Sumber Kilang Baru: Sampah

Filed in Laporan khusus by on 01/04/2010 0 Comments

Setiap kali mengangkut sampah buah-buahan dari Pasar Induk Kramatjati, Jakarta Timur, Iswanto mendapat pertanyaan, “Untuk apa sampah diangkut pulang?” Jawaban dia selalu sama, “Sampah diolah menjadi bioetanol,” ujar Iswanto. Penanya tersenyum dan menganggap itu hanya gurauan sembari bergumam, “Memang sampah dapat dijadikan bioetanol?” Padahal, Iswanto serius: ia mengolah sampah-sampah pasar itu menjadi bioetanol atau etanol dari tumbuhan.

Trubus mengunjungi lokasi produksi bioetanol milik Iswanto di Sawangan, Kotamadya Depok, Jawa Barat, pada 6 Maret 2010. Di ruang seluas lapangan voli berjajar 100 drum plastik tertutup rapat. Di dalam drum berkapasitas masing-masing 100 liter itu berisi cairan fermentasi yang berasal dari sampah. Mula-mula ia mendatangkan sampah berupa buah jeruk, semangka, dan pepaya dari Kramatjati. Setiap pagi ia mengangkut 12 drum sampah ke lokasi produksi.

Kemudian Iswanto menggiling sampah-sampah itu termasuk kulit buah, tetapi secara terpisah. Artinya ia tak mencampur antara sampah jeruk dan semangka. Jeruk hanya digiling bersama jeruk. Cairan hasil penggilingan itu difermentasi selama minimal sepekan. Setiap drum hanya berisi satu jenis cairan buah. Jadi fermentasi cairan jeruk terpisah dengan semangka.

Permintaan besar

Ia menambahkan 9 keping ragi seukuran buah jengkol, 2 sendok makan Urea, dan 1 sendok makan NPK dalam 100 liter cairan fermentasi. Khusus cairan jeruk, alumnus STIE Perbanas Jakarta itu menambahkan air bersih dengan rasio 1 : 1. Meski Iswanto mengolah sampah, tetapi tak tercium aroma tak sedap. Selama 5,5 jam di sana Trubus juga tak melihat seekor lalat pun terbang. Malahan aroma jeruk yang tercium. Singkat kata meski mengolah sampah, lokasi itu tampak bersih.

Cairan fermentasi itulah yang ia suling menjadi bioetanol. Sulingan pertama menghasilkan bioetanol berkadar 45—50% yang layak sebagai bahan bakar kompor. Bila bioetanol sulingan pertama itu ia suling sekali lagi, maka diperoleh bioetanol 90%. Namun, Iswanto hanya sekali menyuling sesuai permintaan pengepul. Ia menghasilkan 80—100 liter bioetanol berkadar 50% per hari. Dalam sepekan produksi terhenti hanya pada Ahad, sehingga total produksi mencapai 2.400 liter per bulan.

Produksi itu mesti dibagi 2 untuk memenuhi permintaan 2 pengepul. “Permintaan lebih dari 4 kali lipat, tapi belum saya penuhi,” kata Iswanto. Ia tengah memperluas ruang produksi. Dengan harga jual Rp5.000 per liter, omzet Iswanto yang juga berprofesi sebagai guru aerobik itu mencapai Rp12-juta sebulan. Menurut dia biaya produksi Rp1.500 per liter. Rendahnya biaya produksi lantaran ia praktis tak membeli bahan baku. Laba bersih Iswanto dari perniagaan bioetanol mencapai Rp8,4-juta per bulan.

Bioetanol berkadar 50% memadai sebagai bahan baku kompor. Perannya menggantikan minyak tanah yang langka. Jika kadar etanol ditingkatkan minimal 80%, bahan bakar nabati itu layak mengisi tangki motor dan mobil. Iswanto bukan satu-satunya produsen bioetanol berbahan sampah. Budi Sunarto di Surakarta, Jawa Tengah, juga memproduksi bensin asal sampah setelah beberapa warga di sekitar Pasar Gedhe memprotes bau busuk.

