Susu Padat Sarat Manfaat

Filed in Laporan khusus, Majalah by on 08/07/2019

Keju berasal dari susu yang dipadatkan sehingga tinggi protein dan kalsium.

 

Keju sumber protein dan kalsium.

Kue keju salah satu olahan keju yang digemari anak-anak dan orang dewasa.

Keju kerap menjadi bagian menu makan siang dan malam Patricia Grolier. Wartawan asal Prancis itu lazim menyantap keju dengan roti. Penganan berbahan keju seperti cheese cake pun salah satu kegemaran Patricia. Bisa dibilang keju makanan harian ibu 3 anak itu dan warga Prancis lainnya. Tidak heran jika negara itu menjadi konsumen terbesar keju di Eropa yang mencapai 26,7 kg per orang per tahun pada 2016.

Bandingkan dengan tingkat konsumsi keju Finlandia (25,6 kg per orang per tahun) dan Denmark (24,6 kg per orang per tahun). Adapun konsumsi per kapita keju Indonesia baru 0,1 ons per tahun. Ahli Ilmu Gizi Masyarakat, Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga, Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan, M.S., mengatakan keju terbuat dari susu yang dipadatkan. Oleh sebab itu, gizi keju lebih tinggi ketimbang susu.

Turunkan risiko

Ali Khomsan menuturkan, “Protein dalam keju bisa mencapai 20% per 100 g bahan, sedangkan susu sekitar 3%. Kalsium dalam keju 800 mg/100 g dan susu sekitar 350 mg/100 g. Sementara lemak dalam keju sekitar 20%”, kata Ali Khomsan. Selain sumber protein, keju pun sumber lemak. Ali Khomsan menganjurkan tidak memakan keju berlebihan. Idealnya konsumsi lemak harian 67 g.

Jadi, makanan harian masyarakat Prancis pun sebetulnya kaya lemak lantaran tingkat konsumsi keju relatif tinggi. Meski begitu tingkat kematian warga Perancis akibat penyakit kardiovaskular (gagal jantung dan strok) 3 kali lebih rendah dibandingkan dengan warga Amerika Serikat. Itulah yang disebut paradoks Prancis alias French Paradox.

Beberapa komponen bioaktif dalam keju bisa berbeda tergantung dari beberapa faktor seperti susu yang dipakai, cara pembuatan, dan jumlah lemak.

Yvette Soustre Ph.D dari gabungan perusahaan susu Perancis atau Centre National Interprofessionnel de l’Economie Laitière (CNIEL) menyatakan, kemungkinan keju berperan dalam French Paradox. Dengan kata lain keju berfaedah mencegah naiknya faktor risiko penyakit kardiovaskular seperti hiperkolesterolemia. Beberapa penelitian mendukung dugaan Yvette.

Hasil riset Patterson E dan rekan dari Nutritional Epidemiology, Institute of Environmental Medicine, Karolinska Institutet, Stockholm, Swedia, menunjukkan, perempuan Swedia yang mengonsumsi lebih banyak keju memiliki risiko penyakit jantung 26% lebih rendah daripada perempuan yang memakan sedikit keju. Penelitian yang termaktub dalam The Journal of Nutrition itu melibatkan 33.636 perempuan Swedia berumur 48 hingga 83 tahun.

Penelitian meta analisis D.Hu dan rekan dari Intensive Care Unit, Qingdao Municipal Hospital, Qingdao, Tiongkok, mengungkapkan hubungan signifikan antara konsumsi keju dengan berkurangnya risiko terkena strok. Menurut anggota staf pengajar di Jurusan Gizi, Politeknik Kesehatan Bandung, Jawa Barat, Dr. Judiono, M.P.S., keju mengandung protein dan lemak tinggi.

Jadi, protein dalam keju juga berperan dalam perkembangan jaringan, sistem hormon, serta pertumbuhan dan perkembangan tubuh. Judiono mengamati keempat anaknya lebih tinggi daripada teman sebaya mereka yang tidak meminum susu. “Itu ada pengaruh keju yang dikonsumsi anak saya,” kata ayah empat anak.
Dokter di Jakarta Barat, dr. Soeklola, Sp. K.J., M.Si., menuturkan kalsium dan protein dalam keju lebih mudah diserap tubuh anak karena sudah terfermentasi. Soeklola menganjurkan anak berumur lebih dari 1 tahun yang mampu mencerna makanan padat jika ingin menikmati keju. Judiono mengatakan keju juga berhubungan dengan sistem kekebalan tubuh.

Perbaiki usus

Dr. Judiono, M.P.S., pengajar di Jurusan Gizi, Politeknik Kesehatan Bandung, Jawa Barat.

Keterlibatan probiotik pada keju meningkatkan kandungan asam amino. Selanjutnya asam amino meningkatkan sitokin antiinfalmasi IL10 yang diperlukan sistem imun tubuh. Nieta Prisillia Puspitasari pun menyajikan keju untuk anaknya yang memiliki kelainan jantung sejak lahir. Warga Yogyakarta itu memberikan keju ricotta ketika sang anak berumur 8 bulan. Keju itu bikinan Nieta karena dokter mensyaratkan produk olahan susu dan makanan lain tanpa pengawet, gula, dan garam.

Ketelatenan Nieta menyiapkan makanan untuk sang anak berbuah manis. Dokter menyatakan anak Nieta sembuh total dari penyakit kelainan jantung ketika berumur 1,5 tahun. “Sebetulnya dokter mengatakan jantung bocor pada anak saya bisa menutup sendiri atau tetap seperti semula,” kata Nieta.

Gizi makro, elektrolit, antioksidan, dan bakteri baik, hasil fermentasi efektif untuk pertumbuhan otot termasuk otot jantung. Judiono mengatakan, keju yang berprotein tinggi meningkatkan sistem imun sehingga mengurangi efek peradangan. Ia juga mengamati kini masyarakat mulai menyadari sumber protein juga berasal dari keju. Bukan hanya dari bahan makanan yang lazim dikonsumsi. (Riefza Vebriansyah)

Tags: , , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software