Tameng Dewi Sri Atasi Sundep

Filed in Inspirasi, Majalah by on 10/08/2019

Kehilangan hasil padi untuk setiap kenaikan 1% serangan penggerek batang 31,68 kilogram gabah kering panen (GKP) per hektare.

 

Beragam cara mengendalikan penggerek batang padi.

Mokhamad Muslim wawas tanaman padi di sawahnya seluas 7.500 m² puso. Pada Maret—April 2019 populasi klaper membeludak. Petani padi di Desa Tanjungrejo, Kabupaten Madiun, Provinsi Jawa Timur, itu. Kehadiran klaper di sawah menyebabkan kerugian hingga 80%.

Klaper yang dimaksud petani padi di Desa Tanjungrejo, Kabupaten Madiun, Provinsi Jawa Timur, itu. adalah serangga hama Scirpophaga innotata yang menggerek batang. Menurut petani sejak 1997 itu, penggerek batang paling berbahaya pada fase larva atau ulat. Menurut peneliti di Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Prof. Dr. Ir. Baehaki Suherlan Effendie, hama penggerek batang bisa menyerang pada masa vegetatif hingga masa generatif.

Bulir hampa

Serangan hama penggerek pada fase vegetatif disebut sundep (deadhearts). Akibatnya titik tumbuh tanaman muda mati. Gejala sundep tampak sejak 4 hari setelah larva menggerek batang padi. Larva penggerek kerap keluar masuk batang padi. Satu ekor larva hingga menjadi ngengat (serangga dewasa) dapat menghabiskan 6—15 batang padi.
Adapun serangan penggerek pada fase generatif disebut beluk (whiteheads). Gejala serangan hama berupa malai tanaman mati sehingga bulir hampa dan berwarna putih.Baehaki menuturkan, rata-rata kehilangan hasil padi untuk setiap kenaikan 1% serangan penggerek batang adalah 31,68 kilogram gabah kering panen (GKP) per hektare. Artinya jika serangan 10% maka kehilangan hasil mencapai 316,8 kilogram GKP per hektare. Itu setara dengan Rp1.267.200 bila harga gabah Rp 4000 per kilogram.

Padi terserang beluk (kanan) malai mati dengan bulir hampa, dan terlihat berwarna putih

<script async src=”https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js”></script>
<ins class=”adsbygoogle”
style=”display:block; text-align:center;”
data-ad-layout=”in-article”
data-ad-format=”fluid”
data-ad-client=”ca-pub-4696513935049319″
data-ad-slot=”5375540137″></ins>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script>

Menurut Rice Crop Manager FMC, Iman Segara, penggerek batang padi terdapat sepanjang tahun dan menyebar di seluruh Indonesia pada ekosistem padi yang beragam.  Intensitas serangan penggerek batang padi terparah pada tahun 1998. Serangan mencapai 20,5%, luas daerah yang terserang mencapai 151.577 hektare. Berdasarkan simulasi pada fase vegetatif, tanaman masih sanggup mengompensasi akibat kerusakan oleh penggerek sampai 30%.  Iman mengatakan, kerugian yang besar terjadi bila penerbangan ngengat bersamaan dengan saat tanaman bunting. Oleh karena itu, pengendalian hama penggerek menggunakan pestisida tidak dapat ditunda setelah ada penerbangan atau ambang batas serangan 10%.

Musuh alami

Menurut Baehaki teknologi tanam serempak dijamin berhasil dan akurat dalam menurunkan populasi hama dan penyakit. Turunnya populasi hama berdampak terhadap pengurangan input pestisida, atau pemakaian pestisida dapat ditekan minimal 50%. Cara itu efektif pada kawasan dengan luasan 1.000 hektare.

Menurut Baehaki hingga kini belum ada varietas padi yang benar-benar tahan penggerek batang. Musababnya belum ditemukan sumber gen ketahanan penggerek batang, baik pada padi maupun kerabat liarnya. Namun, petani bisa memilih padi yang memiliki sifat biokimia dan biofisik lebih tahan. Contoh sifat biokimia dapat berupa senyawa kimia berupa hormon tanaman atau metabolit sekunder seperti fenol, steroid, dan terpenoid yang pada kadar tertentu tahan terhadap serangga.

Adapun karakter biofisik berupa sifat morfologi tanaman yang dapat menghalangi terjadinya proses makan, peletakan telur, dan pergerakan serangga secara normal Misalnya terdapat rambut-rambut pada permukaan daun yang disebut trikoma dan glandular trikoma, duri, daun yang licin atau mengilap, dan lapisan lilin.

Peneliti padi di Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Prof. Dr. Ir. Baehaki Suherlan Effendie.

Menrut Baehaki pemanfaatan parasit menggunakan parasitoid telur dari famili Trichogrammatidea sebagai agen hayati dalam mengendalikan berbagai macam serangga Lepidoptera. Menurut doktor entomologi alumnus Institut Pertanian Bogor itu, parasitoid tidak akan berhasil bila tingkat parasitisme parasitoid baru mencapai 77,9%, karena 22,1% telur yang tidak menetas menghasilkan gejala sundep dan beluk yang tinggi.

Pengendalian menggunakan insektisida perlu memperhatikan ambang ekonomi. Baik saat fase vegetatif atau generatif. Direktorat Perlindungan Tanaman menetapkan ambang kendali berdasarkan kerusakan tanaman pada stadia vegetatif 6% dan pada stadia generatif 10%. Menurut Baehaki teknologi terbaru pengendalian hama penggerek batang padi perlu disesuaikan dengan harga gabah pada saat panen, yaitu segera dilaksanakan 4 hari setelah penerbangan ngengat yang dapat diketahui dari hasil tangkapan lampu perangkap.

Teknologi terbaru pengendalian hama penggerek tidak berdasar kepada intensitas serangan akibat larva, tetapi berdasar hasil tangkapan ngengatnya. Hasil kajian Baehaki di Jawa Barat dan Jawa Tengah menunjukkan bahwa bila pengendalian hama penggerek dilakukan setelah serangan maka hasil padi sudah turun sebelum pengendalian. (Muhamad Fajar Ramadhan)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software