Tabung Hujan, Tuai Lengkeng

Filed in Buah by on 05/09/2010 0 Comments

 

Setiap saluran air dilengkapi bak kontrol untuk mengontrol kualitas air. Bak kontrol juga dipakai sebagai penampung air sementaraSetiap pohon lengkeng dewasa butuh 10 liter air per hari. Artinya dengan 5 bulan kemarau dibutuhkan air sebanyak 6.000 m³. Dengan memanfaatkan gaya gravitasi air dialirkan dari waduk menggunakan pipa PVCLengkengMenurut Budi Dharmawan, Ketua Yayasan Obor Tani di Jawa Tengah, air kunci keberhasilan menanam lengkeng secara komersial. ‘Bila ingin panen kontinu sepanjang tahun, air mutlak ada setiap saat,’ tutur pelopor perkebunan lengkeng genjah dataran rendah itu. Jika tidak, lengkeng hanya panen 1 – 2 tahun sekali. Apalagi jika tanpa pemupukan. Itu seperti kondisi di sentra lengkeng lokal di Ambarawa dan Temanggung yang hanya mengandalkan kemurahan alam.

Desa Genting di perbatasan Temanggung dan Ambarawa secara agroklimat cocok sebagai sentra buah anggota famili Sapindaceae itu. ‘Hanya saja karena air tidak tersedia sulit mewujudkannya,’ kata Bambang Purwanto, kepala Desa Genting. Menyedot air untuk keperluan irigasi jelas tak mungkin karena berbiaya mahal.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Budi, yang bergiat di Yayasan Obor Tani mengemukakan ide cemerlang. ‘Buat saja waduk untuk memanen air di musim hujan,’ katanya. Ide itu bukan tanpa perhitungan. Curah hujan di Desa Genting – yang wilayahnya berupa perbukitan – sangat tinggi, 4.000 mm per tahun. Air sulit didapat karena ‘lari’ begitu saja di permukaan tanah, tidak meresap. Bulan basah selama 7 bulan, sisanya bulan kering.

Waduk penangkap

Yayasan Obor Tani lantas membuat rencana. Luas penanaman lengkeng ditargetkan 20 ha dengan populasi 4.000 tanaman. Kebun itu terdiri dari masing-masing 2.000 m2 lahan milik 100 pekebun. Hitung-hitungan Budi setiap tanaman lengkeng dewasa butuh 10 l air per hari. Artinya total jenderal setiap hari Dimocarpus longan di desa itu memerlukan 40.000 l air.

Dengan hitungan itu maka selama 5 bulan kering lengkeng butuh 6-juta l air alias 6.000 m3. ‘Untuk mengantisipasi penguapan dan risiko lain dibutuhkan waduk dengan kapasitas 7.000 – 8.000 m3,’ tutur purnawirawan Angkatan Laut itu. Maka dibuatlah waduk seluas 3.600 m2 dengan kedalaman 3,5 m di daerah tertinggi.

Caranya dengan mengeruk sebidang tanah miring. Tanah hasil kerukan lalu ditumpuk di sisi lain sehingga terbentuk cekungan yang dapat menampung air hujan. Tanah lalu dipadatkan agar tidak ambrol. Dasar dan tepi waduk dilapisi geomembran agar air tak meresap ke dalam tanah. ‘Cekungan inilah yang dipakai menangkap air hujan,’ kata Bambang.

Menurut Dr Ing Agus Maryono, ahli panen air hujan dari Magister Sistem Teknik, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, secara alami cekungan alam biasanya terbentuk di daerah yang rendah seperti lembah-lembah. ‘Dengan mencetak waduk buatan di daerah yang paling tinggi, maka pengairan ke lahan tidak membutuhkan pompa yang rakus bahan bakar,’ kata Agus.

Mulai berbunga

Agar waduk bisa mengairi lahan secara merata tanpa menimbulkan konflik di antara 100 pekebun, air dialirkan melalui pipa PVC utama, sekunder, dan tersier. Setiap pipa dilengkapi keran buka tutup. ‘Mirip dengan instalasi irigasi sawah yang bisa diatur,’ kata Rokhimun, pemimpin kebun Sentra Pemberdayaan Tani Genting.

Setelah waduk terbentuk, impian Bambang melihat Genting menjadi sentra lengkeng pun mulai mewujud. Empat ribu lengkeng itoh ditanam sejak 1,5 tahun silam. Itoh dipilih karena mudah diatur pembuahannya. ‘Dengan teknik perangsangan pupuk dan stres air, lengkeng bisa diatur panen setiap bulan,’ kata Bambang. Saat Trubus berkunjung ke sana di penghujung Juni 2010, beberapa tanaman mulai memamerkan bunga. Diperkirakan 2 – 3 tahun mendatang lengkeng berbuah massal.

Belakangan Bambang tak sekadar membuat waduk sebagai penangkap air hujan. Ia berencana membuat waduk itu sebagai kawasan agrowisata. ‘Karena terletak di tempat tinggi, pemandangan ke bawah terlihat indah dan menarik. Hamparan lengkeng terlihat jelas di bawahnya. Jadi bisa wisata waduk dan wisata kebun sekaligus,’ tutur Bambang. Setelah panen hujan, Genting pun bakal panen lengkeng dan duit. (Destika Cahyana/Peliput: Nesia Artdyasa)

  1. Setiap saluran air dilengkapi bak kontrol untuk mengontrol kualitas air. Bak kontrol juga dipakai sebagai penampung air sementara
  2. Waduk berkapasitas 7.000 – 8.000 m³ dibuat di titik tertinggi. Air pun bisa dialirkan ke lahan tanpa bantuan pompa yang rakus bahan bakar
  3. Setiap pohon lengkeng dewasa butuh 10 liter air per hari. Artinya dengan 5 bulan kemarau dibutuhkan air sebanyak 6.000 m³. Dengan memanfaatkan gaya gravitasi air dialirkan dari waduk menggunakan pipa PVC
 

Powered by WishList Member - Membership Software