Tabah di Jalur Agribisnis

Filed in Majalah, Profil by on 11/05/2016

Selama tiga puluh tahun Tatag Hadi Widodo menekuni agribisnis meski banyak aral.

Tatag Hadi Widodo selama 30 tahun menekuni dunia agribisnis.

Tatag Hadi Widodo selama 30 tahun menekuni dunia agribisnis.

Audaces fortuna iuvat. Nasib baik menolong mereka yang berani. Peribahasa latin itu persis pengalaman Tatag Hadi Widodo ketika perusahaan yang didirikannya, PT Hortimart Agrogemilang, roboh pascakrisis moneter. Alih-alih memberhentikan ratusan karyawannya, Tatag justru memotret berbagai tanaman hias milik orang lain—saat itu tak tahu namanya—menjadi bahan katalog.

Belakangan ia tahu nama tanaman hias itu antara lain lidah mertua Sansevieria laurentii, S. hahnii, palem waregu Raphis excelsa, dan hanjuang Dracaena fragrans. Ketika nilai rupiah terpuruk, semula 1 US$ setara Rp2.500 melambung hingga Rp15.000, Tatag melihat peluang besar. Ketika itu banyak importir yang mendatangkan tanaman hias dari Indonesia antara lain karena saking murahnya.

Ekspor tanaman hias

Belajar budidaya pertanian di berbagai negara.

Belajar budidaya pertanian di berbagai negara.

Itulah sebabnya Tatag Hadi terbang ke mancanegara, yakni Jepang, Tiongkok, Korea Selatan, Jerman, dan Belanda. Alumnus Ilmu Tanah Universitas Brawijaya itu menawarkan tanaman-tanaman hias itu bermodal katalog bikinan sendiri. Ia juga mengikuti pameran. Dari sanalah permintaan beragam tanaman hias itu mengalir deras. Tatag Hadi pun bermetamorfosis dari pebisnis bibit tanaman buah berubah menjadi eksportir beragam tanaman hias.

Ia melayani berbagai permintaan tanaman hias itu hampir setiap pekan. Tatag mengumpulkan beragam tanaman hias dari petani di berbagai sentra seperti Blitar dan Malang, Provinsi Jawa Timur. Importir memerlukan hanjuang sepanjang 60 cm, tanpa daun. Tatag lalu melilin bekas potongan itu untuk menjaga respirasi tanaman dan serangan cendawan. Ekspor perdana ke Tiongkok 1 kontaniner 20 feet berisi 2.800 hanjuang.

Tatag Hadi menawarkan tanaman hias ke berbagai nurseri di mancanegara.

Tatag Hadi menawarkan tanaman hias ke berbagai nurseri di mancanegara.

Ratusan karyawan PT Hortimart itu tetap dapat bekerja untuk menangani ekspor beragam tanaman hias. Permintaan tanaman hias terus meningkat dari negera-negara di Asia timur dan Eropa. Kerap kali dalam sebulan Tatag mengirimkan 5—7 kontainer. Tatag mengatakan, Tiongkok saat itu—pada 2001—2002 membuka pintu lebar-lebar. Tatag pernah mengirimkan palem raja ke negeri itu sepanjang 12 meter dengan media tanah.

Padahal, lazimnya media tanah dan pasir terlarang. “Saat itu istilahnya sampah pun diterima,” kata Tatag. Jika ekspor ke Tiongkok, tanaman dari petani bisa langsung dikirim, ekspor ke Belanda butuh penanganan khusus. Negeri Kincir Angin itu lebih selektif, menginginkan media serbuk sabut kelapa. Tatag juga mesti menata tanaman seperti palem waregu di pot agar kompak.

Tatag Hadi membudidayakan kale dengan teknologi hidroponik.

Tatag Hadi membudidayakan kale dengan teknologi hidroponik.

Itulah sebabnya ia membesarkan 3—4 bulan tanaman-tanaman dari berbagai sentra itu untuk memenuhi pasar Belanda yang begitu besar. Palem waregu memang komoditas andalan ke pasar Belanda. Dalam setahun Tatag hanya mampu mengirim 20 kontainer ke seorang pembeli. “Itu hanya memenuhi 20% permintaan,” kata ayah tiga anak. Padahal, di Belanda ada puluhan pembeli.

Tatag mengatakan permintaan tanaman hias dari Belanda terus mengalir karena begitu tanaman rusak langsung dibuang. Membeli tanaman baru lebih ekonomis daripada menggaji seorang perawat tanaman. Eksportir itu mengatakan harga jual tanaman di pasar ekspor seperti waregu sejak 2002 hingga kini relatif tetap. Nilai jual 1 kontainer palem waregu saat ini setara Rp300-juta. Namun, devaluasi nilai rupiah menyebabkan nilai itu tetap naik.

Setekan kamboja untuk memasok pasar Jepang.

Setekan kamboja untuk memasok pasar Jepang.