“Kiriman buah ke Pasar Gedhe 30% pasti rusak,” kata Budi. Setiap hari setidaknya 1 ton buah masuk ke Pasar Gedhe, 3 kuintal di antaranya menjadi sampah akibat rusak karena menempuh jarak jauh. Itu belum menghitung kiriman buah dengan mobil bak terbuka atau truk. Buah yang rusak antara lain jeruk dari Brastagi, Provinsi Sumatera Utara, salak  (Sleman, Yogyakarta), dan semangka (Karanganyar, Jawa Tengah).

Unggul

Sebagai ketua rukun warga (RW), ia cepat bertindak dengan mengolah sampah menjadi bioetanol. Kini produksi bioetanol asal sampah itu mencapai 200 liter per hari. Budi memanfaatkan segala jenis sampah organik pasar termasuk sayuran. Warga Karangpandan, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, memanfaatkan bioetanol 50% sebagai bahan bakar kompor hasil kreasi Budi.

Harga kompor tanpa sumbu Rp35.000; dengan sumbu berbahan nilon, Rp45.000. Mantan atlet tae kwondo itu memanfaatkan nilon sebagai sumbu lantaran molekul bioetanol berkadar 50% tak mampu menembus sumbu kompor minyak tanah. Tinggi sumbu maksimal 5 cm atau 3 cm lebih pendek daripada sumbu kompor minyak tanah.

Dua tahun terakhir, Tumini (28 tahun), warga Karangpandan, menggunakan kompor bioetanol. Ia mengatakan bahwa penggunaan bioetanol sebagai bahan bakar lebih hemat. “Bioetanol 1,5 liter seharga Rp7.500 habis dalam 3—7 hari,” kata Tumini. Minyak tanah volume sama habis dalam 1,5 hari. Selain itu nyala api biru dan tak menimbulkan jelaga. Bahan bakar nabati itu juga lebih murah, hanya Rp5.000; minyak tanah, Rp10.000 per liter.

Di Mataram, Nusa Tenggara Barat, ada Heri Prasetya yang mengolah sampah pasar, air kelapa, buah jambumete, jerami padi, tangkai jagung, tangkai sorgum, dan bonggol jagung, menjadi bioetanol. Dari semua limbah dan bahan itu, rendemen air kelapa tertinggi: lebih dari 60% pada penyulingan pertama. Sedangkan rendemen jerami, tangkai sorgum, dan bonggol jagung berkisar 10%. Rendemen buah mete 35—40%, dari 1 kg limbah dihasilkan 0,5 liter bioetanol 75%.

Heri memproduksi 3.000 liter bioetanol sehari. Menurut Heri biaya produksi Rp3.100—Rp3.800 per liter. Harga jual Rp6.500/liter kepada pekebun tembakau.

Menurut Prof Dr Bambang Prasetya, wakil Indonesia pada Simposium Teknologi Biorefineri Asean-Korea, Indonesia menjadi pusat biokilang. Harap mafhum Indonesia mempunyai banyak sumber bioenergi. Lihat saja Ir Nurhatika MP dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang mengolah beragam sampah seperti limbah tahu, kulit pisang, kulit dan bonggol nanas menjadi bioetanol. “Bahan-bahan itu dipilih agar tidak berebut dengan kepentingan pangan,” kata Nurhatika.

Mengolah sampah menjadi bioetanol bagai sekali merengkuh dayung, dua-tiga pulau pun terlampaui. Efek domino yang positif pun terjadi: membantu mengatasi persoalan sampah kota, menghasilkan energi terbarukan yang ramah lingkungan, memperluas lapangan pekerjaan, sekaligus menambah pendapatan. (Sardi Duryatmo/Peliput: Argohartono Arie Raharjo & Nesia Artdiyasa)

Keterangan foto

  1. Pengolahan sampah
  2. Pengiriman jarak jauh menyebabkan 30% buah rusak
  3. Penyulingan bioetanol selama 5—7 jam
  4. Fermentasi sampah jeruk minimal 7 hari
  5. Antonius Lulut Iswanto olah sampah jadi bioetanol
  6. Bioetanol kadar 50% sebagai bahan baku kompor
 

Powered by WishList Member - Membership Software