidak dikaji secara mendalam alias disimpulkan secara terburu-buru. Pemain tanaman hias senior di Taiwan, Jung Sheng Lin, juga belum pernah mendengar kasus masalah kesehatan akibat tanaman zamioculcas.

Manfaat tanaman
Para narasumber menyebut memang sejumlah tanaman memiliki kandungan senyawa yang dapat menyebabkan masalah kesehatan. “Dieffenbachia misalnya, getahnya dapat menyebabkan iritasi di kulit,” tutur Surawit. Itu karena kandungan kalsium oksalatnya. Banyak pula tanaman lain bahkan yang dapat dimakan yang mungkin mengandung racun. “Jenis singkong saja ada yang beracun. Namun, tergantung interaksi kita dengan tanaman, tidak perlu dimusnahkan tanamannya,” kata Greg. Dengan proses pengolahan yang benar, racunnya bisa hilang atau dinonaktifkan sehingga aman untuk dikonsumsi.

Lebih lanjut pria yang kerap melakukan eksplorasi ke hutan-hutan di Indonesia itu menyampaikan kita tidak boleh bersikap berlebihan dalam menyikapi sesuatu hal yang belum jelas. Tanaman seperti dieffenbachia, kecubung, dan Nerium oleander juga memang ada kandungan senyawa yang bersifat racun. Namun, sebagai tanaman hias itu tidak berbahaya. Kecuali memang jika tertelan atau termakan. “Seperti racun yang tersimpan dalam botol, tidak berbahaya jika botolnya tidak dibuka lalu racunnya diminum, itu pun baru bisa berbahaya jika kadarnya tinggi,” kata Greg memberi ilustrasi.

Gregori Garnadi Hambali, pakar Botani dan penyilang tanaman hias di Bogor, Jawa Barat.

Gregori Garnadi Hambali, pakar Botani dan penyilang tanaman hias di Bogor, Jawa Barat.

Bahkan sebuah riset di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Jember menunjukkan potensi penggunaan daun kecubung untuk membasmi larva nyamuk Aedes aegypti penyebab demam berdarah, memanfaatkan kandungan senyawa kimianya yang bersifat insektisida nabati. Menurut Greg di sinilah perlunya pengetahuan mengenai kegunaan dan sifat-sifat lain dari berbagai tanaman yang ada di sekitar kita supaya terhindar dari kepanikan-kepanikan yang tidak perlu karena informasi yang tidak utuh atau tidak akurat.

Namun demikian, prinsip kehati-hatian memang perlu dikedepankan. Sebuah riset oleh Maria Laura Colombo dari Departemen Sains dan Teknologi Obat-obatan, Sekolah Farmasi, Universitas Torino, Italia dan rekan-rekan dari Poison Control Center of Milan dan Milan Botanical Group, Natural History Museum menunjukkan dari lebih dari 1.000 kasus keracunan tanaman per tahun sebanyak sepertiga kasus melibatkan anak-anak sampai usia 4 tahun. Penyebabnya adalah kecelakaan atau ketidaksengajaan mengonsumsi tanaman di sekitar rumah.

Sebanyak 15% kasus terjadi pada orang dewasa yang tidak mampu untuk mendeskripsikan tanaman atau bagian tanaman yang dimakan. Kasus lain melibatkan orang dewasa yang tidak mampu atau bingung membedakan apakah tanaman itu bisa dikonsumsi atau justru beracun jika termakan. Riset Maria merekomendasikan pentingnya mengidentifikasi tanaman berdasar nama latin dan nama umumnya sehingga mampu mengidentifikasi manfaatnya. (Evy Syariefa/Muhammad Fajar Ramadhan)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software