Tahun Baru Jawara Baru

Filed in Satwa by on 01/02/2013 0 Comments

Menu sarapan sehat membantu Bureng raih gelar juara kelas rutinitas bunyi.

Waktu menunjukkan pukul 15.48 dan final kelas rutinitas bunyi pun dimulai. Tiga kandidat juara bernomor peserta 110, 276, dan 109 bersaing ketat. Ketiganya bersahut-sahutan memperdengarkan kokok yang mirip suara orang sedang tertawa.

Dua orang juri yakni Hanif dari Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur dan H Bastian asal Sulawesi Selatan pun sibuk menancapkan sebatang bambu kecil yang ujung atasnya diberi pita kuning ke dalam pot berdiameter 12 cm berisi pasir di bawah tiang tengger ketiga kandidat. Setiap kali ayam bersuara, satu bendera ditancapkan. Setelah total jumlah bendera kuning mencapai 10 buah, kedua juri lalu ganti menancapkan bendera pita merah.

Tepat pukul 16.03 final kelas rutinitas bunyi dalam kontes ayam ketawa di Plaza Kalibata, Jakarta Selatan, itu pun berakhir. Di pot di bawah tiang tengger peserta nomor 110 terdapat 3 bendera pita merah dan 6 bendera pita kuning. “Artinya ayam itu 36 kali bersuara,” kata H Bastian. Satu bendera merah bernilai 10; satu bendera kuning bernilai satu. Sementara peserta nomor 276 mendapat masing-masing 3 bendera merah dan 4 bendera kuning (34 kali bersuara). Kandidat lainnya (109), 3 bendera merah; 3 bendera kuning (33 suara). Bureng, ayam bernomor peserta 110, pun berhak menjadi juara.

Sarapan rimpang

Keandalan ayam ketawa milik Komarul Jamal itu sudah terlihat pada babak penyisihan. Bureng juga rajin berkokok sehingga mengumpulkan 35 poin (35 kali bersuara). Menurut H Bastian penilaian di kelas rutinitas bunyi yakni pada frekuensi alias tingkat keseringan ayam berkokok selama 15 menit. Semakin sering bersuara, semakin tinggi nilai yang diperoleh. Ayam yang dinilai minimal 2 kali bersuara dengan kualitas baik. Pada lomba kali itu babak penyisihan dilaksanakan dalam 2 tahap masing-masing diikuti 20 dan 15 ayam karena jumlah tiang tengger hanya 20 buah.

Gelar prestisius itu membuat Komarul Jamal senang sekaligus bangga. Harap maklum kontes itu lomba perdana yang diikuti ayam berumur 7 bulan itu. Oleh karena itu Komar tidak menargetkan Bureng juara. Lagipula tidak ada persiapan khusus mengikuti lomba. “Di rumah Bureng rajin sekali berbunyi. Kebetulan ada lomba, jadi saya ikut sertakan saja,” kata warga Ancol, Jakarta Utara, itu.

Menurut pria berumur 33 tahun itu kunci sukses Bureng pada perawatan rutin. Setiap hari Bureng mendapat menu sarapan berupa potongan kecil rimpang jahe dan kunyit. Pemberian kedua rimpang bertujuan menghangatkan tubuh ayam. Itu yang diduga membuat Bureng tetap fit meski pada saat kontes turun hujan dan berangin. Sosok Bureng pun sehat dan bebas kutu karena Komar rajin memandikan sang klangenan seminggu 2 kali menggunakan sabun antibakteri.

Selain kategori rutinitas bunyi, kontes ayam ketawa itu pun mempertandingkan kategori dangdut. Pada kategori ini terdapat 5 poin penilaian yaitu suara depan, tengah, akhir, irama, dan dasar suara. Suara depan berarti saat permulaan ayam dapat mengeluarkan suara yang dimiliki sekeras mungkin. Pada suara tengah yaitu saat pertengahan ayam mengeluarkan ketukan sebanyak mungkin.

Suara akhir berarti menjelang akhir waktu ayam mengeluarkan suara variasi koleksinya. Indikator irama ayam ditentukan dari panjang pendeknya ketukan. Sementara dasar suara mengacu pada suara depan, tengah, dan akhir yang melengking keras dan bertenaga sehingga menutupi suara lawannya.

