Tahan Gempuran Bulai

Filed in Sayuran by on 02/05/2013 0 Comments

Produktif, bermutu, dimaui pasar, dan toleran penyakit.

Sejak beralih menanam jagung DK 95, produktivitas di lahan Riban meningkat 14%. Keruan saja pendapatan petani  di Dusun Karanggetas, Desa Goban, Kecamatan  Tawangharjo, Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah, itu juga terkerek signifikan. Riban memperoleh tambahan omzet Rp1,4-juta dari lahan setengah ha. Ia memanen 4 ton jagung di lahan seluas setengah ha. Padahal, selama 5 tahun menanam jagung di lahan yang sama, hasilnya maksimal 3,5 ton.

Artinya sejak menanam DK 95, produktivitas meningkat 500 kg. Riban mulai menanam DK 95 pada Desember 2012. Hingga Maret 2013, pekebun berusia 39  tahun itu baru satu kali panen. Saat panen pada Maret 2013, harga jual Rp2.950 per kg sehingga Riban memperoleh tambahan pendapatan Rp1.475.000.

Menurut Slamet Rahardjo, regional sales manager wilayah Indonesia timur PT Branita Sandhini—produsen DK 95—potensi produksi DK 95 mencapai 12 ton per ha. Sudah begitu, butiran jagung DK 95 besar dan mengilap, memadati tongkol dari pangkal hingga ujung. Bandingkan dengan jenis biasa yang menyisakan sekat-sekat kosong di tongkol. Selain itu, kualitas DK 95 juga bagus karena biji terisi sampai ke ujung tongkol. Tak heran pengepul lebih meminati hasil panen Riban. “Mereka tahu kualitasnya bagus, sehingga menjualnya pun mudah,“ tutur Riban.

Tanpa olah tanah

Sebelum menanam DK 95, Riban membandingkan dengan jenis jagung lain. Ia memang membagi lahan miliknya menjadi dua bagian masing-masing seluas 2.500 m2 untuk budidaya DK 95 dan jagung lain. Menurut Riban, jagung varietas lain memerlukan benih 5 kg per 0,25 ha. Namun, cukup 4 kg benih jika menggunakan DK 95.  Harga benih jagung DK 95 Rp 60.000 per kg. “Benih irit tapi hasilnya lebih tinggi. Tentu keuntungan berlipat,” ujar Riban. Ia juga menekan biaya dari perubahan metode tanam. Populasi DK 95 dan jagung lain sama, yakni 16.667 tanaman.

Selama ini, saat menanam jagung ketua Kelompok Tani Nedyo Jadi Makmur di Desa Goban, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan, itu menerapkan metode konvensional. Ia mengolah tanah melalui tiga tahapan. Mula-mula, ia membalik tanah dengan bajak sapi. Selang seminggu, Riban masih menggaru dua kali untuk meratakan tanah. Tiga hari berikutnya, saat tanah siap ditanami, Riban membenamkan sebutir biji jagung pada lubang tanam. Jarak tanam 75 cm x 20 cm. Namun, cara itu tidak praktis karena mahal dan lama.

Untuk membajak sehektar lahan butuh waktu 10—12 hari. Biaya per hari, untuk jam kerja 07.00—11.00, Rp30.000 atau total Rp300.000 selama 10 hari. Itu belum menghitung uang makan dan minum pembajak. Oleh karena itu, Riban kemudian menerapkan metode tanam tanpa olah tanah (TOT) sejak setahun lalu. Dengan metode itu, ia tidak perlu membajak lahan sehingga menghemat biaya olah lahan hingga separuh. Sistem TOT ini menggunakan herbisida untuk mematikan gulma, mengubahnya menjadi mulsa yang menjaga kelembapan dan struktur tanah.

Menurut ahli jagung dari Balai Penelitian Serealia (Balitsereal) Maros, Sulawesi Selatan, Ir A. Haris Talanca, penerapan metode TOT bergantung kondisi lahan. Jika tanah dalam keadaan kering atau penuh gulma, pengolahan tanah sempurna mutlak diperlukan. Pasalnya, pembajakan menggemburkan tanah sehingga memperbaiki aerasi. Sistem TOT tepat diterapkan di lahan bekas padi. Benih jagung memanfaatkan sisa pupuk dalam tanah untuk pertumbuhan. Menurut Herry Kristanto, corporate Affairs Lead PT Branita Sandini, petani yang menanam padi–jagung–jagung hanya perlu mengolah tanah sempurna setahun sekali, yaitu sebelum menanam padi. Untuk menanam jagung, petani cukup menyemprotkan herbisida lalu menugal tanah.

Toleran bulai

Benih DK 95 cocok di dataran tinggi dan toleran serangan penyakit daun dan busuk tongkol. Jagung DK 95 juga toleran bulai. Menurut Rahardjo, jika intensitas serangan bulai di varietas lain mencapai 100%, maka DK 95 maksimal terserang hanya 5—10%. Selain DK 95, PT Branita Sandhini juga berencana melepas DK 888 sebagai varietas unggul pada tahun ini. Menurut Herry Kristanto, DK 888 akan mendampingi varietas DK 979 yang sudah beredar di pasaran. Varietas DK 979 cocok dibudidayakan di lahan sawah. Adapun DK 888 untuk area bercurah hujan rendah. DK 888 relatif toleran kekeringan sehingga bisa ditanam di daerah gersang. “Jagung varietas unggul mampu hasilkan produksi antara 12–13 ton pipilan kering per hektar,” ujar Herry.

Nun di Purwakarta, Jawa Barat, PT East West Seed Indonesia (EWSI) juga melahirkan jagung secada yang tahan bulai. Menurut manajer produk PT East West Seed Indonesia (EWSI), Wakrimin, produktivitas secada mencapai 18—20 ton per ha. Secada tergolong jagung manis. “Saat ini, penanaman secada marak di Brebes dan Cirebon,” kata Wakrimin.

Bulai memang meresahkan petani. Daun jagung yang terserang menguning, kaku, dan sisi bawah dilapisi cendawan putih. Daun tak mampu lagi melakukan proses fotosintesis akibat rusaknya klorofil alias klorosis.  Lama-kelamaan menyerang titik tumbuh dan berakibat timbulnya spora cendawan pada setiap daun baru. Tanaman terganggu pertumbuhannya dan jika menyerang tanaman dewasa, tongkol tak berbiji.

Cendawan ini cepat menyebar sehingga pencegahan serangan harus dilakukan sedini mungkin. Haris menyarankan, dalam luasan tertentu, petani sebaiknya menyamakan jadwal penanaman. “Petani sebaiknya tanam serempak dengan selang 1—2 pekan antara penanaman pertama dan terakhir,” ujar Haris. Dengan demikian, cendawan tidak sempat berpindah ke lahan lain. Cara lain mencegah bulai dengan menanam varietas tahan bulai. Namun, jika telanjur terserang, musnahkan segera tanaman terserang.

Pada Juli 2008, luas serangan bulai jagung mencapai 708 hektar dan menyebar di Kecamatan Pare, Kecamatan Plemahan, dan Kecamatan Kayen Kidul, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur. Dari 708 hektar tanaman terserang, 201 ha gagal panen. Kerusakan itu setara 1.206 ton jagung pipil kering. Itu sebabnya, kehadiran jagung toleran bulai menjadi harapan bagi petani. (Kartika Restu Susilo)

 

FOTO:

  1. Herry Kristanto, metode TOT bisa diterapkan pada jagung
  2. Varietas jagung baru DK 888 (kiri) dan DK 95
  3. Secada jagung manis baru
 

Powered by WishList Member - Membership Software