Takhta Raja di 3 Kota

Filed in Topik by on 01/02/2010 0 Comments

Pantas durian bernama elsa—berasal dari nama cucu Hj Gipah—itu menjadi jawara lomba durian yang diadakan Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Jepara. Daging buah berwarna krem dan tebal, bijinya juga kecil. Dengan begitu porsi daging buah yang dapat dimakan lebih banyak. Tekstur daging buah kering dan lembut seperti susu. Rasa manis itu kian istimewa dengan campuran sedikit pahit yang khas.

Elsa menambah daftar durian andalan Gipah yang meraih juara kontes durian se-Jepara sejak 1986. Misalnya gipah 03 yang berjaya pada 1986 dan karti, juara ke-1 pada 2005. Gipah berwarna kuning mentega, berasa manis dan sedikit pahit. Bijinya berukuran sedang, tapi daging buah lumayan tebal. “Saya memang hanya mengontrak pohonpohon yang menghasilkan buah berkualitas,” tutur Gipah.

Gudang durian

Durian soqib dan norcholis asal Desa Rengging, Kecamatan Pecangaan, harus puas di posisi ke-2 dan ke-3. Kedua durian tersebut sebenarnya tak kalah enak dibanding elsa. Namun, “Juara ke-2 dan ke-3 didominasi manis, sementara porsi pahit sangat sedikit,” kata Tri Handono, kepala bagian hortikultura Dinas Pertanian dan Peternakan Jepara. Maklum, durian jepara identik dengan rasa pahit sehingga jika rasanya hanya manis dianggap tak sesuai dengan identitas kota kelahiran RA Kartini itu.

Pada hari yang sama perang raja buah juga berlangsung di Semarang. Lomba buah durian lokal unggulan Kota Semarang yang diselenggarakan Dinas Pertanian itu melahirkan 6 durian unggul. Posisi jawara diraih satria milik Teguh. Daging buah yang berasal dari pohon berumur 20 tahun itu manis, lembut, dan tebal meski berbiji besar. Sementara gatot yang menempati juara ke-2 kering dan agak pahit. Sayang, daging buah tipis dan biji besar sehingga porsi yang dapat dimakan sedikit.

Dua minggu berselang kontes durian kembali digelar. Lomba durian yang diselenggarakan pada 11 Januari 2010 oleh Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Pandeglang, Banten, itu diikuti 43 kontestan. Penilaian selama 3 jam akhirnya melahirkan 3 durian terbaik. Ke-5 juri sepakat menobatkan si radio milik H. Ahmad asal Kampung Gayam, Kecamatan Cadasari sebagai juara pertama.

Setara kerbau

Daging buah si radio berwarna kuning mentega. “Rasanya lembut, manis, dan pahit di ujung,” ujar Karjono, salah seorang juri. Durian yang berasal dari pohon berumur 150 tahun itu berdaging tebal dan berbiji sedang. Yang menarik, aroma buah tajam. Lantaran istimewa, Durian bulat dan berlekuk dengan bobot 3 kg itu pun jadi buruan para mania durian. “Durian tak pernah dijual hingga ke pasar karena sudah dipesan oleh pengusaha dan pejabat,” kata Mukhtar, staf hortikultura Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Pandeglang.

Pantas bila si radio berharga mahal. Pada 1947 saja pohon durian itu pernah ditebas dengan radio cap cawang yang harganya setara dengan seekor kerbau. Karena itulah ia dinamakan si radio. Sayang, kondisi pohon induk saat ini tak lagi sehat. “Musim ini saja hanya produksi 70 buah. Padahal pada 2005/2006 produksinya mencapai 700 buah,” ujar Mukhtar. Pihak terkait pun berencana menyelamatkan sang jawara dengan memperbanyak melalui okulasi.

Si seupah di posisi ke-2 pun tak kalah enak. “Dengan melihatnya saja sudah membuat orang ngiler,” kata dr Boyke Dian Nugraha, SpOG, MARS, yang juga mencicipi durian tersebut. Daging buah mirip dengan juara pertama: tebal dan lembut. Rasanya? Manis. Pantas bila buah asal pohon berumur 60 tahun itu jadi rebutan mania durian. (Rosy Nur Apriyanti/Peliput: A. Arie Raharjo)

 

Powered by WishList Member - Membership Software