Volume ekspor waregu ke Belanda saat ini rata-rata 1 kontainer 40 feet per bulan. Di nurserinya tampak ratusan pot palem waregu berjajar-jajar. Di bagian lain ada simbar menjangan Platycerium sp, paku sarang burung Asplenium nidus, melati Jasminum sambac untuk memenuhi pasar ekspor. Importir Jepang menginginkan simbar menjangan setinggi 30 cm terdiri atas 6 daun. Pendapatan dari ekspor simbar menjangan itu Rp300-juta per bulan.

Teknologi hidroponik
Sejak 2014 Tatag juga melirik teknologi hidroponik untuk membudidayakan beragam sayuran seperti kale dan tomat. Tatag mampu memasok kale ke pasar Jakarta hingga 150 kg per bulan dengan harga Rp75.000 per kg. Ia mengembangkan kale di Jakarta di lahan 2.000 m², Surabaya (500 m²), dan Malang (300 m²). Sementara Tatag baru memasok 200 kg selada per pekan dengan harga jual Rp50.000 per kg.

Sansevieria boncel untuk memenuhi pasar ekspor.

Sansevieria boncel untuk memenuhi pasar ekspor.

Dengan teknologi nirtanah itu Tatag juga mengembangkan tomat ceri. Produktivitas tomat ceri di Indonesia yang ditanam di tanah rata-rata 2—3 kg per tanaman. Tatag Hadi yang menanam tomat ceri di daerah berketinggian 6 meter di atas permukaan laut menuai hingga 5,5 kg per tanaman. Padahal, lazimnya tanaman anggota famili Solanaceae itu tumbuh di ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut.

Tatag menanam tomat varietas super sweet itu di Desa Jemundo, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur. Petani itu mengadopsi teknologi hidroponik untuk membudidayakan kerabat terung itu. Dengan begitu ia mampu mengatur kebutuhan nutrisi tanaman dan kelembapan sehingga produktivitas pun membubung. Ia mempertahankan electrical conductinity (EC) 5 saat mendung, jika matahari terik EC di bawah 3.

Itulah buah “belajar” di farm tomat di Jepang, Belanda, dan Selandia Baru. Ia pernah sengaja datang ke sebuah farm ke Fukusima, Jepang, untuk belajar budidaya tomat. Petani di sana menghasilkan tomat bermutu tinggi sehingga memperoleh harga premium. “Kuncinya presisi. Petani di Jepang atau Belanda menggunakan pupuk bermutu tinggi, alat fertigasi juga bermutu,” ujar Tatag.

Suami Rum Hera Ria itu mengatakan bahwa pasar hidroponik sangat luas. Ia menghitung kebutuhan hotel, restoran, dan kafe di Jakarta dan sekitarnya yang memerlukan selada hingga 40 hektare. Menurut perhitungan Tatag luas penanaman selada Jakarta dan sekitarnya baru 8 ha. Dengan keberhasilan 60% maka produksi selada hidroponik baru memenuhi 10% untuk memasok pasar Jakarta.

Itulah sebabnya Tatag kini juga berbisnis membangun farm hidroponik. Ia membantu kolega sejak mencari lahan, membelikan lahan, membangun, sampai memasarkan produk. Tatag rata-rata membangun 1,5 ha per tahun dengan luas sebuah greenhouse minimal 650 m² dan terbesar 3.200 m². “Salah satu kesulitan pertanian kita adalah penguasaan lahan, harga mahal, dan lokasi jauh,” kata Tatag yang menyelenggarakan pelatihan hidroponik bagi masyarakat perkotaan. Dampaknya hidroponik menjadi pilihan sebagian besar masyarakat perkotaan.

Agrowisata

Paku sarang burung Asplenium nidus.

Paku sarang burung Asplenium nidus.

Kini ia berkonsentrasi membangun agrowisata di Hambalang, Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, seluas 9 hektare. Di sana ia menanam beragam buah eksklusif seperti kurma, lengkeng merah, delima merah, tin, dan durian musang king di bawah bendera PT Agro Duasatu Gemilang yang didirikan dengan modal Rp3-miliar. Tatag membangun perusahaan itu menjelang abad ke-21.

Lokasi agrowisata itu melengkapi delapan farm milik Tatag yang tersebar di Jakarta Selatan, Banten, Surabaya, dan Malang. Itu bukti Tatag tetap konsisten di jalur agribisnis dalam tiga dekade terakhir. “Saya melakukan dengan senang hati,” kata Tatag. Ia bukannya tak mencoba bidang lain. Ayah tiga anak itu pernah berbisnis mebel. Sayang, ketika harga kayu jati melambung hingga Rp8-juta semula Rp3-juta per m3 pada 1999, ia menutup usaha itu.

Pria kelahiran 17 Agustus itu juga pernah berbisnis musik sebagai distributor dari perusahaan rekaman pada 1987—1990. “Beli kaset itu harus tahu apakah lagu-lagu dalam kaset itu bakal hit atau tidak. Kita harus tahu musik, selera masyarakat,” kata penggemar musik itu. Namun, bisnis itu akhirnya berakhir setelah tiga tahun. Jalan hidup Tatag memang di jagat pertanian. Seperti doa orang tuanya yang memberi nama Tatag (dalam bahasa Jawa berarti tabah), ia pun setia di jalur itu meski banyak aral menghadang. (Sardi Duryatmo)

Tags: ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software