Pemilik heboh

Final kategori dangdut dimulai pada pukul 16.23. Tiga belas finalis itu juga berasal dari 2 babak penyisihan. Suasana final dangdut begitu ramai. Sebab para pemilik memancing ayam miliknya agar bersuara. Cara mereka mengajak ayam koleksi bersuara pun bervariasi. Ada yang bertepuk tangan dengan irama tertentu, menjentikkan jari sambil menyebut nama ayamnya, dan mengatupkan kedua bibir sehingga menghasilkan suara khas. “Sebenarnya cara tersebut tidak diperbolehkan karena mengganggu tugas juri,” kata H Bastian.

Setiap kali peserta bersuara, maka diberi bendera kuning. Jika suara berikutnya berbeda dari sebelumnya juri memberikan bendera putih. “Artinya ayam layak mendapat nilai lebih tinggi lagi yang ditandai dengan pemberian bendera kuning merah,” kata H Bastian. Waktu menunjuk pukul 16.38 saat salah seorang panitia menyatakan final kategori dangdut berakhir.

Juri menobatkan Cingklung sebagai yang terbaik di kategori dangdut dengan total nilai 43. Ia bersaing ketat dengan Beker dan Baron yang memperoleh nilai 42,5. “Cingklung lebih unggul karena ketukannya stabil,” ucap H Bastian. Sama seperti jawara rutinitas suara, Cingklung pun baru pertama kali ikut kontes sekaligus menjadi juara. Keruan saja Khairullah, sang pemilik girang bukan kepalang.

Cingklung yang dibeli Rp7-juta itu mendapat perawatan baik. Setiap hari Muhammad Baim Munadhar, perawatnya, memberi pakan beras merah dan vitamin. Itu membuat kesehatan ayam terdongkrak. Menjelang lomba Baim memberikan vitamin yang berfungsi memperbaiki kualitas suara ayam.

Kontes ayam ketawa itu juga melangsungkan kategori slow. “Slow merupakan kategori bergengsi dalam kontes ayam ketawa,” ujar Zaenal, peserta asal Bogor. Pada kategori slow sistem penilaian kurang lebih sama dengan dangdut. Bedanya pada suara tengah ayam berbunyi 4 ketukan atau lebih secara merata hingga waktu berakhir.

Dari 14 finalis kategori slow, juri menasbihkan Jaguar sebagai pemenang. Jaguar mengungguli Pendekar andalan Zaenal yang meraih posisi 4. Padahal pada Juli 2012 Pendekar juara kategori slow di Gedung Olahraga Balai Rakyat Kecamatan Koja, Jakarta Utara. “Keunggulan Jaguar karena mampu menampilkan 3 ketukan secara stabil,” kata H Bastian. H Suhendra, sang pemilik, mengatakan tak ada perawatan spesial untuk Jaguar. Ia hanya memberikan campuran pur, jagung giling, dan beras merah sehari 2 kali pada pagi dan siang hari. Pria kelahiran Jakarta itu juga memberikan 5-7 jangkrik sebanyak 3 kali sepekan.

Kontes yang diselenggarakan oleh Ayam Ketawa Community Jabodetabek (AKCJ) itu diikuti lebih dari 60 peserta dari Jabodetabek, Semarang, Solo, dan Sulawesi Selatan. “Salah satu tujuan acara ini agar ayam ketawa diakui secara nasional seperti halnya ayam serama di Malaysia,” tutur Muhammad Ilham, ketua panitia. Selamat kepada para pemenang. (Riefza Vebriansyah)

Keterangan Foto :

  1. Jaguar milik H Suhendra kampiun kategori slow
  2. H Suhendra (bertopi) sukses memboyong 2 piala pada kategori slow
  3. Bureng klangenan Komarul Jamal raih peringkat 1 kategori rutinitas bunyi
  4. Cingklung asal Wonosobo kepunyaan Khairullah berjaya di kategori dangdut
  5. Kontes diikuti minimal 60 ayam ketawa dari berbagai daerah
 

Powered by WishList Member - Membership Software